Kamis 06 Agustus 2020, 03:00 WIB

Pandemi, Momentum Mendayagunakan Inovasi

Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga | Opini
Pandemi, Momentum Mendayagunakan Inovasi

Dok. unair

PANDEMI panjang covid-19 telah memuramkan semua sektor kehidupan. Perekonomian hancur, ekspor melorot, pendapatan negara anjlok, dan sebaliknya utang meningkat untuk menutup defisit neraca perdagangan.

Bahkan, negara yang selama ini dikenal kuat secara ekonomi, seperti Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong, sudah resmi menyatakan memasuki resesi. Berarti dua triwulan pertama 2020 tumbuh negatif dan belum ada prospek triwulan berikutnya akan mentas resesi.

Demikian juga di sektor pendidikan. Sudah lima bulan sekolah dan kampus ditutup dari aktivitas pembelajaran offline. Upaya untuk menutupi dengan menggunakan metode pembelajaran online masih banyak menemui kendala, baik pada jaringan infrastruktur, bandwidth, minimnya anggaran, maupun kesulitan lokasi geografis.

Benar bahwa sekarang marak model seminar online atau webinar. Namun, efektivitasnya dirasakan masih kalah jauh jika dibanding dengan model seminar tatap muka atau offl ine. Demikian juga jika model pembelajaran tatap muka, jika hendak digeser menjadi pembelajaran online, secara nasional masih jauh dari kesiapan.

Dalam situasi seperti ini, apa yang bisa diharapkan dari para akademisi dan periset, khususnya mereka yang sudah pada level doktor dan guru besar?

Akademisi di kampus mengemban tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi: mendidik dan mengajar, riset, dan pengabdian masyarakat. Dalam situasi normal, para akademisi dan periset menggelar penelitian berdasarkan usulan dan perencanaan yang disusun tanpa ketergesaan.

Riset fitofarmaka tentang manfaat zat aktif dalam kandungan jahe merah bagi pengobatan herbal, misalnya, disusun dengan perencanaan dan tahapan yang matang tanpa ketergesaan.

Namun, dalam situasi pandemi covid-19 yang luar biasa ganas hingga sudah menelan korban ratusan ribu di seluruh dunia, mendadak bermunculan berbagai riset.

Ada riset pengembangan vaksin covid-19, riset pengembangan obat malaria untuk dijadikan obat bagi covid-19, riset pengembangan ventilator, riset permodelan untuk membuat perkiraan lama, dan berakhirnya epidemi.

Lalu, riset pengembangan model tes cepat non-antibodi, riset yang mendasarkan pengamatan pada autopsi jenazah pasien covid-19, dan sebagainya. Semua riset dadakan ini seolah perlombaan dengan fokus tunggal: bagaimana secepatnya bisa mengatasi dan mengakhiri pandemi covid-19 ini.


Riset cepat covid-19

Kita lihat, misalnya, yang dikerjakan Mary Fowkes dari Mount Sinai Health, Amy Rapkiewicz memimpin tim autopsi New York University Langone Health dan Richard Van Heide di New Orleans. Ketiganya ialah patolog alias ahli tentang penyakit. Di tempat berbeda, ketiganya mengautopsi ratusan jenazah covid-19 dan memeriksa dengan teliti organ-organ vital dari yang diautopsinya.

Hasilnya, mereka sama-sama menemukan sesuatu yang janggal, yaitu pada organ-organ vital pasien covid-19 ditemukan terjadinya penggumpalan darah yang hebat. Misalnya, pada paru-paru dipenuhi mikrolot (zat penggumpal darah) sehingga saluran oksigen tertutup dan pasien gagal bernapas.

Sesak napas hebat inilah gejala yang paling tampak pada pasien kritis covid-19 sehingga ventilator pun gagal berfungsi. Para periset di AS yang mengautopsi jenazah, akhirnya mendapatkan temuan baru mengapa pasien covid-19 meninggal karena saluran napasnya buntu tersumbat penggumpalan mikrolot. Riset autopsi ini bisa dikatakan dadakan karena covid-19 bukan sesuatu yang sudah lama direncanakan.

Kita lihat juga contoh yang di Indonesia. Para periset Universitas Indonesia dengan cepat menciptakan ventilator transpor lokal dengan diberi nama Covent-20. Periset dari ITB bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unpad mengembangkan ventilator portable yang diberi nama Vent-I. Para periset UGM, Unair dan Unram berkolaborasi mengembangkan uji diagnostik cepat (rapid diagnostic test) yang akurat, cepat, dan murah, diberi nama RI-GHA, dan masih banyak temuan lainnya.

Semua itu dihasilkan dari proses riset dan pengembangan (R&D) yang dadakan. Gara-gara epidemi yang kemudian meningkat jadi pandemi ganas, para akademisi dan periset itu tertantang untuk maju dalam ajang ‘perlombaan dadakan’, dengan tujuan untuk menghasilkan apa pun yang bisa mengatasi, mengobati, dan mengakhiri pandemi covid-19.

prosedurnya tidak seperti biasanya saat normal, tapi serba dadakan dan cepat (rapid research) karena dikejar waktu untuk segera menghasilkan temuan praktis, agar korban tidak makin banyak berjatuhan. Meskipun dadakan dan dikejar waktu, para periset itu tetap menggunakan metode dan kaidah ilmiah serta disertai kode etik, agar hasil inovasinya aman secara medis dan mendapatkan sertifi kasi dari lembaga medis.

Setelah dinyatakan aman dengan sertifikasi medis, kemudian bekerja sama dengan pabrikan untuk diproduksi secara massal. Dengan demikian, berbagai inovasi tadi bisa segera diterapkan untuk membantu mengatasi serbuan covid-19 ini.

Situasi krisis selalu bermakna ganda. Di satu sisi, krisis memakan korban banyak pihak, tetapi di sisi lain juga mendatangkan peluang.

Krisis moneter pada 1997-1998, misalnya, mengempaskan perekonomian nasional, bahkan pemerintahan pun tumbang. Namun, di sisi lain, para eksportir komoditas dan para profesional yang dibayar dengan dolar menjadi kaya mendadak. Saat itu juga merebak usaha kecil baru yang menjadi inovasi dadakan karena tuntutan keadaan, tetapi malah menjadi penyelamat ekonomi nasional.

Demikian juga, krisis yang diakibatkan covid-19. Inilah pandemi paling ganas di abad modern. Meski jumlah korban tidak sebanyak saat pandemi flu Spanyol di dekade kedua abad ke-20, pandemi covid-19 ini luar biasa cepat penularannya, menyerang lebih dari 200 negara hanya dalam waktu tiga bulan, padahal sekarang dunia kedokteran jauh lebih maju ketimbang pada awal abad ke-20.

Di sisi lain, para akademisi dan periset tidak tinggal diam, ikut gotong royong dengan komponen warga lainnya untuk ambil peran.

Bermodalkan ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan dipadu dengan kepekaan sosial, mereka ini bergerak cepat merespons wabah.

Bergumul dengan sampel organ jenazah, mengutak-atik perkakas dan mesin, dan membuka laptop mencari referensi sehingga menghasilkan pelbagai temuan dan inovasi.


Pemanfaatan oleh pemerintah

Contoh di atas menggambarkan bagaimana para akademisi dan periset bisa mengambil peran dengan cepat dan tepat di saat pandemi.

Kondisi memungkinkan jika akademisi dan periset sudah mencapai taraf tertentu. Misalnya, di tingkat mikro pengetahuan dan keterampilan teknisnya sudah memadai sekaligus di tingkat makro sudah memiliki wawasan luas interdisipliner, serta memiliki kemampuan bekerja sama dengan akademisi lain lintas disiplin, bahkan lintas lembaga.

Mekarnya inovasi di banyak perguruan tinggi, lembaga riset, serta ilmuwan perorangan mestinya disambut hangat sebagai bukti kita punya refleks bagus mencari sisi positif dari keadaan buruk saat ini.

Bila di level riset keberhasilan suatu inovasi sudah tampak, semestinya negara perlu hadir lebih dekat, yakni membantu hasil- hasil riset ilmuwan Indonesia itu dalam menembus birokrasi verifikasi dan pengujian, agar bisa segera dimanfaatkan secara praktis dalam skala ekonomi atas pandemi yang sedang berlangsung. Rapid research results need rapid bureaucratic response. Jangan sampai kita lebih terpesona hasil inovasi sejenis dari negara asing karena hanya tinggal beli (impor).

Keberpihakan pada hasil riset nasional ini perlu diperkuat, agar bisa menimbulkan multiplier effect industrial yang turut menyemangati dunia ilmiah dan rakyat kita.

Peran nyata pemerintah untuk mempertemukan berbagai stakeholders hasil riset inovatif (perguruan tinggi, lembaga riset, rumah sakit, dunia industri, dan pemakai akhir) inilah yang perlu diperkuat di masa pandemi ini.

Perlu digarisbawahi, meskipun berlangsung cepat, berbagai hasil riset merespons covid-19 ini bukanlah proses dadakan. Melalui pergumulan akademis dan rekam jejak sebelumnya, para periset ini memiliki pengetahuan, keterampilan, pola pikir, dan kemampuan kognitif dan psikomotorik yang memungkinkan untuk merespons cepat peristiwa pandemi.

Mereka segera menyusun konsep riset yang terfokus, kemudian mengeksekusinya dalam rentang waktu yang lebih pendek ketimbang pada situasi normal.

Pengetahuan, keterampilan, pola pikir, dan kemampuan kognitifpsikomotorik ini jika digabung menjadi satu kata: kompetensi. Inilah yang menjadi dasar periset sehingga mampu menghasilkan temuan atau inovasi yang berguna, meskipun dalam waktu yang relatif mepet sekalipun. Inilah yang digambarkan sebagai Bloom’s Taxonomy, yaitu membangun pola pikir (mindset) yang inovatif, dimulai dari low order thinking hingga high order thinking.

Tahap low order thinking ini diawali dari belum tahu menjadi tahu, lalu menjadi mengerti, lalu bisa mendemonstrasikan apa yang dimengertinya itu, lalu mengerjakannya. Ini dikerjakannya bertahap, sekali, dua kali, puluhan kali, bahkan ratusan kali hingga matang kemampuan.

Kemudian memasuki fase high order thinking, yakni mampu menyusun dan mengembangkan konsep, menganalisis, menyintesiskan, dan memformulasikan dengan bagus sehingga menghasilkan temuan baru atau inovasi. Inilah levelnya para kreator.

Riset patolog Amy Rapkiewicz di atas ialah contoh level ini. Lewat autopsi jenazah, Amy akhirnya mampu mengungkap tabir mengapa kebanyakan pasien covid-19 mengalami gagal bernapas sehingga menyebabkan kematian. Mengapa Amy yang bisa menemukan dan membuka tabir ini? Mengapa para ahli patologi lainnya, termasuk di Tiongkok yang paling awal mengalami pandemi covid-19, belum ada yang mampu membuka tabir ini? Di sinilah barangkali faktor kompetensi bertemu dengan faktor sunatullah atau orang menyebutnya ‘keberuntungan’.

Barangkali sama dengan proses ketika Isaac Newton mengamati jatuhnya apel, menganalisisnya, kemudian menemukan hukum gravitasi. Kompetensi ialah ranah profesional, sedangkan sunatullah ialah ranahnya Tuhan.

Bisa jadi seseorang memiliki kompetensi, tetapi belum tentu mampu menemukan inovasi karena belum bertemu dengan faktor ilham sunatullah.

Dengan demikian, semua hasil temuan riset yang dicontohkan di atas, baik yang dilakukan periset asing maupun periset kita, merupakan resultante dari faktor kompetensi profesional dan faktor sunatullah.

Semoga ini bisa menambah dorongan bagi rekan-rekan sejawat agar terus meneliti dan meneliti, menemukan sesuatu hal baru yang bermanfaat untuk kemajuan dan kemaslahatan umat manusia di kolong langit ini.

Baca Juga

ANTARA/Dok. Duta Besar Tiongkok

Titik Awal Baru, Perjalanan Baru

👤Xiao Qian Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia 🕔Rabu 30 September 2020, 03:30 WIB
REPUBLIK Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 2020 merayakan hari jadinya yang...
Dok> Pribadi

Asuransi Mutual, Untung dan Rugi sama-sama Dibagi

👤Kapler Marpaung Dosen Program MM-Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada 🕔Rabu 30 September 2020, 03:10 WIB
Asuransi Bumiputera didirikan oleh Dwidjosewojo bersama temannya, MKH Soebrata dan Adimidjojo, saat diselenggarakan Kongres Guru Hindia...
MI/ROMMY PUJIANTO

Media Sosial dan Pendidikan Politik Perempuan

👤Ledia Hanifa A Anggota DPR RI Fraksi PKS Dewan Pakar DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Rabu 30 September 2020, 03:05 WIB
SALAH satu aspek penting dalam demokrasi ialah partisipasi politik. Angka partisipasi politik dapat menunjukkan tingkat legitimasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya