Jumat 17 Juli 2020, 12:10 WIB

Gizi Buruk Masih Intai Wilayah Jabodetabek

Mediaindonesia.com | Megapolitan
Gizi Buruk Masih Intai Wilayah Jabodetabek

Dok.Pri
Banyak orang tua yang tidak paham apa itu stunting, apa penyebabnya, seperti apa tanda-tandanya dan apa yang harus dilakukan.

 

SEBAGAI daerah penyangga Jakarta, perkembangan pembangunan di Tangerang sebenarnya cukup masif. Infrastruktur yang menjadi parameter masyarakat, dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh signifikan. Tangerang bahkan menjadi kota terbesar ketiga di Jabodetabek yang punya banyak infrastuktur dalam mendukung terciptanya sebuah kawasan hunian yang nyaman.

Bukan itu saja, Pemerintah Kota Tangerang juga telah menerapkan dan mengembangkan konsep Liveable, Investable, Visitable dan E-city yang disingkat menjadi LIVE. Artinya Tangerang sebagai kota layak huni, layak investasi, layak dikunjungi, dan sudah menggunakan teknologi informasi berbasis elektronik.

Baca juga: Tangani Gizi Buruk pada Anak Harus Beriringan Penanganan Covid ...

Sayangnya, berbanding terbalik dengan geliat pertumbuhan infrastruktur, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tangerang yang menjadi indikator keberhasilan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat terbilang rendah. Berdasarkan data BPS, IPM Kota Tangerang sebesar 77,01 merupakan urutan ke 53 IPM kota/ kabupaten se-Indonesia. Sementara Kabupaten Tangerang dengan IPM 70,97 berada pada urutan 145, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Salah satu faktor penentu tinggi rendahnya IPM adalah kecukupan gizi anak di masa 1.000 HPK. Artinya, kecukupan gizi anak sejak dalam masa kandungan hingga berusia dua tahun akan menentukan kualitas anak di masa depan. Asupan gizi yang cukup akan menumbuhkan generasi unggul yang mampu bersaing dengan masyarakat dunia. Karena itu, jika IPM Tangerang – yang hanya berjarak 50 km dari pusat kota Jakarta berada pada urutan bawah, maka kecukupan gizi anak-anak usia dini perlu diperhatikan.
 
Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar mengakui masih banyak anak-anak yang mengalami stunting dan masalah kurang gizi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat ada sebanyak 28,8 persen warganya menderita kurang gizi.

"Stunting ini masih dianggap biasa, padahal ini berdampak pada pertumbuhan anak, masyarakat harus tahu masalah stunting supaya bisa diminimalkan keberadaannya," ujar Ahmed Zaki.

Aktivis kesehatan anak, Yuli Supriati mengatakan di beberapa daerah, stunting masih belum menjadi kekhawatiran masyarakat. Para calon ibu dan ibu muda, dikatakan Yuli masih banyak yang tidak teredukasi mengenai stunting.

“Masyarakat tidak paham apa itu stunting, apa penyebabnya, seperti apa tanda-tandanya dan apa yang harus dilakukan. Saya menemukan, beberapa anak dengan usia 2 tahun, berat badannya hanya 2 kg, tapi orang tuanya masih ngotot anaknya baik-baik saja,” jelas Yuli.

Disebutkan Yuli, dalam kunjungannya ke Puskesmas Tigaraksa, Tangerang beberapa waktu lalu, ia mendapati sebanyak 36 anak usia dibawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak diantaranya berada pada rentang usia 1 – 2 tahun.

Di desa Cileleus, Tigaraksa Tangerang, Yuli bertemu Mutia dan Tegar, dua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Tigaraksa. Mutia dan Tegar berusia 2 tahun, dengan berat badan yang hanya 7  kg. Padahal, untuk anak normal, diusia dua tahun seharusnya memiliki berat badan 14 kg untuk perempuan dan 15 kg untuk laki-laki.

“Pas bayinya mah dikasih ASI, tapi kan bapak ibunya kerja, anaknya dirawat saya. Kalau pas lagi ada (uang), dibeliin susu kaleng, sering juga diutangin di agen,” ujar Amah, nenek yang merawat Mutia. Susu kaleng yang dimaksud Amah adalah kental manis. Amah sendiri sudah tak mengingat sejak kapan cucunya mengkonsumsi susu kental manis sebagai asupan nutrisi. Dalam sehari, Mutia bisa mengkonsumsi 3 – 4 gelas susu kental manis.

Tidak jauh berbeda dengan Mutia, Tegar yang waktu ditemui berada nyaman dalam gendongan ibunya pun seringkali mengkonsumsi susu kental manis. “Kalau lagi nggak punya uang ya nggak dikasih apa-apa, kalau lagi ada beli susu yang sachetan aja di warung,” jelas ibu dari Tegar. Tegar pun dalam sehari bisa minum susu 3 – 4 kali dalam sehari.

Saat Yuli menjelaskan mengenai kandungan susu kental manis dan bahwa kental manis bukanlah minuman susu untuk anak, keluarga Mutia dan Tegar kompak menjawab tidak tahu. Bagi mereka, susu kental manis adalah susu seperti yang diiklankan melalui televisi, rasanya manis disukai anak dan harganya terjangkau. Mirisnya, asupan yang salah itu tidak hanya dialami Mutia dan Tegar. "Ada banyak anak-anak lain yang bernasib sekedar kenyang, tanpa mereka tahu bahwa yang mereka makan dapat menjadi racun bagi tubuh mereka kelak,” jelas Yuli Supriati. (Ant/A-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah

Ada Vaksin, Pengusaha Minta Prokes Tetap Diterapkan Disiplin

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 24 November 2020, 14:53 WIB
Shinta mengatakan prokes harus dilakukan baik oleh kalangan pengusaha di tempat usahanya maupun oleh masyarakat di tempat-tempat umum serta...
Antara

Keterisian RS Rujukan Covid di Jakarta Capai 75%

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 24 November 2020, 14:44 WIB
Anies menyebut keterisian tempat tidur pasien covid-19 per hari ini mencapai...
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Anies: Covid-19 Kembali Melonjak di Jakarta Karena Libur Panjang

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 24 November 2020, 14:35 WIB
Menurut Anies, ketika ada long weekend di akhir Oktober 2020, kasus baru pun naik secara...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya