Rabu 29 Juli 2020, 19:40 WIB

Covid-19 kian Masif, NasDem Desak Pemerintah Jangan Cuma Imbau

Teguh Nirwahyudi | Humaniora
Covid-19 kian Masif, NasDem Desak Pemerintah Jangan Cuma Imbau

MI/M Irfan
Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad M Ali

 

WAKIL Ketua Umum Partai NasDem Ahmad M Ali minta pemerintah menyiapkan perangkat hukum dengan sanksi lebih tegas agar penularan virus korona atau covid-19 tidak semakin masif.

"Kalau tidak ada sanksi yang tegas ya sama saja. Jangan berupa imbauan-imbauan lagi karena kalau masyarakat tidak tertib, kasus positif covid-19  bisa sampai 200.000 lebih," kata Ahmad Ali kepada wartawan di Jakarta, Selasa (28/7).

Baca juga: Cegah Klaster Perkantoran, Karyawan Jangan Berkerumun di Kantin

Ahmad Ali yang juga merupakan Ketua Fraksi Partai NasDem DPR mengungkapkan hal itu setelah melihat fakta ternyata kasus infeksi covid-19 di Indonesia bukannya semakin melandai, melainkan malah semakin mengkhawatirkan.

Baca juga: PT Antam Bantah Puluhan Karyawan Positif Covid-19

Pemerintah mengumumkan, pada Senin (27/7) angka kasus infeksi covid-19 di Indonesia menembus 100.303 kasus, tertinggi di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Jumlah itu diperoleh setelah adanya tambahan 1.525 kasus baru. Selain kasus infeksi mencapai 100.303, Indonesia juga memiliki angka kematian covid-19 sebanyak 4.838 kasus.

Baca juga: Perkantoran Jadi Klaster, Satgas : Lebih Baik WFH

Kasus positif covid-19 di Indonesia telah  melampaui total positif covid-19 di Tiongkok yang hampir 84.000 dengan penduduk 1,4 miliar. Bahkan di ASEAN, Indonesia menempati peringkat pertama.

Baca juga: Pegawainya Positif Covid-19, Disdik DKI Akui Belum Dapat Laporan

Ahmad Ali mengingatkan, negara-negara di Asia kini menghadapi ancaman gelombang baru covid-19 setelah sebelumnya sempat mereda.

Indonesia disebut masuk dalam 10 negara Asia yang bakal menghadapi ancaman gelombang kedua covid-19. Sembilan negara lainnya adalah Tiongkok, Hong Kong, Vietnam, Jepang, Filipina, Malaysia, Korea Selatan, Korea Utara, dan Iran.

Baca juga: Karyawan Terpapar Covid-19, Perusahaan Wajib Biayai Rapid Test

Sebagaimana diberitakan, saat ini klaster yang paling potensial menjadi sumber penularan covid-19 adalah perkantoran. Ketika kantor-kantor mulai dibuka, interaksi mulai berlangsung, maka penularan pun meningkat.

Baca juga: Soal 30 Karyawan Positif Covid-19, tvOne: Laporan Siapa?

Permasalahannya, menurut Ahmad Ali, bukan pada kantor, atau pasar atau mal atau moda transportasi, melainkan yang paling utama adalah kedisiplinan dan konsistensi semua pihak dalam melaksanakan protokol kesehatan.

"Jika protokol kesehatan dilonggarkan, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tidak mencuci tangan pakai sabun, dan lain-lain, maka setiap tempat adalah sumber penularan. Ketika di kantor tidak ada pengawasan dan tidak saling mengingatkan maka virus korona akan mudah menular," katanya.

Baca juga: Muncul Klaster Perkantoran di Ibu Kota, Wagub: Kami Sosialisasi

Idealnya, tambah Ali, setiap orang menjadi polisi bagi dirinya sendiri. "Kita prihatin ketika Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat bahwa sebanyak 440 karyawan yang tersebar di 68 perkantoran di Jakarta terpapar covid-19."

Karena berpotensi masuk ke gelombang kedua, Ahmad Ali mengingatkan pemerintah agar bersikap jauh lebih tegas terhadap siapa pun yang mengabaikan atau melanggar protokol kesehatan.

Dia menduga, meningkatnya jumlah kasus covid-19 karena tidak ada pengawasan ketat di areal perkantoran yang kini menjadi klaster baru.

"Kalau mal dan area publik lainnya ada yang mengawasi, lalu siapa yang mengawasi kantor-kantor? Siapa yang bisa menjamin pusat-pusat perkantoran menerapkan ketentuan 50%kapasitas ruang kantor harus kosong?" kata Ali.

Dia mengatakan, upaya mengeliminasi covid-19 masalah kita bersama. "Apa pun hasil kajian pemerintah terhadap trend pandemi covid-19 harus kita kawal. Jangan sampai pemerintah berjalan sendirian mengatasi masalah ini. Kita tidak ingin kita kembali ke masa sebelum pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan."

Ahmad Ali menyayangkan, masa transisi new normal dianggap oleh masyarakat sebagai kembalinya kebiasaan lama sebelum ada covid-19. "Alhasil penularan covid-19 tidak terbendung di saat negara-negara lainnya sudah pada fase landai," katanya.

Dia mengingatkan covid-19 bukan ilusi, juga bukan mitos. "Jadi perlu kesadaran semua dalam melaksanakan protokol kesehatan," katanya. (X-15)

Baca Juga

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Pengamat: Tingkatkan Efektivitas PPJ, Bukan Tatap Muka

👤Ferdian Ananda M 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 17:55 WIB
Menurut Indra Charismiadji, Indonesia belum mau belajar dan mau menyesuaikan kebijakannya agar membuat PJJ daring lebih...
ANTARA/MOHAMMAD AYUDHA

Wagub : Kebutuhan Seribu Kantong Darah, Stok PMI Hanya 200

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 17:51 WIB
Akibat pandemi covid-19, ketersediaan kantong darah di Palang Merah Indonesia menjadi sangat...
ANTARA/Mohamad Hamzah

Sumba Barat Daya Diguncang Gempa Magnitudo 5,0

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 17:35 WIB
BNPB melaporkan terjadi gempa berkekuatan magnitudo 5,0 dengan titik episenter pada kedalaman 10 km di Kabupaten Sumba Barat Daya pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya