Sabtu 01 Agustus 2020, 16:14 WIB

Remaja 17 Tahun Ditangkap Karena Jadi Otak Peretasan Twitter

Antara | Internasional
Remaja 17 Tahun Ditangkap Karena Jadi Otak Peretasan Twitter

123rf.com
Ilustrasi

 

SEORANG remaja asal Tampa, Florida, Amerika Serikat ditangkap kepolisian karena menjadi dalang dibalik peretasan akun-akun tokoh besar di Twitter beberapa waktu lalu.

The New York Times, dikutip Sabtu, menulis, Graham Ivan Clark, yang baru berusia 17 tahun, ditangkap di apartemennya pada Jumat (31/7) waktu
setempat. Clark dikenai 30 tuduhan atas kejahatan besar, termasuk penipuan dan akan dihukum sebagai orang dewasa.

Clark baru saja lulus SMA di Florida. Dia tidak bertindak sendiri dalam peretasan besar ini, melainkan dibantu dua orang masing-masing bernama Mason John Sheppard (19) asal Inggris Raya dan Nima Fazeli (22) dari Orlando, Florida.

Keduanya dituduh membantu Clark, yang menggunakan nama samaran Kirk, dalam peretasan. FBI menyatakan Clark dan Fazeli sudah ditangkap, namun, Sheppard belum dan akan dalam pengawasan.

Pengacara negara bagian Florida yang menangani kasus tersebut, Andrew Warren, menyebutkan Clark, meski pun baru berusia 17 tahun, cukup berpengalaman hingga berhasil menembus jaringan Twitter tanpa terdeteksi.

Clark menipu dan meyakinkan salah seorang pegawai Twitter bahwa dia salah seorang pekerja di departemen teknologi, memerlukan akses untuk masuk ke portal layanan konsumen, menurut pernyataan resmi Florida.

Para pelaku berafiliasi dengan komunitas peretas spesialisasi mengambil alih akun, menurut pakar keamanan siber, menggunakan metode
SIM-swapping. Mereka meretas operator seluler untuk mengambil alih nomor ponsel dan informasi penting.

Mereka menargetkan pegawai Twitter kemudian mencuri informasi penting agar bisa masuk ke sistem internal platform tersebut. Setelah masuk sistem internal, peretas menyetel ulang kata kunci akun.

Peretas mencuit dari 45 akun yang diretas, mengakses kotak pesan 36 akun dan mengunduh informasi dari tujuh akun.

Peretas meminta pengikut akun-akun terverifikasi, antara lain milik Elon Musk dan Barack Obama, untuk mengirimkan uang dalam bentuk bitcoin. New York Times menuliskan penipuan tersebut menjaring uang senilai lebih dari 180.000 dolar AS.

Sementara laman Cnet, mengutip keterangan dari Departemen Kehakiman AS, melaporkan terdapat lebih dari 400 transfer senilai lebih dari 100.000 dolar AS.(OL-4)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Indonesia Perkuat Diplomasi Perdamaian

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 05:30 WIB
Menlu Retno menggarisbawahi tiga poin utama untuk merespons tantangan global yang...
ANTARA

Diplomasi Ekonomi Menunjang Peluang Investasi

👤MI 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 03:30 WIB
KEMENTERIAN Luar Negeri RI beserta perwakilan-perwakilan di luar negeri terus berupaya melakukan diplomasi...
Dok. Kementerian Luar Negeri RI

Perjuangan Merah Putih untuk Kemerdekaan Palestina

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 03:15 WIB
KEMERDEKAAN Palestina masih dan akan terus menjadi prioritas politik luar negeri...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya