Sabtu 01 Agustus 2020, 10:15 WIB

Cegah Penyakit Jantung dan Hipertensi, Kurangi Gula dan Garam

Mediaindonesia.com | Humaniora
Cegah Penyakit Jantung dan Hipertensi, Kurangi Gula dan Garam

Dok.Tropicana Slim
Memasak di rumah dipercaya jauh lebih baik ketimbang memesan di warung atau di restoran.

 

SAAT ini jumlah  kasus penyakit  jantung  dan hipertensi semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Menurut data Kemenkes RI, penyakit hipertensi, jantung dan diabetes termasuk tiga penyakit tidak menular teratas di Indonesia, dengan penyakit jantung menjadi penyebab utama kematian.

Demikian paparan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Pendiri Komunitas Sobat Diabet, dr Rudy Kurniawan, Sp.PD dalam Festival Komunitas  Momcredible 2020:  The  Smart, Healthy  and  Dependable  Moms’dengansesi  talkshow edukatif Minggu (1/8).

Baca juga: Daging Merah dan Olahan Tingkatkan Penyakit Jantung

Adapun hipertensi, lanjut Rudy, dikenal  sebagai silent  killer (pembunuh  diam-diam) karena  sering  timbul tanpa gejala. Hipertensi yang tidak terkontrol juga berkaitan dengan kasus kematian dini serta berkaitan dengan peningkatan  risiko  penyakit  jantung, stroke, gangguan  ginjal  dan  gangguan  penglihatan. Estimasi  jumlah  kasus hipertensi  di  Indonesia mencapai 63,3 juta orang  atau  hampir  1/4  penduduk  Indonesia  mengidap  hipertensi.

"Penyebabnya adalah gaya  hidup  tidak  sehat,  termasuk konsumsi  gula, garam  dan lemak  yang  berlebihan dalam jangka panjang," kata Rudy.

Untuk itu, kata dia, kita harus menjaga  gaya hidup  sehat serta mencegah penyakit jantung dan hipertensi. Salah satunya dengan membatasi asupan GGL (gula, garam dan lemak) harian dalam  sajian  makanan di  rumah. Sesuai  anjuran Kementerian Kesehatan  RI, jumlah Batasan GGL  harian adalah gula sebanyak 50 gram/hari (setara 4 sendok makan), garam sebanyak 5 gram/hari(setara 1 sendok teh), serta  lemak/minyak sebesar  67  gram/hari (setara  5  sendok makan).  

"Selain itu juga, perlu  didukung  dengan pola  makan yang sehat, mengacu pada pedoman gizi seimbang dan sesuai porsi piring makanku. Selain itu, tidak lupa olahraga teratur minimal 30 menit setiap haridan istirahat cukup,” tambah dr. Rudy.

Berangkat dari situlah, Tropicana  Slim meluncurkan dua  varian  produk  terbaru,  yaitu Tropicana Slim Sunflower Oil yang mengandung 100% minyak biji bunga matahari yang tinggi vitamin Eserta Tropicana Slim Kecap  Asin yang  lebih  rendah  garam sebagai  pilihan alternatif minyak  dan  kecap  asin yang lebih baik bagi  keluarga  Indonesia. Diungkapkan Associate Brand Manager Tropicana Slim, Annice Manthovani, sebagai brand yang sudah hampir berusia 50 tahun, mereka merasa punya kewajiban untuk membantu keluarga Indonesia  mewujudkan pola hidup sehat.

“Tropicana Slim Sunflower Oil mengandung 100% minyak biji bunga matahari yang tinggi vitamin E, sehingga baik sebagai   minyak   pilihan   untuk   mewujudkan   pola   hidup   sehat.   Sementara   itu, Tropicana   Slim   Kecap   Asin diformulasi  khusus lebih rendah  garam dengan  kandungan  garam hanya 30% dari  kecap  asin biasa lainnya, sehingga menjadi alternatif lebih baik untuk yang memiliki hipertensi dan ingin menikmati rasa gurih tanpa kuatir asupan  garam  berlebih. Kedua  varian  produk  terbaru  ini  sekaligus melengkapi rangkaian  produk  Tropicana  Slim bercita rasa  tinggi,  sehingga ibu  dan  keluarga  Indonesia  memiliki makin  banyak pilihan  yang lebih  sehat  untuk memasak  bagi  keluarganya  di rumah,” papar Annice.

“Pada sesi Festival Komunitas Momcredible 2020 ini, kami juga membagikan beberapa tips menyajikan masakan secara  lebih sehat, praktis dan nikmat untuk  keluarga Indonesia. Misalnya,  dengan mengganti  cara  memasak digoreng (deep  fried) dengan ditumis, pan-fried,  panggang,  bakar,  direbus  maupun dikukus,  serta  menggunakan minyak pilihan seperti minyak biji bunga matahari. Selain itu, kami juga mengajak para peserta untuk mengurangi garam pada masakan dan mengurangi produk olahan serta menggantinya dengan bumbu masakan rendah garam seperti rempah-rempah, bawang putih dan jamur-jamuran,” tambah Annice.

Annice menjelaskan hasil penelitian  dari American  Heart Association’s  ScientificSessions  (2015) dan International Journal  of Behavioral  Nutrition  and  Physical  Activity  (2017) menunjukkan  bahwa lebih  sering  mengonsumsi masakan  di  rumah  memiliki beberapa  manfaat bagi  kesehatan  keluarga dibandingkan  memesan  makanan  dari luar.  Manfaat  tersebut  mencakup kualitas  diet  yang  lebih  baik  (termasuk dengan  mengonsumsi  buah  dan  sayur yang  lebih  tinggi), risiko  kegemukan  yang lebih  rendah, serta risiko  kebihan  lemak  tubuh  lebih  rendah sehingga dapat membantu keluarga terhindar dari  risiko berbagai penyakit, seperti hipertensi  dan  penyakit  jantung.

"Dengan  memasak  di  rumah, kita dapat memilih bahan masakan yang lebih  sehat,  porsi  yang  sesuai, serta  cara memasak yang lebih sehat," ujarnya. (Ant/A-1)

Baca Juga

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Pengamat: Tingkatkan Efektivitas PPJ, Bukan Tatap Muka

👤Ferdian Ananda M 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 17:55 WIB
Menurut Indra Charismiadji, Indonesia belum mau belajar dan mau menyesuaikan kebijakannya agar membuat PJJ daring lebih...
ANTARA/MOHAMMAD AYUDHA

Wagub : Kebutuhan Seribu Kantong Darah, Stok PMI Hanya 200

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 17:51 WIB
Akibat pandemi covid-19, ketersediaan kantong darah di Palang Merah Indonesia menjadi sangat...
ANTARA/Mohamad Hamzah

Sumba Barat Daya Diguncang Gempa Magnitudo 5,0

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 17:35 WIB
BNPB melaporkan terjadi gempa berkekuatan magnitudo 5,0 dengan titik episenter pada kedalaman 10 km di Kabupaten Sumba Barat Daya pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya