Kamis 16 Juli 2020, 14:49 WIB

Tiga Aksi Mengerem Fast Fashion

Fetry Wuryasti | Weekend
Tiga Aksi Mengerem Fast Fashion

123RF
Industri mode berkontribusi 10% dari emisi global.

Industri mode bertanggung jawab atas 10 persen dari emisi karbon global tahunan, lebih dari semua emisi penerbangan internasional, menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Padahal, memperpanjang masa pakai barang sampai sembilan bulan mampu mengurangi jejak karbon, air, dan limbah sekitar 20-30 persen per pakaian, menurut Program Aksi Sumber Daya Sampah.

Pemilik dan pendiri Paguro Upcycle, platform ritel untuk hadiah dan aksesori yang terbuat dari bahan daur ulang, Yen Goo, memberi kiat agar masyarakat bisa mengurangi konsumsi pakaian produksi cepat dan massal, dan menyimpan pakaian lebih lama.

1. Ganti iklan untuk promosikan kualitas pakaian, bukan tampilan outfit

Menurut survei baru-baru ini, pandemi telah mengubah masyarakat Eropa menjadi penabung hampir dalam semalam, dengan simpanan di Inggris naik sebesar £ 13 miliar (Rp 238,31 triliun) pada Maret saja.

Ini adalah kesempatan bagi orang untuk menciptakan dunia yang lebih hijau. Orang-orang umumnya menabung lebih banyak selama karantina mandiri karena ketidakpastian atas pekerjaan membuat mereka lebih sadar uang. Jika Anda lebih peduli tentang ke mana uang Anda pergi, ini adalah kesempatan untuk selangkah lebih dekat guna memperbaiki masalah keberlanjutan mode.

2. Butuh aksi untuk kampanyekan fesyen yang berkelanjutan

Setelah peningkatan dalam penularan virus terjadi di beberapa pabrik, pandemi memaksa industri untuk berubah. Krisis coronavirus menyoroti hak-hak pekerja, dan risiko yang ditimbulkan. Pandemi mempengaruhi semua orang, dan epidemi mode cepat hanya membantu ini.

Beberapa merek fashion kini perlahan telah memulai ke arah mode keberlanjutan. Pelanggan memiliki kesempatan untuk memikirkan asal muasal pakaian yang mereka beli, apakah sudah sesuai etika fesyen keberlanjutan.

3. Perlu pengaruh lingkungan pergaulan

Berkurangnya hari libur, hiburan malam, konser, acara pernikahan, telah berarti membangun budaya butuh pakaian baruntiap acara berbeda menjadi mereda. Acara yang menuntut pergaulan secara terbuka mendorong praktik produksi fesyen cepat.

Berkurang tekanan bagi orang untuk merasa perlu membeli pakaian baru terus-menerus, karena toh sedikit kesempatan bagi mereka untuk memamerkannya.

Salah satu tekanan terbesar pada mode cepat adalah influencer. Namun, selama masa karantina mandiri, influencer tidak dapat pergi ke lokasi eksotis untuk pemotretan dengan pakaian musim panas baru, dan banyak bisnis harus mengurangi anggaran influencer.

Influencer pun dengan semua kekuatan yang mereka miliki, perlu memainkan peran mereka untuk mengurangi jumlah merek fesyen cepat yang mereka promosikan. (Euronews/M-2) 

Baca Juga

Sumber: Badan Pusat Statistik/Tim Riset MI-NRC

2019, IDI Capai Angka Tertinggi

👤Sumber: Badan Pusat Statistik/Tim Riset MI-NRC 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 05:00 WIB
DALAM laporan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2019, IDI pada tahun itu berada di angka 74,92 dengan kategori...
MI/SUMARYANTO BRONTO

Haji Teristimewa

👤Sumaryanto Bronto 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 04:05 WIB
MASJIDIL Haram ialah pusat kerindu an umat...
MI/SUMARYANTO BRONTO

Riza Azyumarrida Azra dan Wakhyu Budi Utami: Mengangkat Singkong

👤Bagus Pradana 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 04:00 WIB
Berawal dari keluhan para petani tersebut, Riza segera mencari cara untuk mengolah tanaman itu agar termanfaatkan dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya