Kamis 30 Juli 2020, 04:35 WIB

Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi

Gana Buana | Humaniora
 

PEMERINTAH Indonesia bertekad untuk mengurangi sampah plastik ke laut sebesar 70% pada 2025. Karena itu, pengelolaan sampah termasuk daur ulang sampah plastik menjadi solusi penting dalam mengurangi sampah plastik. Selain berdampak pada pengelolaan sampah berkelanjutan, daur ulang plastik juga memberikan peluang ekonomi yang sangat besar.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan salah satu pendekatan yang harus dikembangkan agar pengelolaan sampah bisa berkelanjutan ialah melalui pendekatan circular economy (ekonomi melingkar).

“Pengelolaan berkelanjutan membuat siklus pakai plastik tidak lagi berakhir pada tempat pembuangan sampah serta dapat kembali dimanfaakan dalam bentuk bahan daur ulang, listrik, dan bahan bakar,” kata Siti Nurbaya, beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, Kementerian LHK menargetkan kapasitas pengolahan sampah pada 2025 mencapai 100%. Adapun untuk target masyarakat memilah sampah mencapai 50% untuk semua jenis sampah plastik.

“Karena itu, pemilahan sampah dari sektor hulu memainkan peran penting dalam upaya mendaur ulang sampah dengan prinsip 3R yakni reduce, reuse serta recycle,” tutur Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) Rosa Vivien.

Kementerian LHK, lanjut Vivien, juga terus melakukan edukasi pemilahan sampah dengan prinsip 3 R kepada masyarakat. “Melalui konsep circular economy, sampah plastik dapat diolah jadi plastik kembali dan produk lain yang bermanfaat. Untuk melakukannya pun tidak sulit, cukup pilah sampah Anda dari rumah. Pisahkan mana sampah organik dan nonorganik,” kata dia.

Di sisi lain, daur ulang plastik juga memberikan peluang ekonomi yang sangat besar. Menurut Ota, pemulung asal Jakarta, harga botol plastik per kilogram di tingkat pengepul berkisar Rp3.000 per kilogram. Gelas plastik berkisar Rp3.500-Rp6.000, lalu ember plastik berkisar Rp1.000-Rp3.000, dan kantong plastik berkisar Rp300-Rp1.500.

Botol plastik kemasan umumnya menggunakan plastik berjenis polyethy terephthalate (PET), yang dinilai paling aman, ramah lingkungan, dan bernilai tinggi.

Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) Cristine Halim menambahkan sampah plastik jenis PET sebetulnya memang yang paling memungkinkan untuk didaur ulang. Botol PET juga bisa diproses 100% menjadi produk berharga, sehingga tidak perlu ada pembatasan ataupun larangan penggunaannya.

“PET digunakan untuk botol kemasan air mineral, botol minyak goreng, botol obat, dan botol kosmetik. PET memliki manfaat ekonomi yang tinggi, karena botol PET mampu didaur ulang hingga 50 kali, dan menghemat bahan baku produksi,” pungkas dia. (Gan/S3-25)

Baca Juga

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

BP2MI Deklarasi Setia Terhadap Pancasila dan UUD 1945

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 14:31 WIB
ASN harus memiliki nilai-nilai dasar di antaranya kewajiban untuk memegang teguh ideologi Pancasila, setia, dan mempertahankan UUD...
Dok: Web KLHK

Kayu Geronggang, Bahan Baku Potensial dari Lahan Gambut

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 14:20 WIB
Nilai sifat fisik pulp geronggang yang meliputi indeks tarik, retak dan sobek sangatlah cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku pulp kayu...
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Keluarga Empat Nakes yang Gugur Tangani Covid-19 Dapat Santunan

👤Ihfa Firdausya 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 14:13 WIB
Adapun dana santunan yang diberikan kepada para ahli waris sebesar Rp300 juta. Selain santunan, tenaga kesehatan yang gugur juga menerima...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya