Rabu 15 Juli 2020, 06:30 WIB

Hal yang Bisa Tingkatkan Risiko Kematian saat Mendaki Gunung

Fetry Wuryasti | Weekend
Hal yang Bisa Tingkatkan Risiko Kematian saat Mendaki Gunung

Unsplash/ Rahul Dey
Hipotermia dan ketiadaan teman mendaki dapat meningkatkan risiko kematian saat mendaki gunung.

SEJUMLAH jalur pendakian gunung di Pulau Jawa telah dibuka kembali. Diantaranya adalah jalur pendakian Gunung Cikuray, Gunung Papandayang, dan Gunung Lawu.

Pembukaan jalur pendakian itu disambut para pecinta alam. Sayangnya bergairahnya lagi kegiatan pendakian gunung juga diwarnai duka dengan tewasnya beberapa pendaki. Di bulan Juli ini telah tiga pendaki tewas, masing-masing di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat; Gunung Lawu, Jawa Tengah; dan Gunung Tambusisi, Sulawesi Tengah. 

Insiden-insiden tersebut mestinya juga jadi pelajaran bagi para pendaki lain untuk menghindari bahaya serupa. Beberapa pihak berpendapat jika masa jeda pendakian juga dapat membuat para pendaki mengalami penurunan kemampuan dan keterampilan. 

Benarkah demikian? Faktor-faktor apa saja yang bisa meningkatkan risiko kematian saat pendakian? Berikut penuturan anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Bima Saskuandra yang menulis dalam laman Instragram APGI (@apgi_official). Menurutnya dua faktor utama yang meningkatkan risiko kematian adalah:

1. Hipotermia.

Kata ini sudah sering didengar oleh para pendaki gunung, tapi juga sering disepelekan.
"Kata yang sering masuk telinga tapi tidak sampai ke bagian memori otak para pendaki. Akibatnya, sejak 2013 banyak kematian di gunung yang terjadi karena menyepelekan hipotermia," kata Bima.

Hipothermia didefinisikan sebagai kondisi dimana suhu tubuh  manusia di bawah 35 derajat celcius. Kondisi tersebut mungkin terjadi ketika terdapat penurunan produksi panas tubuh (kekurangan asupan) atau peningkatan kehilangan panas tubuh (terpapar udara dingin). 

Tanda-tandanya bergantung temperatur tubuh. Pada hipotermia ringan, sering ditemui pada tubuh menggigil dan kebingungan kesadaran diri (mental confusion). Pada hipothermia sedang, biasanya tubuh tidak menggigil Iagi tetapi lebih ke kebingungan (mental confusion) yang meningkat.

Pada hipotermia akut, kemungkinan terjadi paradoxical undressing, yaitu penderita melepaskan pakaiannya yang justru  makin meningkatkan risiko berhentinya kerja jantung. 


2. Ketidakhadiran Buddy system

Buddy system dalam bahasa Indonesia secara mudah bisa diartikan sebagai "jangan pergi sendiri". ltu alasannya dalam peraturan pendakian Taman Nasional dibuat aturan pelarangan  mendaki sendiri.

Banyak potensi bahaya yang dihadapi saat mendaki gunung, buddy system berguna sebagai alat kontrol, alat pertolongan dan alat meminta tolong.

Jika mendaki gunung berdua atau lebih, para pendaki bisa saling mengingatkan akan bahaya yang dihadapi (alat kontrol). Jika satu pendaki mengalami masalah, ada teman dalam jarak dekat yang bisa menolong. Jika si teman tidak dapat menolong, paling tidak si teman ini bisa mencari bantuan. 

Setelah beberapa bulan tidak mendaki dan (mungkin) tidak berlatih fisik, juga cuaca memasuki musim kemarau yang biasanya rentang suhu di gunung bertambah lebar, ditambah minimnya peralatan (dalam hal ini pakaian) yang dibawa, maka risiko  kecelakaan atau kematian akan meningkat.

"Membangun pengetahuan, keterampikan dan perilaku yang sesuai dengan medan pendakian dan risiko di gunung bukan satu pekerjaan singkat dan mudah, butuh semangat militan untuk membangunnya secara bersama sama," kata Bima.

Pada 3 Juli kemarin,  di gunung Rinjani jalur Torean, satu kematian tercatat atas nama Sahli (36), yang tewas karena jatuh ke jurang saat menuruni jalur danau Segara Anak. Dia bersama 14 rekannya diketahui mendaki secara ilegal. Taman Nasional Gunung Rinjani baru membuka wisata untuk non pendakian dan masih menutup izin pendakian.

Pada 7 Juli, di Gunung Lawu Jawa Tengah, Andi Sulis Setiawan (18) ditemukan cukup jauh dari lokasi kemah, dalam keadaan tewas akibat jatuh sedalam 7 meter dari jalur, dan tanpa mengenakan baju. Sebelumnya Andi mengantar teman pendaki perempuan untuk buang air kecil, namun kemudian Andi hilang dan tidak ditnemukan oleh temannya.

Pada 10 Juli, di Gunung Tambusisi, di Sulawesi Tengah, M Faisal, ditemukan tewas hanyut di tepi sungai, setelah berjalan sendiri mendahului kelompoknya. Dia merupakan anggota muda Mapala Universitas Tadulako. (M-1)

Baca Juga

Dok Nona

Brand Lokal Nona Berkonsep Loose Wear, Lahir dari Engineer

👤Retno Hemawati 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 23:55 WIB
Untuk setiap detail cutting design koleksi pakaiannya sangat diperhatikan karena berasal dari tangan wanita seorang mantan...
AFP

Netflix Buka Lebar Produksi Konten Lokal

👤Antara 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 21:27 WIB
Netflix selalu menerima segala masukan mengenai tayangan yang ingin dilihat masyarakat Indonesia, termasuk tayangan original bermuatan...
Dok Netflix

Bioskop Diyakini Tetap Tak Tergantikan

👤Fathurrozak 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 19:55 WIB
Setelah pandemi, keberadaan bioskop akan berdampingan dengan VoD...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya