Rabu 05 Agustus 2020, 02:55 WIB

Tidak Ada Jalan Pintas Akhiri Pandemi

Faustinus Nua | Internasional
Tidak Ada Jalan Pintas Akhiri Pandemi

AFP
Direktur Jenderal  WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus

 

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa mungkin tidak akan pernah ada solusi cepat atau jalan pintas untuk mengakhiri pandemi virus korona baru.  Meski berbagai negara berlomba untuk menemukan vaksin, WHO mengatakan hal itu mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk vaksin yang efektif.

“Kita semua berharap memiliki sejumlah vaksin efektif yang dapat membantu mencegah orang dari infeksi. Namun, tidak ada solusi cepat saat ini dan mungkin tidak pernah ada,” kata Direktur Jenderal  WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Badan kesehatan PBB itu pun mendesak pemerintah dan warga negara untuk fokus melakukan dasar-dasar pencegahan, seperti pengujian, pelacakan kontak, menjaga jarak fisik, dan mengenakan masker. 

Hal itu penting saat ini untuk menekan pandemi yang telah mengubah kehidupan normal di seluruh dunia dan memicu krisis ekonomi yang cukup parah. Virus korona baru kini telah menewaskan hampir 690 ribu orang dan menginfeksi setidaknya 18,1 juta orang sejak wabah itu muncul di Wuhan, Tiongkok, Desember lalu.

Negara seperti AS, Tiongkok, dan Inggris telah melakukan investasi besar-besaran pada pengembangan vaksin covid-19. Sementara itu, pembatasan aktivitas masyarakat dan bisnis pun kembali diperketat di berbagai negara setelah munculnya gelombang baru virus mematikan tersebut.


Misi ke Tiongkok

WHO juga menyampaikan dua ahli kesehatan yang dikirim ke Tiongkok telah menyelesaikan misi mereka. Keduanya akan segera kembali ke kantor pusat organisasi kesehatan itu di Jenewa, Swiss.

“Tim itu bertujuan meletakkan dasar bagi upaya penelitian bersama lebih lanjut untuk mengidentifikasi asal virus yang melanda dunia,” kata Ghebreyesus.

Ia menjelaskan WHO telah menyusun kerangka dasar untuk studi lebih lanjut. Bersama para ahli kesehatan dunia, mereka akan memimpin penelusuran asal muasal virus itu dan bagaimana virus berpindah ke manusia.

Lebih lanjut, Ghebreyesus mengatakan studi itu akan dimulai dari Wuhan. Pasalnya, di wilayah itulah awal pandemi merebak. “Studi itu akan mengidentifi kasi sumber potensial infeksi dari kasus awal. Bukti dan hipotesis yang dihasilkan melalui karya ini akan meletakkan dasar untuk studi lebih lanjut,” terangnya.


Kasus di Iran

Kebocoran data dari dalam negeri mengungkapkan jumlah kematian yang disebabkan covid-19 di Iran ternyata hampir tiga kali lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan pemerintah. 

Menurut situs BBC Persia, terdapat hampir 42 ribu orang meninggal hingga 20 Juli, hampir tiga kali lipat dari 14.405 orang yang dilaporkan Kementerian Kesehatan Iran.

Jumlah infeksi juga jauh lebih tinggi, yaitu 451.024 berbanding 278.827 dari data pemerintah. Sumber anonim yang membagi data itu mengatakan tujuan mereka ialah menjelaskan kebenaran dan mengakhiri permainan politik atas pandemi tersebut. (AFP/Hym/X-11)
 

Baca Juga

AFP

Pemilu Ulang Kyrgyzstan Digelar Desember

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 18:06 WIB
Pemungutan suara sebelumnya dibatalkan karena kerusuhan yang berujung pada pengunduran diri oleh Presiden...
AFP/Eva Hambach

Lima Warga Korea Selatan Meninggal setelah Disuntik Vaksin Flu

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 15:39 WIB
Para pejabat bulan lalu mengumumkan rencana untuk mendapatkan 20% lebih banyak vaksin flu untuk musim dingin daripada tahun...
Dita ALANGKARA/POOL/AFP)

PM Jepang: Selesaikan Konflik Laut China Selatan secara Damai

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 15:25 WIB
Yoshihide Suga menekankan bahwa Jepang menolak semua tindakan dan gerakan yang meningkatkan ketegangan di Laut China...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya