Senin 03 Agustus 2020, 07:00 WIB

Bukan Meteor, tapi Letusan Gunung Api yang Menyebabkan Zaman Es

Bagus Pradana | Weekend
Bukan Meteor, tapi Letusan Gunung Api yang Menyebabkan Zaman Es

Unsplash/Yosh Ginsu
Ilustrasi: Letusan Gunung Berapi

TERNYATA bukan meteor tetapi letusan gunung berapilah yang menyebabkan bumi dilanda zaman es. Sebelumnya diyakini jika penurunan drastis suhu di bumi 13.000 tahun lalu merupakan dampak dari tabrakan meteorit. Namun, analisis baru dari sedimen batuan dalam menunjukkan bahwa temuan geologis yang awalnya dikaitkan dengan mineral yang berasal dari luar angkasa tersebut, ternyata keliru. Sebab, setelah diteliti lebih lanjut oleh tim peneliti geokimia dari University of Houston dan  Baylor University di Amerika, mineral-mineral tersebut sebenarnya justru berasal jauh dari dalam Bumi yang diperkirakan muncul ke permukaan akibat letusan dahsyat gunung berapi.

"Jadi, pemicu zaman es di Bumi itu tidak datang dari luar angkasa. Bukti geokimia sebelumnya yang menunjukan sebuah meteor besar yang meledak di atmosfer hingga menyebabkan langit bumi menjadi gelap ternyata keliru, ternyata itu akibat letusan gunung berapi besar," ungkap Profesor Alan Brandon dari University of Houston, salah satu dari peneliti senior dalam studi ini, seperti dilansir Dailymail, Minggu (2/8).

Letusan dahsyat gunung berapi menyebarkan partikel ke atmosfer yang kemudian memantulkan energi panas dari sinar matahari menjauh dari permukaan bumi. Hal tersebut kemudian memicu pendinginan global atau yang dikenal sebagai Younger Dryas yang dikaitkan dengan kepunahan mammoth berbulu.

"Iklim Bumi mungkin berada pada titik kritis pada periode Younger Dryas, mungkin dari letusan gunung berapi yang kuat terjadi peningkatan tutupan salju di Samudra Atlantik Utara sehingga menyebabkan pendinginan yang intens di Belahan Bumi Utara ," papar Profesor Steven Forman perwakilan peneliti dari Baylor University.

Analisis bahan kimia yang ditemukan di lapisan tanah di Hall's Cave, Texas menemukan jejak unsur langka, termasuk osmium, iridium, ruthenium, platinum, palladium, dan renium yang setelah diusut ternyata bukan unsur mineral ekstraterestrial dari pecahan meteor, melainkan mineral khas penghuni perut bumi.

Dr. Nan Sun dari University of Houston, yang merupakan koordinator penelitian dari proyek ini menyatakan, jika merujuk analisis geokimia terhadap sedimentasi bumi, penjelasan yang cocok untuk menjelaskan pendinginan yang terjadi di bumi 13 ribu tahun yang lalu adalah penjelasan vulkanik.

"Dari analisis isotop osmium dan mempertimbangkan proporsi relatif dari unsur-unsur sedimen yang dilaporkan, besar dugaan jika pendinginan tersebut dipicu oleh proses vulkanik daripada meteorit," jelas  Dr. Nan Sun yang juga merupakan koordinator penelitian.

Awalnya para peneliti meragukan teori tentang letusan gunung berapi ini, namun ketika berhadapan dengan bukti yang lengkap dan setelah melakukan penyelidikan lanjutan, satu-satunya penjelasan yang layak untuk menjelaskan pendinginan yang terjadi di bumi adalah yang vulkanik. 

Lebih lanjut penelitian ini juga dapat dibaca di jurnal Science Advances. (M-4)

Baca Juga

Dok. Maquinn Couture

Koleksi Label Indonesia Maquinn Couture Pukau Milan Fashion Week

👤Putri Rosmalia 🕔Selasa 29 September 2020, 17:10 WIB
Label asal Surabaya ini terpilih sebagai delegasi tunggal Indonesia di MFW...
Dok. Instagram @ifa_isfansyah/@moulysurya

Mouly Surya dan Ifa Isfansyah Jadi Juri di Busan Film Festival

👤Fathurrozak 🕔Selasa 29 September 2020, 15:05 WIB
Mouly Surya akan menjadi juri untuk penghargaan Kim Jiseok di Busan International Film Festival (BIFF) tahun...
Dok. Instagram @beegees

Film Dokumenter Bee Gees Direncanakan Rilis Akhir Tahun

👤MI Weekend 🕔Selasa 29 September 2020, 14:30 WIB
Film yang judulnya diangkat dari judul lagu mereka, "How you can Mend a Broken Heart" menceritakan kehidupan Gibb...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya