Rabu 29 Juli 2020, 12:05 WIB

Peran Komunikasi Perubahan Perilaku Dituntut demi Cegah Stunting

Mediaindonesia.com | Humaniora
Peran Komunikasi Perubahan Perilaku Dituntut demi Cegah Stunting

MI/Lina Herlina
Provinsi Sulawesi Selatan masuk lima besar wilayah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.

 

MENURUT Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia mulai turun dari 37% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8%. Hal ini sejalan dengan SSGBI (Survei Status Gizi Balita Indonesia) 2019, yang menemukan angka stunting sebesar 27,7%. Meski angka stunting mulai turun, tetap saja berarti sebanyak 3 dari 10 balita Indonesia menderita stunting.

Berdasarkan buku yang diterbitkan World Bank, Aiming High: Indonesia’s Ambitions to Reduce Stunting disebutkan jika kita tidak melakukan apa-apa, hingga 2022 kita masih akan berkutat dengan angka stunting di kisaran 28%.

Baca juga: Angka Stunting di Indonesia Masih Lebih Tinggi dari Toleransi WHO

Salah satu upaya krusial yang dibutuhkan yakni komunikasi perubahan perilaku. Ini menjadi topik diskusi daring bersama Tanoto Foundation pada Rabu (29/7). Menurut Senior Technical and Liasion Adviser Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Widodo Suhartoyo 70% penyebab stunting disebabkan oleh hal-hal di luar kesehatan dan gizi. Termasuk di antaranya sanitasi, lingkungan, perilaku.

Secara spesifik, 30% permasalahan stunting disebabkan oleh perilaku yang salah. “Karenanya, perubahan perilaku menjadi hal yang sangat penting dalam upaya pencegahan stunting,” ujar Widodo.

Ia memaparkan, perilaku masyarakat yang bisa memicu terjadinya stunting misalnya perilaku yang kurang baik dalam pola hidup, pola makan, dan pola pengasuhan anak. “Orang tua yang pendek tidak otomatis akan memiliki anak pendek. Anak bisa menjadi pendek karena orang tua menerapkan pola asuh dan pola makan seperti yang diterimanya dulu. Lingkaran ini harus diputus.”

Tanoto Foundation sebagai lembaga filantropi independen yang bergerak di bidang pendidikan, memiliki misi agar semua anak mampu mencapai potensi belajar yang maksimal, sesuai tahap perkembangannya, dan siap sekolah. Ini meliputi pengurangan stunting, peningkatan kualitas pengasuhan anak usia 0-3 tahun, serta peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini. Semua pelayanan ini disalurkan melalui lingkungan belajar di rumah, pusat layanan anak usia dini (misalnya Posyandu dan PAUD), serta komunitas desa dan pemerintah desa.

Sejauh ini, Tanoto Foundation memiliki program intervensi stunting di Riau (Rokan Hulu), Sumatera Barat (Pasaman dan Pasaman Barat), Banten (Pandeglang), Jawa Barat (Garut), Kalimantan Selatan (Hulu Sungai Utara), Kalimantan TImur (Kutai Kartanegara), NTB (Lompok Utara dan Lombok Barat), NTT (Alor, Simot Tengah Selatan), Sulawesi Barat (Majene), dan Maluku (Seram Barat).

Pada kesempatan yang sama Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementrian Kesehatan RI, Drg Marlini Ginting  mengatakan, komunikasi perubahan perilaku masuk dalam 5 pilar percepatan pencegahan stunting.  Selain kementrian kesehatan, pilar kedua ini juga dilakukan bersama dengan Kementrian Informasi.

“Yang kita bangun adalah kesadaran masyarakat sehingga mereka akan melakukan perilaku yang kita harapkan. Di sisi perilaku, akses informasi masyarakat belum banyak,” kata Marlina.

Ia menambahkan, selain kampanye perubahan perilaku, yang jadi fokus petugas kesehatan atau kader agar memiliki kapasitas untuk menyampaikan komunikasi. “Diharapkan para kader ini memahami masyarakatnya, sejauh mana mereka belum melakukan perilaku yang diharapkan. Jadi, tidak sekadar menyampaikan.”

Adapun pakar nutrisi Dr Rita Ramayulis menyebut perilaku yang harus diperbaiki untuk mencegah stunting, tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Tanoto Foundation. “Stunting adalah kondisi yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis secara akumulatif. Bukanlah kasus akut, melainkan keadaan yang terjadi sedikit demi sedikit, secara akumulatif.”

Pada kesempatan yang sama Yayasan Cipta, Risang Rimbatmaja menyebut stunting merupakan istilah yang abstrak bagi orang yang tidak bergerak di bidang kesehatan.  “Selama ini komunikasinya juga mengalami perubahan. Dulu disebut stanting, lalu kerdil, pendek, dan sekarang stunting,” kata Risang.

Stunting merupakan kekurangan gizi dalam waktu yang lama yang membuat otak tidak berkembang, mudah sakit dan rentan menderita penyakit tidak menular saat dewasa nanti. “Membahasakan konsep kesehatan pada masyarakat harus disampaikan dampaknya. Masalahnya stunting itu dampaknya long term,” katanya.

Membangun kepercayaan merupakan kunci keberhasilan program komunikasi perubahan perilaku. Pembuatan poster dan penggunaan istilah juga harus berhati-hati agar tidak menimbulkan stigma. Komunikasi perubahan perilaku tidak serta merta mengubah orang. Tapi tetap diperlukan, dengan demikian kita harus bergandengan dengan intervensi model lain.  (RO/A-1)

Baca Juga

Antara

Madrasah Boleh Belajar Tatap Muka di Zona Kuning Asal...

👤Zubaedah Hanum 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 07:05 WIB
MENTERI Agama Fachrul Razi memperbolehkan madrasah di zona hijau dan kuning untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, ada...
MI/Ramdani

Menepis Kesalahpahaman Mengenai Thermo Gun, Ini Penjelasannya

👤 Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 06:38 WIB
Menurut dr Shela dari Satgas Covid-19,thermo gun tidak mengeluarkan sinar yang bisa mengeluarkan radiasi. Jadi tidak berbahaya untuk...
Kemenparekraf

Yuk, Beli Buku Lokal Bertabur Diskon!

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 06:05 WIB
Program Beli Buku Lokal hingga 7 September 2020 mendatang melibatkan empat marketplace (lokapasar) yakni, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya