Minggu 12 Juli 2020, 01:34 WIB

Konvergensi Berdenyut di Kedoya

Ade Alawi | Humaniora
Konvergensi Berdenyut di Kedoya

Dok NRC
Webinar Media Group News

 

HAMPIR lima jam peserta pelatihan jurnalistik bertahan. Namun, ini bukan pelatihan jurnalistik biasa alias tatap muka langsung, melainkan dilakukan secara virtual alias tatap layar.

Meski dilakukan secara daring, 130 peserta bertahan hingga menjelang maghrib pada Pelatihan jurnalistik yang diikuti koresponden/kontributor Media Indonesia, Metro TV, Medcom.Id, dan jurnalis Harian Umum Lampung Post, Sabtu (11/7).

Dalam pelatihan yang diselenggarakan News Research Center (NRC) Media Group News dan Media Academy itu ikut memberi sambutan Vice Presiden Media Group News Don Bosco Selamun dan Direktur Pemberitaan Media Indonesia/Direktur Utama PT Masa Kini Mandiri/Harian Umum Lampung Post Usman Kansong.

Pelatihan yang dimoderatori peneliti NRC yang juga wartawan senior Metro TV Saikhu Baghawi ini berlangsung cair bin gayeng. Peserta yang terdiri dari 34 provinsi dan sejumlah kabupaten/kota di Indonesia antusias bertanya mulai soal kebijakan sampai hal-hal yang bersifat teknis kepada para narasumber.

Koresponden MI di Karawang, Jawa Barat, Cikwan Suwandi, mempertanyakan sejumlah beritanya yang tidak terbit di korannya. "Kenapa tidak terbit, bagaimana standar penilaiannya." Pertanyaan yang sama juga disampaikan Kontributor Metro TV di Sumenep Madura, Rahmatullah.

Menjawab hal itu, Head News Research Center (NRC) Media Group News Ade Alawi yang membawakan materi "Teknis Menulis Straight News dan Feature" mengatakan tidak semua berita yang dikrim dari daerah ke markas Media Group di Kedoya, Jakarta Barat, dipastikan dimuat atau ditayangkan.

"Redaksi berpatokan pada news value (nilai-nilai berita), seperti magnitude (getaran), impact (dampak), prominent (keterkenalan), unusual (keluarbiasaan). Secara prominent adalah orang biasa, tetapi apa yang dilakukannya luar biasa (unusual) dan menginspirasi banyak orang, itu layak muat/tayang," kata Ade yang juga Kepala Divisi Content Enrichment MI ini.

Koresponden MI di Surabaya, Jawa Timur, Faishol Taselan, mengangkat permasalahan mekanisme peliputan dalam konteks konvergensi. "Di Jatim hampir di semua daerah terisi jurnalis di semua platform di Media Group News. Bagaimana agar tak menumpuk di satu tempat?," katanya.

Kabul Indrawan, News Gathering Manager Metro TV, mengatakan, hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi bila terjadi komunikasi yang baik dari daerah ke Jakarta. "Dengan korlip (koordinator liputan) bersama di masa konvergensi semua platform duduk bareng membahas proyeksi peliputan," ujarnya.

Selain Ade Alawi dan Kabul Indrawan, hadir narasumber Dwi Yudi, Senior Camera Person Metro TV, Rahdini Ikaningrum, Senior Produser Program Investigasi Metro TV, dan Lilik Darmawan, Koresponden MI di Banyumas, Jawa Tengah. Khusus Rahdini dan Lilik, keduanya banyak membagi kisahnya atas prestasi yang diraih.

Rahdini meraih penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoo 2019 dan Lilik menyabet juara kepenulisan dan foto tingkat nasional, seperti bidang Otonomi Daerah Kemendagri, Kementerian ESDM, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Di tempat yang sama, Vice Presiden Media Group News Don Bosco selamun dan Direktur Pemberitaan Media Indonesia mengapresiasi pelatihan jurnalistik yang dilakukan secara daring. Don Bosco Selamun mengatakan memasuki era konvergensi tidak mudah.

"Diperlukan perubahan mindset, dari yang tadinya bekerja secara sendiri-sendiri sesama unit bisnis Media Group News menjadi bekerja secara bersama-sama," kata Don yang juga Direktur Utama Metro TV ini.

Era konvergensi, kata dia, merupakan kesempatan kepada jurnalis untuk mempelajari hal-hal baru. Misalnya, jurnalis Harian Media Indonesia yang tadinya hanya menguasai media cetak, menjadi memiliki kemampuan dalam dunia televisi di Metro TV.

Don bersyukur langkah ke arah konvergensi sudah bergerak dengan koordinator liputan bersama, agenda setting bersama, dan saling mengisi konten pemberitaan antarplatform di Media Group News. Tak hanya di bagian redaksi, lanjutnya, di bagian sales marketing pun sudah menyatu. "Tak ada jalan mundur atau jalan pulang. Kita harus maju terus dengan konvergensi," pungkasnya.

Setali tiga uang, Usman Kansong mengamini perlunya konvergensi. Sebenarnya, lanjutnya, konvergensi di Media Group News bukan hal yang baru.

"Ketika saya Koordinator Daerah di Metro TV pada 2003 saat Metro TV baru berusia tiga tahun dan belum memiliki jaringan kontributor, kita melatih koresponden MI untuk berkemampuan dalam bekerja di dunia televisi. Mereka bekerja untuk Metro TV," jelas Usman.

Bahkan, sambungnya, Program "Bedah Editorial Media Indonesia" setiap pagi di Metro TV merupakan bukti nyata konvergensi. "Jadi, apa yang kita lakukan hari ini adalah untuk menguatkan konvergensi," tandasnya. (R-1)

Baca Juga

Medcom

YLKI Tuding Pejabat Publik Picu Munculnya Obat Covid-19 Abal-Abal

👤Kautsar Bobi 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:14 WIB
Saat ini, obat-obat herbal yang diklaim dapat membunuh virus korona telah memenuhi lini media...
DOK KEMENDIKBUD

Cerdas Berliterasi pada Asesmen Kompetensi Minimum

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:05 WIB
Peringkat nilai PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 adalah Membaca (peringkat 72 dari 77 negara), Matematika (Peringkat  72...
ANTARA/M Agung Rajasa

Indonesia Butuh 500 Juta Dosis Vaksin Covid-19

👤 Insi Nantika Jelita 🕔Senin 10 Agustus 2020, 11:50 WIB
Hal itu didapat dari perhitungan bahwa kebutuhan vaksin se-Indonesia cukup 64% jumlah penduduk yang 260 juta. Lalu dikalikan dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya