Selasa 04 Agustus 2020, 04:05 WIB

Gastrodiplomasi dan Diplomasi Kebudayaan

Darmansjah Djumala Diplomat senior, bertugas di Vienna, Austria, Dosen S-3 Hubungan Internasional FISIP Unpad, Bandung | Opini
Gastrodiplomasi dan Diplomasi Kebudayaan

Dok. Wikipedia

DEMAM webinar di masa pandemi covid-19 menjangkiti hampir semua lini profesi dengan beragam bidang bahasan. Tidak terkecuali bidang gastronomi, suatu ilmu dan seni yang melihat makanan tidak semata dari proses memasaknya, tetapi juga dari dimensi sejarah, fi losofi , dan latar budayanya.

Tema gastronomi ini pula yang diangkat IGA (Indonesian Gastronomi Association) bersama dengan Pusat Kajian Gastrodiplomasi Universitas Jember pada webinar 24 Juli lalu.

Dalam webinar itu dibahas strategi nasional diplomasi gastronomi Indonesia. Sebuah inisiatif yang patut diapresiasi. Diplomasi gastronomi beda dengan diplomasi kuliner.

Jika kuliner lebih menekankan pada proses masakmemasak dan seni menikmati makanan, gastronomi mempelajari dimensi sejarah, filosofi , dan latar budaya dari makanan. Karena ada dimensi sejarah, filosofi, dan budayanya, kelindan gastronomi dengan promosi budaya tak terhindarkan. Juga, karena mengandung elemen budaya, dalam khasanah diplomasi, gastronomi dimasukkan ke klaster diplomasi kebudayaan. Maka itu, dikenallah istilah gastrodiplomasi.

Awam memahami gastrodiplomasi merupakan upaya mempromosikan Indonesia di luar negeri dengan menggunakan instrumen masakan atau makanan khas Indonesia tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika kita sepakat gastronomi dan gastrodiplomasi itu mengandung nilai budaya, menarik untuk dikaji: bagaimana meletakkan gastrodiplomasi itu dalam perspektif diplomasi kebudayaan?

Memposisikan gastrodiplomasi dengan pas dalam bingkai diplomasi kebudayaan akan memudahkan pengambil keputusan dalam mendesain strategi nasional untuk mempromosikan Indonesia ke luar negeri dengan menggunakan instrumen kuliner (masakan dan makanan) khas Indonesia.

Seorang pengamat gastrodiplomasi, Anna Lipscomb, dari The Yale Review of International Studies dalam peneleitiannya berjudul Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan (2019) mengatakan bahwa karena gastrodiplomasi terkait dengan upaya membangun citra bangsa melalui makanan, ia berada dalam ranah perjuangan diplomasi kebudayaan suatu negara untuk menumbuhkan rasa saling pengertian antarbangsa.

Dari penelitiannya di tiga negara itu, ia menyimpulkan bahwa setiap negara berupaya mengoneksikan makanan khasnya dengan ‘identitas nasional’ masing-masing (national identity).

Dari kesimpulan ini, jelas bahwa ternyata gastrodiplomasi tidak sebatas urusan perut dan makanan. Lebih luas dari itu, seperti digagas oleh pelopor gastrodiplomasi Paul Rockower, gastrodiplomasi ialah upaya membangun citra dan posisi suatu bangsa demi terciptanya ‘reputasi’ tertentu (nation brand) melalui makanan.

Dari opini Lipscomb dan Rockower ini ada dua konsep terkait citra suatu bangsa. Pertama, nation brand yang lebih banyak terkait reputasi kasatmata suatu negara. Kedua, identitas nasional yang lebih merujuk kepada karakter bangsa, tradisi, budaya, dan bahasanya.

Austria, misalnya, dikenal reputasinya sebagai ibu kota dunia untuk musik klasik, orkestra, dan salah satu markas PBB. Namun, dalam konteks national identity, Austria dikenal sebagai bangsa dengan budaya dan tradisi Eropa, berbahasa Jerman, bertalenta seni, dan demokratis.

Lantas, apa relevansi dua konsep citra bangsa itu dengan gastrodiplomasi? Berangkat dari dua konsep itu, pemahaman atas gastrodiplomasi mestinya tak hanya sebatas pada mempromosikan reputasi kasatmata suatu negara seperti lezatnya makanan.

Lebih penting dari itu ialah memproyeksikan identitas nasional terkait karakter dan budaya bangsa. Ketika gastrodiplomasi juga menyentuh identitas budaya bangsa, sejati nya di sinilah letak irisan antara gastrodiplomasi dengan diplomasi kebudayaan.

Sebagai ujung tombak diplomasi kebudayaan di luar negeri, perwakilan/KBRI di mancanegara menjadikan promosi budaya sebagai kegiatan rutin. Diplomasi kebudayaan yang dilakukan tidak sebatas pada promosi keragaman budaya, keindahan alam, dan kelezatan makanan (diversity, beauty, delicacy).

Untuk memproyeksikan citra Indonesia dalam perspektif yang lebih luas dan strategis, diplomasi kebudayaan dilakukan dalam narasi baru: mencitrakan Indonesia yang multikultural, demokratis, moderat, toleran, dan menghargai keberagaman.

Seberapa penting citra seperti itu perlu diproyeksikan dalam pergaulan internasional? Sungguh penting sebab di tengah politik dunia yang diwarnai konfl ik etnik, suku, dan agama, citra negara dan bangsa seperti itu akan menempatkan Indonesia dalam mainstream politik global. Artinya, Indonesia bisa menjadi sahabat dan bekerja sama dengan negara lain sesuai kepentingan nasional. Citra seperti ini pada gilirannya memberi manfaat dalam hubungan kebudayaan dan menghasilkan reperkusi politik positif di bidang kerja sama lain.

Nasari baru diplomasi kebudayaan--mencitrakan Indonesia yang multikultural, demokratis, moderat, toleran, dan menghargai keberagaman- -hendaknya dijadikan acuan bagi gastrodiplomasi.

Setiap kegiatan gastrodiplomasi harus dilekatkan pada narasi baru diplomasi kebudayaan itu. Dengan begitu, gastrodiplomasi Indonesia tidak semata mempromosikan kelezatan makanan Indonesia atau tidak sebatas pada menarasikan sejarah, filosofi , dan budaya makanan. Harus ada narasi besar yang ‘go beyond the food itself’.

Gastrodiplomasi Indonesia seyogianya menarasikan makanan tertentu memiliki nilai simbolis yang memproyeksikan identitas nasional dan karakter bangsa. Ambil contoh, nasi tumpeng dan gado-gado. Kedua panganan ini hampir selalu hadir di setiap acara gastrodiplomasi Indonesia di luar negeri. Diplomat Indonesia bangga jika para tamu undangan memuji keragaman, keindahan, dan kelezatan panganan itu. Akan tetapi, cukupkah itu? Tentu tidak.

Jika gastrodiplomasi diletakkan dalam bingkai narasi baru diplomasi kebudayaan, makna simbolis dan filosofi dari kedua makanan itu harus dinarasikan kepada audiens. Nasi tumpeng yang bentuknya kerucut menunjuk ke atas menyimbolkan doa kita kepada Maha Pencipta akan sampai kepada-Nya. Ini simbol bangsa Indonesia yang religius.

Kerucut nasi kuningnya yang dikelilingi berbagai lauk-pauk warna-warni menunjukkan bangsa Indonesia yang beragam dalam etnik, suku, dan agama. Warna laukpauk memberi keindahan dan kelezatan bagi kebinekaan Indonesia. Pun gado-gado begitu.

Beragam sayuran warnawarni jika sudah disatukan saus kacang akan terasa lebih lezat daripada dinikmati secara terpisah. Gado-gado juga berkarakter fleksibel dan moderat. #Jika makna simbolis dan filosofi nasi tumpeng dan gadogado dinarasikan dalam setiap perhelatan internasional, itu artinya gastrodiplomasi telah berperan dalam memproyeksikan citra bangsa dan negara Indonesia.

Narasi besar tentang bangsa Indonesia yang multikultural, moderat, toleran, dan menghargai keberagaman mencitrakan Indonesia sebagai bangsa yang luwes untuk bersahabat dengan semua bangsa dan negara dalam pergaulan internasional.

Penerimaan sosial yang baik dalam pergaulan internasional (social acceptability) yang dimiliki Indonesia dalam gastrodiplomasi pada gilirannya memberi dampak positif di bidang kerja sama lain, terutama perdagangan dan pariwisata.

Baca Juga

ANTARA/Dok. Duta Besar Tiongkok

Titik Awal Baru, Perjalanan Baru

👤Xiao Qian Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia 🕔Rabu 30 September 2020, 03:30 WIB
REPUBLIK Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 2020 merayakan hari jadinya yang...
Dok> Pribadi

Asuransi Mutual, Untung dan Rugi sama-sama Dibagi

👤Kapler Marpaung Dosen Program MM-Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada 🕔Rabu 30 September 2020, 03:10 WIB
Asuransi Bumiputera didirikan oleh Dwidjosewojo bersama temannya, MKH Soebrata dan Adimidjojo, saat diselenggarakan Kongres Guru Hindia...
MI/ROMMY PUJIANTO

Media Sosial dan Pendidikan Politik Perempuan

👤Ledia Hanifa A Anggota DPR RI Fraksi PKS Dewan Pakar DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Rabu 30 September 2020, 03:05 WIB
SALAH satu aspek penting dalam demokrasi ialah partisipasi politik. Angka partisipasi politik dapat menunjukkan tingkat legitimasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya