Minggu 19 Juli 2020, 20:55 WIB

Dedikasi dan Puisi untuk Sapardi

Adiyanto | Weekend
Dedikasi dan Puisi untuk Sapardi

Penyair Sapardi Djoko Damono
ANTARA/Dodo Karundeng

AWAL Juni lalu, seorang rekan memasukkan saya ke dalam grup whatsapp Festival Hujan Bulan Juni. Grup ini berisi belasan orang alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), lintas jurusan dan  angkatan. Mereka berinisiatif menyelenggarakan festival pembacaan karya-karya Sapardi Djoko Damono. Festival ini dimaksudkan merayakan kepenyairan sastrawan yang juga mantan dekan FIB UI tersebut.

Nama festival diambil dari salah satu karya SDD, demikian Sapardi kerap disapa , Hujan Bulan Juni, “Kita kerja-kerja kebudayaan seperti zaman kuliah dulu, loe ikut bantu-bantu ide ya,” kata rekan saya tadi. Saya mengiyakan, meski di grup itu lebih bersifat pasif. Kebetulan saya juga suka puisi dan mengagumi karya-karya Sapardi.

Festival yang disenggarakan secara daring di instagram dan youtube  ini lumayan mendapat apresiasi dari para pecinta sastra, termasuk kalangan muda. Sejumlah aktor/aktris dan sastrawan, terlibat dalam pembacaan puisi ini, tanpa dibayar. Tidak mesti karya Sapardi, karya penyair lain atau bahkan karya sendiri pun boleh dibacakan.

Tidak mesti pula deklamasi. Gabriel Fernandez, seniman/musisi muda asal Nusa Tenggara Timur yang saat ini sedang kuliah di Jogyakarta, misalnya, ikut menyumbang musikalisasi puisi.  Kelly Tandiano, seorang aktris/model, ikut pula berakting dalam sebuah videopoetry. Karya video ini merupakan penafsiran sutradara film, Lasya F Sutanto atas puisi Sapardi, Sehabis Suara Bergemuruh.

Selain mereka, gaung kepenyairan Sapardi juga bergema di dada Dian Sastro, Marsha Timothy, Lola Amaria, Vino G Bastian, dan lain-lain. Mereka, rata-rata anak muda ini, ikut membacakan karya Sapardi, sastrawan yang disebut cerpenis Kurnia Efendi sebagai penyair (lebih dari) sejuta umat. “Sepi itu bisa memabukkan, tapi juga bisa menjadi inspirasi,” kata Sapardi, saat pembukaan festival ini lewat video yang diunggah di youtube Hujan Bulan Juni Festival. Meski tampak lelah, dia terlihat gembira menyambut festival yang dibuat murid-muridnya ini.

Namun, sepekan kemudian, saya mendengar kabar, sastrawan kelahiran 20 Maret 1940 itu, masuk rumah sakit lantaran HB-nya rendah dan mesti ditransfusi darah. Dan, Minggu (19/7) pagi tadi,  di usianya yang menginjak 80 tahun, satrawan kelahiran Surakarta itu, menutup lembar hidupnya, diiringi doa orang terdekat dan juga puluhan muridnya.

Seperti salah satu puisinya, yang fana adalah waktu, saya yakin karya-karya Sapardi akan tetap abadi. Terima kasih dan selamat jalan pak. Izinkan saya mengenangmu dengan sederhana, melalui salah satu puisi karyamu di bawah ini.

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

jasadku tak akan ada lagi,

tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak akan kurelakan sendiri.

 

Pada suatu hari nanti,

suaraku tak terdengar lagi,

tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

 

Pada suatu hari nanti,

impianku pun tak dikenal lagi,

namun di sela-sela huruf sajak ini,

kau tak akan letih-letihnya kucari.

 

 

 

Baca Juga

Instagram @zeniusuntukguru

Zenius Rilis Platform Pembelajaran untuk Para Guru

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 25 November 2020, 23:00 WIB
ZuG telah membuka akses pembelajaran ini ke lebih dari 6 ribu...
Instagram

Narasi Magis dalam Tradisi Islam Indonesia

👤Bagus Pradana 🕔Rabu 25 November 2020, 19:15 WIB
Memburu Muhammad merupakan buku kedua dari trilogi Islamisme Magis oleh Feby...
Luc Daelemans/Lonely Planet

Asyiknya, Kota ini Punya Jalur Sepeda Melewati Hutan

👤MI Weekend 🕔Rabu 25 November 2020, 16:00 WIB
Jalur sepeda itu melintasi Bosland, hutan terbesar di negara bagian...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya