Kamis 30 Juli 2020, 04:34 WIB

Kurban yang Berkeadaban

Abdul Mu’ti Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta | Opini
Kurban yang Berkeadaban

Dok.MI/ROMMY PUJIANTO
Abdul Mu’ti Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KURBAN ialah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di dalam Islam. Berkurban diperintahkan sebagai tanda syukur atas nikmat Allah (Qs Al-Kautsar [108]: 2). Ibnu Rusyd di dalam Kitab Bidayat al-Mujtahid menyebutkan bahwa kurban, menurut sebagian besar ulama, hukumnya sunah. Rasulullah Muhammad tidak pernah meninggalkan ibadah kurban. Atas dasar itu, ada sebagian ulama yang menyatakan bagi yang mampu dan tidak sedang musafir, hukum kurban ialah wajib.

Tradisi berkurban

Spirit dan komitmen umat Islam melaksanakan ibadah kurban sangat tinggi. Seiring dengan meningkatnya kesalehan dan kesejahteraan ekonomi, jumlah hewan kurban yang disembelih terus bertambah. Kurban telah menjadi tradisi yang melembaga dengan nuansa kultural yang kuat.

Akan tetapi, tradisi berkurban perlu mendapatkan perhatian. Beberapa aspek dalam tradisi kurban perlu ditinjau kembali.

Pertama, masalah distribusi yang tidak merata. Jumlah hewan kurban melimpah dan berlebih di masjid perkotaan dengan jemaah aghniya (kaya), sementara di masjid perkampungan yang mayoritas jemaah kelas bawah kurban sangat terbatas, bahkan berkekurangan.

Kedua, penyembelihan yang cenderung komunal. Hewan kurban pada umumnya disembelih di masjid atau musala. Tradisi ini berdasarkan pemahaman atas hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah menyembelih kurban di musala: lapangan tempat pelaksanaan salat (HR. Imam Bukhari dari Ibnu Umar).

Penyembelihan diselenggarakan secara amatiran dan terkesan menjadi ‘hiburan’ rakyat. Selain jagal yang tidak profesional, prosesi menyembelih tidak jauh beda dengan penganiayaan. Perlakuan yang kasar membuat hewan terlihat ketakutan dan menderita di tengah kerumunan massa. Nuansa ibadah dan ritual hilang. Dengan jumlah kurban yang banyak, arena penyembelihan seakan menjelma menjadi ladang pembantaian yang mengerikan, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan langsung tanpa tahu apa makna di balik semua yang mereka saksikan.

Ketiga, pembagian daging kurban yang karikatif dalam relasi ‘atas-bawah’. Penerima kurban diperlakukan sebagai peminta-minta yang harus antre berjam-jam di bawah terik matahari. Cara pembagian yang karikatif ini menelan korban jiwa. Ini adalah tragedi. Ironisnya, masih terulang.

Berkeadaban

Kurban adalah ibadah untuk membangun jiwa kemanusiaan dan keadaban luhur. Tradisi kurban adalah cermin kemajuan dan keadaban umat Islam. Diperlukan perubahan atas tradisi yang tidak mencerminkan keluhuran ajaran Islam.

Pertama, diperlukan big data sehingga penerima (mustahik) dan pemberi kurban (ahli kurban) terdata dengan baik. Pendataan dimaksudkan agar hewan kurban tidak terkonsentrasi di kota-kota besar dan masjid agung. Tebar kurban di daerah tertinggal, terluar, dan terpencil (3T) yang sudah mulai dirintis oleh beberapa lembaga fi lantropi patut diapresiasi dan perlu dikembangkan. Distribusi dan pengadaan kurban di daerah 3T juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat bawah dan pemberdayaan peternak.

Kedua, penyembelihan kurban lebih baik dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH). Memang terasa tidak afdal karena tidak melihat langsung hewan kurban. Akan tetapi, penyembelihan di RPH juga harus dilaksanakan sesuai syariat. Hewan disembelih oleh jagal muslim yang profesional, juga terjamin kebersihan dan terjaga keamanannya karena tidak ada kerumunan massa.

Klaster pandemi covid-19 berkembang melalui kontak raga di kerumunan massa. Islam mengajarkan agar hewan disembelih dengan ihsan: pisau yang tajam, penuh kasih sayang, dan tidak menyakiti binatang. Penyembelihan yang amatiran harus diakhiri. Jika hewan kurban disembelih di masjid, musala, perkantoran, dan sebagainya, seyogianya dilakukan oleh jagal profesional.

Ketiga, daging kurban sebaiknya diantar langsung kepada penerima. Dengan cara itu, penerima akan merasa terhormat dan terhindar dari kemungkinan tertular atau menularkan virus korona. Metode lain yang mulai dirintis ialah penyerahan dalam bentuk daging olahan seperti rendang, dendeng, dan cara lain yang tahan lama.

Saatnya kita berubah dari tradisi kurban yang komunal dan tidak islami menuju ibadah kurban yang berkeadaban. Kurban adalah momentum untuk menumbuhkan jiwa kemanusiaan dan sifat utama dengan berderma. Di tengah pandemi korona, sedekah kita sangat bermakna, berapa pun jumlahnya.***

Baca Juga

Dok.Pribadi

Musim Semi Dinasti Politik

👤Adi Prayitno Dosen Politik FISIP UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Parameter Politik 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 04:09 WIB
Pada level ini, sejumlah parpol gagal bertransformasi menjadi partai modern. Jaring pengaman rekrutmen dan kaderisasi masih longgar. Mudah...
Dok.MI

Kemajemukan dan Edukasi

👤Mudji Sutrisno SJ Guru Besar STF Driyarkara, Dosen Pascasarjana UI, Budayawan 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 03:58 WIB
Indonesia yang secara politis menegaskan diri sebagai kami bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, secara kultural hanya akan terus ada dan...
Dok. Pribadi

Nasib Globalisasi setelah Covid-19 Berakhir

👤Agus Sugiarto Advisor, Otoritas Jasa Keuangan 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 04:05 WIB
DUNIA diperkirakan mengalami suatu perubahan yang fundamental setelah munculnya pandemi covid-19 yang terjadi sejak beberapa bulan yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya