Senin 03 Agustus 2020, 06:00 WIB

Kesehatan Mental Siswa di Tengah Pandemi Covid-19

Seto Mulyadi, Ketua Umum LPAI, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma | Opini
Kesehatan Mental Siswa di Tengah Pandemi Covid-19

MI/DUTA
Ilustrasi

DULU, salah satu persoalan psikologis yang merisaukan terkait dengan kesiapan siswa untuk belajar ialah gangguan kecemasan untuk bersekolah (school anxiety disorder). Cirinya, siswa merasa kegelisahan yang amat mendalam saat akan berangkat ke sekolah. Begitu cemasnya, sampai-sampai anak bisa jatuh sakit.

Kini, masalahnya justru terbalik. Hasil pengamatan saya, tidak sedikit anak-anak yang rindu segera kembali ke sekolah. Apa daya, betapa pun saya selalu memberi semangat kepada para orangtua untuk dapat menjadi guru yang menyenangkan di rumah. Namun, banyak fakta menunjukkan bahwa peran guru di sekolah memang masih terlalu berat untuk digantikan para ‘guru darurat’ di rumah saat ini. Jangankan menciptakan suasana belajar yang hangat, tidak sedikit orangtua dan anak-anak yang justru mengakui bahwa rumah terasa begitu mencekam sejak wabah covid-19 hadir. Anak-anak jenuh, ayah bunda pun penat luar biasa.

Ditambah lagi, sebagian guru dan sekolah ternyata tetap memberikan penugasan dalam takaran ‘normal’ saat situasi belum lagi normal. Belajar daring pun mulai direspons dengan apatis meski ada kesadaran bahwa itulah opsi terbaik dari yang terburuk saat ini.

Menghadapi keadaan sedemikian rupa, mulai muncul kampanye (desakan) membuka kembali gerbang sekolah. Seburuk apa pun situasi, kalangan tersebut memandang sudah saatnya anak-anak kembali belajar dengan mulai datang rutin ke sekolah. Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah menegaskan bahwa pandemi masih jauh dari berakhir dan risiko anak menularkan atau tertular virus korona juga masih sangat tinggi.

Saya khawatir, jangankan berangkat dari rasionalitas yang matang, desakan semacam itu justru merupakan indikasi bahwa--seperti diperingatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)--pandemi covid-19 ini akan pula diikuti dengan masalah kesehatan mental. Jadi, kampanye agar anak-anak kembali masuk sekolah mungkin merefleksikan kepenatan mental yang tidak lagi tertahankan yang dialami sebagian keluarga di Tanah Air.

Jika benar demikian, semakin darurat bagi pemerintah untuk secepatnya mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka mengantisipasi wabah kesehatan mental masyarakat. Apabila terabaikan, cepat atau lambat, produktivitas masyarakat pun akan runtuh dan itu tentu berdampak negatif terhadap resiliensi bangsa.

Keresahan memasuki tahun ajaran baru tersebut sebetulnya tidak hanya terjadi di sini. Banyak negara, bahkan negara maju sekali pun, yang juga melalui tahap keguncangan serupa. Hanya saja, di sini persoalan bertambah pelik karena isu terkait ketersediaan ponsel, internet, dan paket data juga muncul ke permukaan. Juga, kesadaran akan adanya problem kesehatan mental siswa, keluarga mereka, bahkan di kalangan personel sekolah, masih belum cukup merata. Itulah sebabnya desakan agar anak-anak kembali masuk ke sekolah sudah sepatutnya dipertimbangkan kembali karena dampaknya sangat mungkin kontraproduktif dan tidak tertanggulangi secara memadai.

Penyikapan terhadap masalah kesehatan mental membutuhkan kerja terpadu dari semua pihak. Berdasarkan praktik-praktik terbaik di banyak negara, kurikulum bermuatan social and emotional learning (SEL) sangat baik untuk memperkuat relasi sosial yang dibutuhkan para siswa. Kurikulum yang sama juga bermanfaat bagi para guru dan personel sekolah lainnya agar lebih siap dalam merespons dinamika psikologis dan perilaku para anak didik, terutama pada masa krisis.

Beberapa bulan terakhir, sejumlah desain kurikulum bermuatan SEL juga telah dirancang agar dapat diterapkan dengan berbasis daring (online). Salah satu unsur di dalam kurikulum bermuatan SEL ialah memberikan kesempatan lebih leluasa kepada para siswa melakukan refleksi atas segala pengalaman mereka selama menjalani pembatasan sosial. Sesama siswa didorong untuk secara terbuka saling bercerita (berarti menemukan perbendaharaan kata yang representatif) tentang senang dan susahnya berada di dalam rumah selama berbulan-bulan ini. Guru berperan sebagai pemberi semangat agar siswa lebih asertif sekaligus meyakinkan siswa bahwa berkata jujur tentang kepedihan bukanlah merupakan suatu kesalahan.

Esensi unsur tersebut, tak lain, ialah bagaimana agar para siswa belajar secara lebih mendalam tentang kehidupan itu sendiri. Jadi, dengan kata lain, muatan akademik dinomorsekiankan, sementara belajar tentang keinsafan diri (self awareness dan social awareness) lebih dikedepankan. Dengan keinsafan diri yang lebih jujur, para siswa kemudian akan membangun rencana-rencana pengelolaan diri yang lebih nyata. Relasi sosial mereka juga akan dipererat satu sama lain.

Puncaknya ialah saat anak-anak mampu membuat keputusan-keputusan secara lebih bertanggung jawab. Tentu rangkaian kegiatan belajar sosial emosional tersebut di­selenggarakan sesuai dengan tingkat kematangan dan kecerdasan anak, serta melibatkan keluarga siswa sebagai bagian dalam keseluruhan prosesnya. Pembaca yang tertarik untuk menerapkan kurikulum bermuatan SEL secara daring dapat mengunjungi: https://selproviders.casel.org/sel-resources/.

Bukan hanya siswa

Siswa berada pada titik pusat kegiatan sekolah. Mereka patut terus-menerus berada pada posisi terpenting. Namun, pada ruang yang sama, masyarakat pun tidak bisa tutup mata terhadap keberadaan pihak lain yang juga sama-sama sebagai warga sekolah. Pihak tersebut tak lain ialah guru dan personel lainnya.

Sebagaimana halnya dengan siswa, guru dan personel tersebut juga dapat mengalami problem mental akibat wabah covid-19. Kondisi itu bahkan dapat diperburuk oleh keharusan bagi mereka mengantisipasi masalah mental anak-anak didik. Menjadi perta­nyaan seberapa jauh sesungguhnya otoritas terkait juga telah memberikan perhatian kepada para guru dan personel sekolah tersebut. Anggaplah bahwa mereka dikerahkan sebagai penggerak kurikulum bermuatan SEL bagi siswa. Namun, pada saat yang sama, seberapa serius mereka juga diberikan pembekalan dan kesempatan untuk ber-SEL bagi diri mereka sendiri dan sesama mereka?

Pada akhirnya, kita semua--terlebih pada anak-anak--patut terus berupaya menemukan ke­gembiraan di tengah situasi yang serbatak menentu ini. Namun, secara manusiawi, setiap insan hanya dapat bertahan hidup saat mereka juga memiliki kesanggupan untuk dapat merasa dan menerima adanya suasana hati yang tidak menyenangkan.

Memaksa anak untuk selalu berbahagia, apalagi dengan cara mengingkari suasana hati kebalikannya, ialah praktik kekerasan yang justru patut kita elakkan. Penerimaan akan kodrat manusia sebagai makhluk dengan dua sisi afeksi, berapa pun usianya, ialah tujuan pembelajaran yang patut kita selenggarakan setiap waktu. Tentu saja di dalam dan luar sekolah. Semoga.

Baca Juga

ANTARA/Dok. Duta Besar Tiongkok

Titik Awal Baru, Perjalanan Baru

👤Xiao Qian Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia 🕔Rabu 30 September 2020, 03:30 WIB
REPUBLIK Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 2020 merayakan hari jadinya yang...
Dok> Pribadi

Asuransi Mutual, Untung dan Rugi sama-sama Dibagi

👤Kapler Marpaung Dosen Program MM-Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada 🕔Rabu 30 September 2020, 03:10 WIB
Asuransi Bumiputera didirikan oleh Dwidjosewojo bersama temannya, MKH Soebrata dan Adimidjojo, saat diselenggarakan Kongres Guru Hindia...
MI/ROMMY PUJIANTO

Media Sosial dan Pendidikan Politik Perempuan

👤Ledia Hanifa A Anggota DPR RI Fraksi PKS Dewan Pakar DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Rabu 30 September 2020, 03:05 WIB
SALAH satu aspek penting dalam demokrasi ialah partisipasi politik. Angka partisipasi politik dapat menunjukkan tingkat legitimasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya