Rabu 15 Juli 2020, 12:15 WIB

Riset dengan DNA Barcoding di Indonesia masih Bisa Dihitung Jari

Zubaedah Hanum | Humaniora
Riset dengan DNA Barcoding di Indonesia masih Bisa Dihitung Jari

AFP
DNA barcoding yang terintegrasi dengan ponsel bisa mengidentifikasi satwa liar yang dijual ilegal, seperti primata kukang di foto ini.

 

LABORATORIUM Biodiversitas dan Biosistematika Kelautan Divisi Hidrobiologi Laut, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University bersama Oceanogen Environmental Biotechnology Laboklinikum menyelenggarakan pelatihan daring mengenai DNA Barcoding, Selasa (14/7).  Pelatihan tersebut ditunjukkan bagi para pemula yang baru mengenal DNA barcoding.

Apa itu DNA Barcoding? Teknik ini digunakan untuk mengurutkan basa DNA yang sangat berbeda-beda antarspesies sehingga dapat dipakai sebagai penanda suatu spesies.

Dr Hawis Maddupa, dosen IPB University sekaligus Kepala Laboratorium Biodiversitas dan Biosistematika Kelautan menjelaskan teknik DNA barcoding dilakukan dengan menggunakan ekstrak dari organisme yang tidak diketahui identitasnya lalu dilakukan DNA sequencing.

"Sebanyak 60% organisme Indonesia belum teridentifikasi. Dengan adanya DNA barcoding, kegiatan mengkarakterisasi spesies organisme dapat dilakukan dengan mudah. Yakni menggunakan urutan DNA pendek, itulah prinsip dasar DNA barcoding," jelasnya seperti dikutip dari laman IPB, Rabu (15/7).

Ia mengungkapkan, untuk memilih DNA barcoding atau primer ada tiga kriteria penting yang menjadi acuan dalam menentukan spesies, yaitu keuniversalan, kekokohan dan diskriminasi.

Di Indonesia sendiri, terang Hawis, penelitian yang berkaitan dengan DNA barcoding khususnya untuk penentuan spesies masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, bila dibandingkan dengan database internasional seperti BOLD (The Barcode of Life Data System), Genbank atau NCBI (National Center of Biotechnology Information), pencocokkan data spesies di Indonesia akan sangat rendah.

“Tugasnya adalah bagaimana kita dapat lebih banyak mem-barcode organisme, anggaplah dari organisme mikro sampai makro, ini kita harus lakukan,” ungkapnya.

Dalam pelatihan tersebut, Dr Hawis juga mempraktikkan DNA barcoding secara sederhana menggunakan aplikasi BLAST NCBI untuk identifikasi spesies kemudian rekonstruksi pohon filogenetik hingga analisis barcoding gap. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Aprillio Akbar

Pakar Epidemiologi: Zona Merah Covid-19 Meningkat

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Senin 03 Agustus 2020, 18:30 WIB
Berdasarkan hasil analisis 15 indikator kesehatan masyarakat terdapat 53 kabupaten/kota yang masuk ke dalam risiko...
Ist

Era New Normal, Startup Alhoritma Bagikan Beasiswa Rp 8 Miliar

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 03 Agustus 2020, 18:00 WIB
Algoritma Data Science School yang merupakan pelopor dalam pendidikan data science di Indonesia mengadakan batch online pertama melalui...
Antara/ Jessica Helena Wuysang

Jatim dan DKI Laporkan Kasus Baru Covid-19 Terbanyak

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Senin 03 Agustus 2020, 17:50 WIB
Jakarta dan jawa Timur masih menempati urutan tertinggi kasus penambahan terinfeksi covid-19. Perlu sanksi yang tegas terhadap pelanggar...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya