Selasa 04 Agustus 2020, 07:06 WIB

Jalan Kesejahteraan di Perbukitan Petahunan

Lilik Darmawan | Nusantara
Jalan Kesejahteraan di Perbukitan Petahunan

MI/Lilik Darmawan
Warga Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jateng menikmati jalan desa yang mulus dibangun oleh progarm TMMD Sengkuyung.

 

DI jalanan yang menanjak, Casam, 46, sesekali mengusap keringatnya yang mengucur deras. Ia membawa hasil panenan dari sawah yang berada di lereng perbukitan Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah menuju ke rumah salah seorang penduduk. Dia memang menjadi buruh angkut panenan padi. Sebab, dari sawah yang berada di perbukitan tidak bisa diakses dengan sepeda atau kendaraan.

"Sudah puluhan tahun, saya menjadi tukang angkut panenan padi, karena sawahnya berada di lereng perbukitan. Ongkos angkutnya Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per karung. Satu karung, beratnya 40 kg. Padahal biasanya, yang panen tidak hanya satu karung saja, sehingga memang membutuhkan ongkos tambahan," ungkap Casam yang ditemui pada Minggu (2/8).

Tak hanya Casam, Wasdir, 50, juga harus memanggul hasil panenan, karena tidak ada pilihan lainnya. Dengan jalan setapak yang naik turun perbukitan, tidak mungkin dilalui dengan sepeda atau kendaraan bermotor. 

"Biasanya hanya ditempuh dengan jalan kaki. Dari sawah sampai tujuan, setidaknya memakan waktu sampai 30 menit. Itu kalau dengan beban padi hasil panen dengan bobot sekitar 40 kg," jelas dia.

Sebagai desa yang berada di perbukitan, Petahunan juga memiliki panorama yang indah. Bisa melihat sawah membentang luas dari salah satu tempat di lereng perbukitan. Bahkan, desa setempat memiliki wisata yang indah yakni Curug Nangga. Curug berarti air terjun, sedangkan Nangga bisa diartikan tangga atau bertingkat. Sebab, Curuh Nangga memiliki tujuh tingkat air terjun, sehingga telah dikelola menjadi salah satu destinasi wisata.

Sayangnya, orang yang ke Curug Nangga harus melewati jalan setapak sekitar 1 kilometer (km). Untuk berangkatnya tidak terlalu terasa, namun pulangnya dipastikan berat, karena jalannya menanjak. 

"Saya pernah sekali ke Curug Nangga, tetapi memang berat, karena jarus naik turun jika jalan kaki. Sebab, bagi orang setua saya bener-bener membutuhkan perjuangan untuk sampai ke Curuh Nangga. Indah memang air terjunnya," kata Sasmita, 57.

Apa yang disampaikan oleh Casam, Wadir dan Sasmita telah menjadi cerita lalu. Narasi itu sudah berakhir sejak pekan lalu. Hal itu dijawab dengan program Tentara Nasional Indonesia Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Reguler ke-108 Kodim 0701 Banyumas dengan merampungkan jalan yang menembus perbukitan sepanjang 1,8 km dengan lebar 3,75 meter. Jalannya beton, sehingga dapat dilewati kendaraan. Selama satu bulan, para prajurit TNI bahu membahu manunggal bersama rakyat membuat jalan  yang sangat vital  untuk warga Desa Petahunan.

Dorong Kesejahteraan

Dengan adanya jalan beton yang telah rampung dibangun, masyarakat mulai merasakan dampaknya. 

"Bagi saya, saat sekarang sudah dapat membawa panen kayu albasia dengan jalan yang enak. Kalau dulu untuk sampai ke rumah, membutuhkan waktu hingga 30 menit sekali jalan. Tetapi saat sekarang paling hanya 10 menit saja. Untuk membawa hasil panen padi, kini bisa langsung dengan sepeda motor tidak dipanggul seperti dulu. Jelas ini sangat menghemat pengeluaran petani. Jika empat kali angkut, maka ebutuhannya Rp100 ribu, namun sekarang paling hanya BBM satu liter saja," ┬Łujar Ratam, 56, warga setempat.

Kepala Dusun I Desa Petahunan Warsito mengatakan jalan telah dibangun memungkinan Curug Nangga lebih gampang diakses. 

"Kalau sebelumnya, untuk mencapai Curug Nangga harus jalan kaki dengan jarak sekitar 1 km. Tetapi saat sekarang bisa menggunakan kendaraan, meski agak jauh sedikit yakni 1,8 km. Namun, dengan jalan baru ini jelas lebih cepat sampai. Kalau sebelumnya, Curug Nangga identik dengan wisatawan muda, karena harus berjalan, kini lebih terbuka lagi. Mereka yang sudah tua atau anak-anak bisa sampai ke sini lebih mudah. Dan ternyata, para pesepeda juga sampai ke sini," ungkapnya.

Saat ditemui di Curug Nangga, Jumino, 56, warga Kelurahan Tanjung, Purwokerto Selatan dengan sepedanya sampai ke Curug Nangga. 

"Dulu, saya sudah mendengar indahnya Curug Nangga. Tetapi baru sekarang bisa sanmpai, lebih asyik lagi, saya naik sepeda. Saya yakin dengan jalan baru ini, maka akan semakin menjadi magnet bagi warga yang ingin berwisata di Curug Nangga," ujar Jumino.

Kepala Desa Petahunan Rohmat Fadli mengatakan bahwa dampak positif telah dirasakan warga, salah satunya adalah efisiensi pengangkutan hasil bumi. Petani, misalnya, tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos untuk pengangkutan hasil panen baik padi atau hasil bumi lainnya. 

"Dengan adanya jalan baru ini, maka kami berharap jumlah wisatawan yang datang akan semakin bertambah," terang Rohmat Fadli.

Rohmat menambahkan pengunjung akhir tahun baru sekitar 200 orang. Selama setahun pada 2019 lalu, jumlah pendapatan yang masuk mencapai Rp30 juta. 

"Mudah-mudahan ke depan, jumlah pengunjung bakal bertambah dan pendapatan akan meningkat. Dengan semakin meningkatnya jumlah pengunjung, maka akan berefek domino bagi warga sehingga bakal mendongkrak pendapatan mereka. Inilah tujuan utamanya, peningkatan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan bagi warga," ┬Łkata Kades.

Komandan Satgas TMMD Kodim 0701 Banyumas Letkol Inf Candra mengatakan bahwa program TMMD di Petahunan baik fisik dan non fisik rampung secara tuntas. Ia berharap agar masyarakat dapat memelihara dan mengoptimalkan pembangunan fisik dan non fisik yang telah dirampungkan. 

"Nanti, akan dipantau, sehingga hasilnya dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian di Desa Petahunan," kata Letkol Inf Candra.

baca juga: Dandim Klaten Tinjau Kegiatan TMMD Sengkuyung II

Pada TMMD Sengkuyung yang dilaksanakan di Desa Petahunan tersebut menelan anggaran  senilai Rp1,8 miliar yang bersumber dari TNI, pemkab, pemprov dan dana desa. Bupati Banyumas menyambut senang. 

"Kami sangat berterima kasih, karena dengan adanya TMMD telah mampu membuka akses jalan. Manfaatnya sangat besar, saya berterima kasih kepada TNI karena telah membuat terobosan," ujar Bupati Banyumas Achmad Husein.

Kini, warga Petahunan mulai merenda harapan dengan mengembangkan potensi wisata yang sungguh indah. Tidak hanya Curug Nangga, tetapi juga Watu Kumpul yang menjadi tempat untuk paralayang.  Sebuah harapan untuk kesejahteraan bersama. (OL-3)
 

Baca Juga

BIRO PERS SETPRES/LAILY RACHEV

Tol Pekanbaru-Dumai Diminati Investor

👤Ins/Pra/RK/X-11 🕔Sabtu 26 September 2020, 04:47 WIB
Minat investor untuk ikut mendukung pengembangan daerah harus direspons cepat sehingga pemerintah daerah dan masyarakat bisa mendapatkan...
Antara/Siswowidodo

Pabrik Rokok di Sumenep Ditutup karena Covid-19

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 September 2020, 02:25 WIB
Ini dilakukan setelah terdapat 94 karyawan yang positif terpapar virus korona jenis baru...
ANTARA/Iggoy el Fitra

1.100 Kamar Hotel di Sumut untuk Pasien Covid-19

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 September 2020, 00:55 WIB
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta penyediaan 1.100 kamar hotel di daerah itu untuk dijadikan ruang isolasi bagi pasien...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya