Kamis 16 Juli 2020, 07:44 WIB

WHO: Tingkat Imunisasi Anak Menurun Selama Pandemi

Antara | Humaniora
WHO: Tingkat Imunisasi Anak Menurun Selama Pandemi

ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Seorang dokter mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) saat melakukan imunisasi kepada anak di Puskesmas Cisalak Pasar, Depok, Jawa Barat.

 

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan tentang penurunan tingkat imunisasi untuk penyakit seperti campak, tetanus, dan difteri selama pandemi covid-19 yang bisa membahayakan jutaan anak-anak.

"Penderitaan dan kematian yang dapat dihindari yang disebabkan anak-anak yang kehilangan imunisasi rutin bisa jauh lebih besar daripada
covid-19 itu sendiri," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah laporan bersama dengan UNICEF, Rabu (15/7).

Tiga perempat dari 82 negara yang menanggapi survei untuk laporan itu mengatakan mereka menghadapi gangguan terkait covid-19 pada program imunisasi mereka pada Mei 2020.

Baca juga: Isolasi Mandiri dan Kedisiplinan Ada Pada Titik Kritis

Sebagian besar masalah dikaitkan dengan kurangnya peralatan perlindungan pribadi (APD) yang memadai untuk petugas kesehatan, pembatasan perjalanan, dan tingkat staf yang rendah untuk petugas kesehatan. Semuanya menyebabkan layanan imunisasi dicegah atau ditutup.

Setidaknya 30 kampanye vaksinasi campak telah atau berisiko dibatalkan, mengancam wabah baru dari penyakit virus menular tahun ini dan seterusnya, kata laporan itu.

Wabah campak sudah meningkat, menginfeksi hampir 10 juta orang pada 2018 dan membunuh 140 ribu di antaranya, yang kebanyakan adalah anak-anak, menurut data WHO.

Untuk difteri, tetanus, dan batuk rejan, data awal untuk empat bulan pertama 2020 'menunjukkan penurunan yang substansial' dalam jumlah anak-anak yang mendapatkan ketiga dosis vaksin DTP yang melindungi mereka.

Ini merupakan pertama kalinya dalam 28 tahun dunia dapat melihat penurunan cakupan untuk imunisasi rutin anak.

Data 2019 menunjukkan hampir 14 juta anak di seluruh dunia kehilangan vaksin yang menyelamatkan jiwa. Sebagian besar anak-anak itu tinggal di Afrika dan kemungkinan kurang memiliki akses ke layanan kesehatan lainnya.

Penelitian itu menyebut kemajuan pada imunisasi sudah macet sebelum covid-19 muncul dan menyebar ke seluruh dunia, tetapi pandemi ini memperburuk situasi. (OL-1)

Baca Juga

Dok Nusantics Biome Scan

Kenali Microbiome Salah Satu Sumber Masalah Kulit

👤Retno Hemawati 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 21:08 WIB
Meskipun tidak terlihat, keberadaan mereka justru sangat menentukan kesehatan dan imunitas tubuh kita, tak terkecuali...
Ed Jones/AFP via Getty Images

Dalam Deteksi Covid-19, Indonesia Bisa Tiru Model Korea Selatan

👤Deri Dahuri 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 21:04 WIB
Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) berharap tes swab antigen dapat menjadi pilihan dalam mengatasi penyebaran Covid-19 di Indonesia...
MI/ADAM DWI

Disebut Menuai Laba, Begini Tanggapan BPJS Kesehatan

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 21:04 WIB
Ia menjelaskan, Sistem Jaminan Sosial Kesehatan (SJSN) yang menjadi dasar BPJS Kesehatan dalam menjalankan Program JKN-KIS, berpegang pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya