Selasa 14 Juli 2020, 04:15 WIB

Akselerasi Vaksin Nasional Covid-19

Yordan Khaedir Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Doktor Imunologi dari Chiba University Jepang, Dokter Relawan Covid-19 RSKD Duren Sawit Jakarta Timur | Opini
Akselerasi Vaksin Nasional Covid-19

Dok. Pribadi

PANDEMI corona virus disease 2019 (covid- 19) belum menunjukkan kepastian kapan akan berakhir. Menurut CEBM Oxford University, Indonesia menjadi negara dengan persentase tingkat kematian akibat covid-19 yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara dengan persentase case fatality rate (CFR) covid-19 sebanyak 5,56-6,07%.

Saat ini obat antivirus yang tepat dan efektif untuk SARSCoV-2 maupun vaksin Covid- 19 belum juga ditemukan.

Oleh karena itu, pembatasan sosial dan fisik dengan ketat, dan pemberlakuan protokol kesehatan dalam berinteraksi sosial, seperti penggunaan masker dan peralatan pelindung diri dilakukan demi mencegah penularan.

Beberapa waktu lalu Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah mengumumkan bahwa Indonesia akan memulai produksi massal vaksin covid-19 pada pertengahan 2021.

Dorongan pemerintah agar Indonesia memiliki kemandirian nasional terkait produksi dan pengembangan vaksin merupakan sinyal yang positif bagi para peneliti dalam negeri, untuk segera memulai dan mengakselerasi riset terkait vaksin covid-19.

Beberapa Lembaga penelitian seperti PT Bio Farma yang menggandeng Lembaga Biomolekuler Eijkman, dan PT Kalbe juga dikabarkan telah memulai proses pengembangan vaksin covid-19.


Kriteria dan tahapan produksi

Ada beberapa kriteria umum yang harus dipenuhi ketika memproduksi dan mengembangkan vaksin covid-19. Pertama adalah faktor keamanan vaksin yang ketika digunakan, vaksin tidak menimbulkan efek samping berbahaya bagi pemakainya. Mengingat, vaksin akan digunakan pada orang sehat atau tidak memiliki kontraindikasi medis.

Kedua ialah kemampuan vaksin untuk merangsang respons imun tubuh secara efektif. Dengan terbentuknya respons imun yang adekuat setelah pemberian vaksin, virus SARS-CoV-2 yang dikenali dengan cepat pada saat pajanan infeksi, diharapkan akan tereliminasi secara sempurna di dalam tubuh.

Ketiga, vaksin mampu bertahan pada suhu lingkungan sekitar. Tidak jarang vaksin ketika akan digunakan sudah tidak potensial lagi karena kontaminasi suhu lingkungan atau telah terurai komposisinya.

Sebelum vaksin Covid-19 diproduksi secara massal, ada beberapa tahapan yang harus dilewati. Secara umum tahap pertama proses produksi vaksin ialah eksplorasi dan penentuan bahan dasar terbaik vaksin.

Tahap ini menentukan apakah vaksin akan dibuat secara alami dengan menggunakan virus SARS-CoV-2 yang sudah dilemahkan (live attenuated), virus yang sudah dimatikan (inactivated) atau bagian virus yang dibuat secara sintetis, berupa protein rekombinan/subunit protein virus. Sehingga, diharapkan lebih terjamin keamanannya.

Tahap kedua ialah uji praklinik yang dilakukan pada kultur jaringan sel target dan hewan coba untuk dinilai efektif, atau tidaknya kandidat vaksin dalam merangsang respons imun dan memproduksi antibodi memori. Banyak kandidat vaksin yang kemudian gagal di tahap ini. Karena, tidak mampu menghasilkan respons imun yang adekuat, dan bahkan tidak dapat membentuk antibodi memori yang tepat untuk virus target.

Kemudian tahap berikutnya, ialah tiga tahapan pada uji klinik pada manusia, yakni uji klinik fase I, dimana vaksin akan diuji coba keamanannya pada subjek penelitian manusia dengan jumlah yang kecil.

Kemudian, uji klinis fase II untuk menilai reaspon imun yang terbentuk dan menentukan jumlah dosis yang akan diberikan, dan uji klinis fase III dilakukan dengan target subjek penelitian lebih banyak (biasanya jumlahnya ribuan), untuk mengetahui efek samping dan keamanan vaksin yang mungkin tidak terjadi, ketika diuji coba pada kelompok kecil.

Setelah dinyatakan lolos pada keseluruhan tahapan uji klinis, produsen vaksin akan mengajukan aplikasi untuk mendapat lisensi internasional, dan mendapat persetujuan layak produksi. Dan akhirnya, harus dilakukan uji kontrol kualitas melalui sistem pelaporan efek samping penggunaan vaksin (VAERS) dan datalink keamanan penggunaan vaksin.


Konsorsium vaksin nasional

Proses penemuan vaksin umumnya membutuhkan proses yang panjang dan melibatkan stakeholder, yang tidak hanya terdiri dari ilmuwan di bidang sains kedokteran/kesehatan, tetapi juga, pemegang kebijakan (policymaker). Banyaknya tahapan produksi dan pengembangan vaksin covid-19 membuka peluang bagi peneliti dalam negeri untuk melakukan riset awal, baik itu terkait bahan dasar vaksin, komposisi vaksin sampai dengan uji klinik.

Di sini letak kemandirian bangsa Indonesia teruji. Dengan merintis riset vaksin dalam negeri juga dinilai akan mengurangi rasa kekhawatiran dan ketidakpercayaan beberapa kelompok masyarakat Indonesia yang masih antivaksin.

Di mana, komunitas ini nselalu merragukan produk vaksin serta meyakini vaksin sebagai hasil dari konspirasi dan kepentingan bisnis global.

Dukungan Presiden Joko Widodo yang selalu mengutamakan kemandirian bangsa, juga perlu diimplementasikan dengan tersedianya dana yang cukup bagi penelitian dan pengembangan vaksin dalam negeri.

Pembentukan konsorsium vaksin nasional covid-19 mungkin saja diperlukan agar tercipta akselerasi pengembangan vaksin yang terukur dan terencana dengan baik.


Kerja sama dan kolaborasi

Mengingat pentingnya akselerasi penemuan vaksin covid-19 sebagai cara yang paling aman, dan efektif, untuk menghentikan pandemi global, Indonesia sudah seharusnya juga berperan aktif, baik pada kolaborasi riset vaksin internasional.

Kemandirian bukan berarti mampu melakukan sendiri semua tahapan produksi dan pengembangan vaksin. Pengembangan vaksin covid-19 tidak akan menuai hasil yang optimal tanpa disertai kerja sama dan kolaborasi internasional.

Sudah saatnya bangsa Indonesia tidak hanya berperan menyediakan informasi genetik virus galur Indonesia dan menjadi konsumen vaksin covid-19. Indonesia harus memiliki bargaining position dan strategi diplomasi sains yang baik di dunia internasional.

Mutual Transfer Agreement (MTA) yang dibuat nantinya harus diperhatikan secara ketat dan transparan agar tidak terjadi pencurian data sekuens biologis yang penting, dalam tahap awal pengembangan vaksin. Vaksin yang diproduksi nantinya harus memiliki lisensi yang tidak eksklusif menjadi monopoli produsen vaksin dan nonprofit.

Dengan sinergitas para stakeholder dan juga tersedianya sumber daya manusia Indonesia yang cakap, terampil, memiliki kepakaran riset imunologi, dan vaksin yang tersebar di berbagai universitas atau lembaga riset di Indonesia, proses kemandirian bangsa untuk mampu menghasilkan vaksin covid-19 produksi anak negeri bukan suatu hal yang mustahil akan terwujud.

Baca Juga

MI/DUTA

Kesehatan Mental Siswa di Tengah Pandemi Covid-19

👤Seto Mulyadi, Ketua Umum LPAI, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma 🕔Senin 03 Agustus 2020, 06:00 WIB
Kini, masalahnya justru terbalik. Hasil pengamatan saya, tidak sedikit anak-anak yang rindu segera kembali ke...
MI/LILIK DHARMAWAN

Kesehatan Mental Siswa di Tengah Pandemi Covid-19

👤Seto Mulyadi Ketua Umum LPAI, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma 🕔Senin 03 Agustus 2020, 04:05 WIB
Memaksa anak untuk selalu berbahagia, apalagi dengan cara mengingkari suasana hati kebalikannya, ialah praktik kekerasan yang justru patut...
Dok.pribadi

Mewaspadai Bunuh Diri di Tengah Pandemi

👤Udin Suchaini, Fungsional Statistisik di Direktorat Statistik Ketahanan Sosial, BPS 🕔Sabtu 01 Agustus 2020, 13:00 WIB
pengangguran, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, terlebih kehancuran keluarga, manjur mendorong seseorang mengakhiri...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya