Minggu 12 Juli 2020, 00:55 WIB

Seni di Tengah Pandemi

Abdillah Marzuqi | Weekend
Seni di Tengah Pandemi

MI/Andri Widiyanto
Pengunjung sedang memperhatikan karya seni rupa yang dipamerkan di Galeri Kertas, Depok, Jawa Barat

“SENI tanpa keprihatinan hidup adalah omong kosong,” ucap seniman Hanafi mengawali obrolan. 

Kala itu, Media Indonesia tengah berbincang dengannya terkait Pameran 60 Tahun dalam Studio, yang berlangsung pada 5 Juli-5 Agutus 2020 di Galerikertas, Depok, Jawa Barat.

Patutlah ia berkata demikian. Menurutnya, segala teknik menggambar ataupun melukis, termasuk medium, sudah demikian bebas. Seni hanya berhenti pada kata indah, ketika tidak berpijak pada situasi sosial dan tanpa keprihatinan hidup.

“Apalagi saat pandemi ini, banyak sekali yang tidak terbingkai. Saya ingin bisa memakai cara melihat yang pas dalam gambar, dalam menguji media, menguji teknik, menguji konsep, menguji acuan. Jadi karya ini lahir dari situasi itu, dan ini tidak bisa hadir atau tidak lahir kalau tidak ada situasi ini,” tegasnya.

Kali ini, karya yang yang disajikan memang berbeda dengan pameran Hanafi sebelumnya. Dia biasa menampilkan karya yang berukuran besar dengan medium kanvas. Hanafi dikenal dengan kegagahan garis dan kekuatan sapuan. Pandemi membuat dia berada dalam ruang yang lain.

“Ada intentitas yang berbeda dari karya Hanafi sebelumnya. Kali ini kita akan lebih banyak melihat intensitas garis. Meskipun Hanafi sudah sejak dulu menunjukkan capaian yang mengagumkan soal garis, situasi pandemi ini memberikan tekanan yang berbeda,” terang Kurator Galerikertas Heru Joni Putra.

Hanafi memilih kertas berukuran 14 x 48 cm sebagai media. Setidaknya, ada 25 gambar yang dipajang di ruang pamer lantai dua, lalu 25 gambar di lantai bawah. Ditambah lagi gambar Vincent van Gogh berukuran besar yang digambar langsung di dinding galeri. Tentu saja,
ukurannya sebesar dinding.

Menggambar dalam dimensi kecil ternyata membuat Hanafi menemukan nilai seni yang menakjubkan. Awalnya, selembar kertas buku terbuka yang berukuran 14 x 48. Ia lalu membaginya menjadi dua berdasarkan lipatan bawaan buku. Pembagian itu masih menyisakan garis tegas yang tepat berada di tengah.

“Ternyata itu kesenian saya. Menurut saya, itu kesenian saya jadi vertikal, ke Tuhan,” tandasnya.

Selain itu, menggambar dalam ukuran kecil membuatnya kembali menyelami detail yang jarang ia dapatkan ketika melukis dengan dimensi besar. Ternyata, kata Hanafi , dalam metrik atau satuan kecil itu dia bisa lebih detail, lebih hatihati, dan lebih presisi, dan tidak lagi bergaya-gaya mengenai corak lukisan.

“Apa saja saya sampaikan secara lugas,” tegasnya.

Jika dalam lukisan besar, bahu mendapat peran dominan. Gambar kecil justru melatih jemarinya. Ia bersentuhan dengan perasaan yang halus dan peka.

“Jadi ini munculnya perasaan-perasaan halus lagi. Apalagi saya melukis tembok dan segalanya, batu-batunya saja terasa,”  tambahnya.

Kesadaran membuncah kala itu. Keprihatian, dorongan sosial, berpadu dengan pilihan media dan teknik. Hasilnya ialah perhatian terhadap hal-hal kecil.


Tanpa judul

Setiap karya tidak berjudul. Kebebasan menjuduli itu ada pada audiens atau pemirsa. Hanafi tidak hendak memaksa penikmat seni untuk mengikuti judul yang biasanya dipampang di samping lukisan. Mereka justru diajak melihat puing-puing dari seri gambar yang ia sajikan. 
Lalu mereka akan dibimbing untuk menyelami lebih dalam semesta yang ada di balik bingkai itu. Baginya, setiap bingkai adalah puing. Laksana irisan-irisan dari sebuah bangun besar suasana covid-19.

“Itu series saja. Bahwa itu di bawah judul yang sama suasana covid-19 saja, jadi tidak penting lagi membuat satu satuan judul. Itu akan memberatkan. Toh, judul itu sudah ada di penonton sendiri dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.

Menariknya, ada tiga objek yang banyak diangkat Hanafi dalam pameran kali ini, yakni jagung, tokoh pelukis, dan kuas rol. Yang terakhir tampak lebih dominan kemunculannya. Tiga objek itu bukan hadir begitu saja, ada pemikiran dan gagasan besar di baliknya.

Dalam beberapa seri gambar, tampak kuas rol yang ditutup masker ataupun tercekat dalam tembok. Kesannya, aktivitas seni terhenti gegara pandemi.

“Alat lukis yang paling dekat dengan saya waktu sebelum adanya covid ini ialah rol dengan kanvas. Lockdown ini kan seperti menyiratkan bahwa alat ini tidak lagi akan berputar, untuk diistirahatkan,” sambungnya

Ia juga menyoroti soalan hoaks lewat objek jagung. Jika pernah mendengar istilah ‘hanya seumur jagung’, makna itulah yang kiranya mirip dengan pengetengahan tema hoaks hanya seumur jagung.

Artinya hoaks hanya akan lewat meskipun saat hoaks menyebar, seorang dituntut awas dan waspada untuk mendapati kebenaran di antara tumpukan berita bohong. Ada satu lukisan karya Hanafi mengenai Vicent van Gogh. Gambarnya memenuhi dinding bagian dalam ruang galeri. Beda dengan gambar lain yang berada dalam bingkai dengan nuansa gelap, gambar Van Gogh justru berbeda penuh warna yang terkesan semarak.

Padahal, kisah hidup Van Gogh ialah menyusuri jalan seni dengan penuh penderitaan. “Itu seniman-seniman yang ternyata juga terisolasi. Dalam arti, dia bukan orang kebanyakan. Itu kan isolasi tersendiri, tidak hanya covid-19,” urainya.

Mereka adalah orang yang teralienasi oleh keadaan sosial. Meski demikian, ada pelajaran yang hendak disampaikan dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Cobalah dilihat penderitaan Van Gogh, (tapi) tetap berjalan. Jadi tidak putus asa,” tegasnya.


Protokol pameran

Beda teknik penyajian, beda pula aturan kunjung. Pameran itu dengan sadar digelar semasa pandemi. Bahkan boleh jadi jadi ini pameran tunggal pertama yang digelar secara fisik selama vakum pandemi. 

Ada protokol kesehatan yang ketat. Jumlah pengunjung dibatasi, harus cuci tangan, lolos pemeriksaan suhu tubuh, dan jaga jarak. Segalanya dilakukan untuk membuat pameran seni kembali berdenyut.

Dua gentong besar di muka galeri menjadi penanda. Belum lagi tanda lingkaran yang ada dalam ruang pamer. Semua itu diadakan demi pengunjung tetap aman sembari menyamankan yang lain. “Ini berani pemeran ini kan termasuk potret tidak mau luruh dalam situasi. Kan sebenarnya bukan dilarang pameran, tapi pakai aturan. Nah, aturan itu yang kemudian menjadi pengorbanan-pengorbanan kita,” ujarnya.

Menurut Hanafi, pameran bukan hanya soal orang bisa melihat karya. Dalam pameran tersimpan kebutuhan orang untuk dilihat sebagai pengunjung pameran seni. Itulah jawaban ketika banyak menjumpai penikmat seni yang berswafoto dalam galeri seni. Padahal hal seperti itu tidak terakomodasi dalam pameran daring.

Selain itu, pameran penting bagi edukasi. Ketika aktivitas seni di Galerikertas terhenti, proses edukasi seni pun mandek. Dalam pameran itu ada alih pengetahuan, ilmu, teknik, gagasan, dan pemikirian di antara banyak individu dari pelaku maupun penikmat seni.

“Tetapi kalau kita menunggu sampai lama tidak pameran, generasi muda juga tidak mempunyai tempat untuk latihan pameran,” pungkasnya. (M-4)

Baca Juga

Instagram @jettonefilms

Blossoms Shanghai, Serial Televisi Perdana Wong Kar-wai

👤Fathurrozak 🕔Senin 03 Agustus 2020, 15:50 WIB
Sutradara Wong Kar-wai akhirnya mengkonfirmasi Blossoms Shanghai akan menjadi penyelaman pertamanya dalam produksi serial...
123RF

Pandemi jadikan Bumi lebih Hening

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 03 Agustus 2020, 12:13 WIB
Gelombang seismik akibat aktivitas manusia diperkirakan menurun rata-rata 50% pada periode Maret-Mei...
MI/Ramdani

5 Hotel Baru di Bali ini Siap Sambut Wisman Mulai September

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 03 Agustus 2020, 08:05 WIB
Terletak hanya beberapa menit dari Tanah Lot, salah satu tempat suci Hindu paling dihormati di Bali, resor ini dikelilingi hutan dan sawah...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya