Selasa 04 Agustus 2020, 10:13 WIB

PTBA Tak Berhenti Catat Prestasi di Tengah Pandemi Covid-19

mediaindonesia.com | Ekonomi
PTBA Tak Berhenti Catat Prestasi di Tengah Pandemi Covid-19

Ist
Kegiatan penambangan batu bara di PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

 

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus mencatatkan kinerja positif meski menghadapi tantangan berat di tengah pandemi yang melanda dan turunnya harga batu bara.

Terbukti pada 10 Juli 2020 lalu, perusahaan sukses menyebar dividen sebesar Rp 3,65 triliun  atau sebanyak Rp 326 per saham. Pembagian dividen ini berdasarkan prestasi yang ditorehkan PTBA untuk kinerja 2019 yang mencatatkan laba bersih hingga Rp 4,06 triliun.

Pembagian dividen tersebut mencapai 90% dari laba, ini merupakan dividen rasio terbesar dalam sejarah PTBA dan juga BUMN atau perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam 3 tahun terakhir, PTBA menyebar dividen di atas 70% dari laba yang diperoleh dengan rincian pada 2019 Rp 3,65 triliun atau 90% laba bersih Rp 4,05 triliun, pada 2018 Rp 3,76 triliun atau 75% dari laba Rp 5,02 triliun, pada 2017 Rp 3,35 triliun atau 75% dari laba Rp 4,47 triliun.

Selain dividen, PTBA juga berkontribusi menyetorkan royalti dan pajak sebesar Rp 4,83 triliun ke negara untuk 2019 lalu.

Perusahaan juga mengucurkan dana pertanggungjawaban sosial dan lingkungan (corporate social responsibility) sebanyak Rp 177,4 miliar pada tahun lalu. Dana disalurkan berupa program kemitraan dan program bina lingkungan.

Tahun ini, tantangan yang dihadapi PTBA lebih besar di tengah pandemi covid-19 dan terus turunnya harga batu bara.

Kinerja perusahaan tergerus 20,57% pada kuartal I-2020 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya karena dampak Covid-19 sudah mulai terasa di bulan Maret 2020.

Ini juga disebabkan oleh penurunan Indeks Newcastle sebesar 28% dan ICI-3 sebesar 16% dibandingkan Q1 tahun lalu.

Direktur Utama PT Bukit Asam, Arviyan Arifin, mengatakan kondisi operasional dan keuangan perusahaan masih positif hingga saat ini. Meskipun diterpa pandemi Covid-19, Ia perkirakan kinerja positif ini dapat bertahan hingga akhir tahun.

"PTBA memiliki sejumlah langkah strategis untuk menjaga kinerja di tahun ini, yakni dengan melakukan efisiensi dan perluasan pasar batubara sebagi langkah antisipasi penurunan permintaan di pasar ekspor eksisting," kata Arviyan.

"Terbukti dengan kinerja penjualan ekspor meningkat sekitar 20% hingga semester 1 ini dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pasar ekspor baru di antaranya adalah Thailand, Brunei Darussalam, Bangladesh, Pakistan, Kamboja, Filipina, dan lainnya," paparnya.

Bukit Asam Beyond Coal

Selain kinerja yang masih positif, PT Bukit Asam Tbk juga tidak berhenti bergerak maju dan membuat gebrakan. Sebagai perusahaan pelat merah, PTBA menyadari pentingnya kehadiran energi yang lebih ramah untuk masa depan.

Indonesia adalah negara yang memiliki batu bara berlimpah dan menjadi salah satu eksportir terbesar di kawasan Asia. Jika mengacu pada data Kementerian ESDM, cadangan batu bara RI per Januari 2020 mencapai 39,9 miliar ton. 

Mayoritas batu bara yang ditemukan di dalam negeri merupakan batu bara dengan nilai kalori rendah dan sedang (< 6.000 Kcal/Kg). Batu bara dengan nilai kalori rendah (< 4.100 Kcal/Kg) ini  dapat digunakan untuk pembuatan Dymethil Ether (DME) melalui proses yang disebut gasifikasi. 

Upaya gasifikasi ini ke depannya juga bisa digunakan untuk menekan angka impor LPG yang kian lama kian membengkak.

PTBA menjalankan proyek gasifikasi sesuai amanat Presiden Joko Widodo, proyek ini tak hanya akan menghasilkan DME saja tetapi juga methanol. Untuk gasifikasi ini PTBA menggandeng banyak pihak, seperti Air Product, Pertamina, Lemigas, Tekmira, dan lainnya.

Proyek DME Bukit Asam saat ini dalam tahap uji laboratorium dan uji terapan. Penghitungan juga terus dilakukan sesuai dengan regulasi pemerintah untuk mencapai harga keekonomian.

Selain gasifikasi, proyek yang dijalankan perusahaan dan tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19 adalah pembangunan PLTU Sumsel 8. Kini, pembangunan telah mencapai 48%. Pembangkit listrik ini diharapkan bisa beroperasi atau commercial operation date (COD) paling lambat awal 2022.

Pengembangan renewable energy sebagai bagian dari inisiatif beyond coal juga sudah terealisasi dalam bentuk PLTS. Proyek ini bekerja sama dengan AP2 dengan kapasitas 241 KWp yang berlokasi di Bandara Soekarno Hatta  dan sudah mengantongi ULO (uji laik operasi). (OL-09)

 

 

 

Baca Juga

Ist

Tetap Positif di Masa Krisis, TASPEN Raih Penghargaan idAAA

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 03:20 WIB
Peringkat idAAA mencerminkan karakteristik kesehatan keuangan yang terbaik karena idAAA adalah peringkat tertinggi atas kesehatan keuangan...
ANTARA

Tepat Memilih Masker saat Pandemi

👤MI 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 00:30 WIB
AKTIVITAS di era new normal selama masa pandemi coronavirus disease (covid-19) mengharuskan masyarakat menggunakan...
Dok. Pribadi

Buruh Diminta Ikut AKtif Membahas RPP UU Cipta Kerja

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 00:11 WIB
"Maka kami sebagai bagian dari kelompok aktivis buruh mengajak rekan-rekan kami yang lain untuk saatnya kita fokus pada pembahasan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya