Kamis 30 Juli 2020, 06:26 WIB

Idul Adha Memperkuat Solidaritas Kemanusiaan di Tengah Pandemi

Siswantini Suryandari | Humaniora
Idul Adha Memperkuat Solidaritas Kemanusiaan di Tengah Pandemi

AFP
Jemaah haji menjaga jarak saat melakukan tawaf atau mengelilingi Kabah tujuh kali di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, Rabu (29/7/2020).

 

PERAYAAN Idul Adha 1441 atau hari raya Idul Qurban pada tahun ini menjadi hari untuk menghayati dan mengaktualisasikan makna dan pesan-pesan esensi ibadah kurban dalam Islam, sekaligus sebagai hamba Allah dan sebagai bangsa Indonesia di tengah pandemi covid-19. Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Menteri Agama Khoirul Huda Basyir dalam khutbah tertulis Idul Adha 1441 H yang diterima mediaindonesia.com, Kamis (30/7).

Dampak pandemi global yang menyebabkan masyarakat dan bangsa mengalami krisis ekonomi dan sosial menjadi momentum yang paling tepat untk mengaktualisasikan nilai-nilai dan pesan ibadah kurban dalam realitas kehidupan. 

"Membumikan syariat kurban bukan sekedar ritual penyembelihan binatang akan tetapi merupakan pesan mendasar Islam untuk membentuk karakter kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial dalam menegakkan aksi-aksi kemanusiaan yang nyata demi terwujudnya keselamatan, kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia secara bersama-sama,"ujarnya.

Ia berharap momentum Idul Adha yang agung mampu menghantarkan tatanan kehidupan baru masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai agama, akhlak karimah, kebersamaan, persaudaraan dan peduli sesama untuk terwujudnya Indonesia berharkat dan bermartabat, sejahtera, berperadaban, maju dan dalam naungan rahmat Allah SWT.

Lebih lanjut Khoirul menjelaskan ibadah kurban yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam syariat Islam sesungguhnya berdasarkan peristiwa bersejarah yang dialami Nabi Ibrahim  yang bermimpi bahwa ia akan menyembelih anaknya Ismail di saat anaknya sudah cukup umur. Dan seorang bapak bertanya kepada anaknya atas mimpi itu, dijawab oleh Ismail bersedia memenuhi mimpi tersebut. 

Para ahli tafsir menyatakan, perintah Allah kepada Ibrahim agar menyembelih putranya sebagaimana dikisahkan dalam ayat tersebut hendak menyampaikan pesan dan pelajaran kepada manusia, bahwa betapapun besarnya cinta seseorang kepada anak atau apapun yang dimiliki dengan kecintaan yang sangat besar, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berarti bila Allah telah menghendaki, karena apapun yang dimiliki dan dikuasai oleh manusia sejatinya adalah sekedar titipan dari Allah Azza wa Jalla. Karenanya ridha dan mahabbah Allah yang sesungguhnya paling berarti dalam hidup dan kehidupan seorang muslim. 

Peristiwa agung ini mengandung pelajaran bahwa Allah SWT sangat sayang dan menjunjung tinggi harkat, martabat dan jiwa manusia, sehingga Allah sama sekali tidak memperkenankan manusia dijadikan kurban penyembelihan (baca: pembantaian) atau sebagai tumbal untuk kepentingan apapun yang pada akhirnya mengakibatkan tercucurnya darah atau melayangnya nyawa manusia. 

"Bahkan Islam mengutuk keras perbuatan semacam itu dan menggolongkannya dalam kesyirikan dan dosa besar. Karena itu, Islam tidak pernah mentolerer terjadinya kekerasan, kebrutalan dan penindasan dalam bentuk apapun yang mengakibatkan tertumpahnya darah atau penderitaan umat manusia. Allah dengan tegas mengharamkan dan mengutuk perbuatan  bunuh diri, membunuh sesama atau membuat kerusakan apapun di muka bumi ini, baik berupa kejahatan kemanusiaan maupun kejahatan lingkungan," kata  Khoirul.

Islam telah memproklamirkan sebagai diinurrahmah (agama pembawa kasih sayang untuk alam semesta). Sebab itu, adalah paham yang sangat keliru dan menyesatkan, bila ada yang mengaitkan Islam dengan aksi kekerasan,  gerakan terorisme dan faham-faham yang ekstrim. Karena paham dan ajaran semacam ini tidak memiliki dasar dan tempat sama sekali dalam Islam, baik dalam doktrin maupun risalahnya. Justru sebaliknya Islam sangat menjunjung tinggi kedamaian, kerukunan dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.

Dengan menangkap pesan dan ibrah dari peristiwa besar yang tidak ada duanya dan tidak akan terulang kedua kalinya dalam sejarah umat manusia itu, dapat disinyalir bahwa muslim sejati adalah yang memiliki kecintaan dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT melebihi kecintaannya kepada siapapun dan apapun. 

baca juga: Pastikan Idul Adha Bebas Korona

"Kecintaan manusia kepada siapa dan apa saja selalu didasari karena kecintaannya kepada Allah Swt. Perjuangan Nabi Ibrahim As dan putranya, Ismail As hendaknya dapat dijadikan wahana introspeksi diri atas ketaatan manusia dalam memegang teguh syariat Islam, untuk selanjutnya ritualitas kurban diharapkan mampu membentuk watak pribadi muslim yang peka terhadap lingkungan dan masyarakat sekelilingnya. Sebagai manusia yang siap berkorban dan mengulurkan tangan untuk membantu kepada sesama, terutama kepada umat yang lemah dan membutuhkan (al-mustadl’afin)," lanjutnya. (OL-3)
 

Baca Juga

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

BP2MI Deklarasi Setia Terhadap Pancasila dan UUD 1945

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 14:31 WIB
ASN harus memiliki nilai-nilai dasar di antaranya kewajiban untuk memegang teguh ideologi Pancasila, setia, dan mempertahankan UUD...
Dok: Web KLHK

Kayu Geronggang, Bahan Baku Potensial dari Lahan Gambut

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 14:20 WIB
Nilai sifat fisik pulp geronggang yang meliputi indeks tarik, retak dan sobek sangatlah cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku pulp kayu...
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Keluarga Empat Nakes yang Gugur Tangani Covid-19 Dapat Santunan

👤Ihfa Firdausya 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 14:13 WIB
Adapun dana santunan yang diberikan kepada para ahli waris sebesar Rp300 juta. Selain santunan, tenaga kesehatan yang gugur juga menerima...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya