Minggu 12 Juli 2020, 00:10 WIB

Merindu Pertunjukan Musik Langsung

Fathurrozak | Weekend
Merindu Pertunjukan Musik Langsung

ANTARA
Kelompok musik Navicula beraksi dalam penampilan bertajuk Navicula Corona Concert di Denpasar, Bali,

DI tengah keriuhan konser virtual yang kini mulai mereda, pertunjukan musik langsung masih yang paling dinanti dari berbagai pihak. 

Konser kendara (drive-in concert) yang dihelat Berlian Entertainment ialah salah satu skema yang akan dilakukan pada Agustus. Namun, skema itu tidak cocok untuk semua musikus atau menyesuaikan jenis musiknya.

Java Jazz Festival merupakan praktis acara musik berskala besar yang terakhir berlangsung, sebelum kemudian penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak pertengahan Maret.

Meski kini di DKI Jakarta sudah dikeluarkan izin untuk acara musik live, seperti untuk konser kendara, dan bioskop pun segera dibuka, para pelaku industri pertunjukan masih menimbang skema yang nantinya akan diberlakukan.

“Kondisinya sampai sejauh ini, kami para promotor, ada dari Synchronize, Java Production, Berlian, Rajawali, masih melakukan pemaparan ke Kemenparekraf, Kemendikbud, dan juga pemerintah daerah terkait protokoler yang nanti diberlakukan,” jelas Head of Production Demajors Kiki Aulia Ucup dalam diskusi virtual Inovasi dan Gebrakan dalam Industri Pertunjukan Musik, Kamis (9/7).

“Protokoler penonton yang masih kita paparkan, bagaimana orang menontonnya agar physical distancing-nya juga terlaksana, standardisasi WHO juga masih terlaksana, itu masih jadi diskusi. Kalau drive-in lebih minim ada kontak fisik antara penonton karena mereka di dalam mobil. Yang memang belum tersosialisasikan bagaimana protokoler untuk pertunjukan berskala besar,” tambah Ucup.

Salah satu yang masih jadi perhatian utama dari musisinya ialah ketika kelak pertunjukan musik langsung diizinkan, bagaimana ajang konser tidak menjadi klaster baru penyebaran SARS-CoV-2. Apa lagi, di Indonesia, penyebaran covid-19 belum tampak tanda-tanda melandai.

Armand Maulana, frontman band Gigi, menyebut bahwa konser musik ialah luapan emosi sehingga cukup sulit untuk mengontrol pergerakan khalayak yang menikmati di lokasi. “Live secara off air memang tidak bisa tergantikan vibe-nya. Berbicara penonton, nanti ketika ada konser off air, pasti akan berkurang,” kata Armand.

Sementara itu, Bens Leo yang juga hadir dalam diskusi virtual tersebut menyatakan bahwa konser dalam ruang masih memungkinkan. Dengan terbatasnya jumlah penonton dan lebih memudahkan melacak penonton yang hadir.

“Tinggal siapa performer-nya. Tentu yang dilakukan seperti drive-in itu tidak bisa dilakukan untuk semua musikus. Konser indoor lebih memungkinkan untuk mengontrol penonton yang hadir.”

Ucup yang juga menjadi direktur program untuk Synchronize Fest menyatakan hingga Juli ini sudah ada 15 ribu tiket terjual. Synchronize mulai menjual tiket untuk penyelenggaraan awal Oktober nanti sejak tahun baru. Nantinya, sebulan menjelang festival pihaknya akan
melakukan pendataan bagi semua penonton yang sudah membeli tiket.

“Masalah yang paling penting juga ialah soal pendataan. Nanti H-30 acara akan didata setiap pembeli tiket kondisinya seperti apa, suhu mereka, aktivitas mereka ke mana saja, jadi kita bisa tracing saat terjadi hal yang tidak diinginkan. Yang perlu dipikirkan juga sebenarnya tidak hanya di dalam venue, tetapi saat para penonton ini datang ke festival, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain bahkan sejak di parkiran. Itu yang perlu jadi perhatian juga nantinya.”

Sejauh ini, opsi untuk melakukan konser streaming masih jadi yang paling akhir bagi Synchronize atau bahkan malah tidak jadi pilihan. Menurut Ucup, tidak ada yang bisa menggantikan energi dari perayaan langsung. Ia malah menyebut, ketimbang dilakukan secara streaming, lebih baik tidak perlu dipaksakan untuk tetap berlangsung.


Platform daring untuk semua 

Di tengah penantian skema dan protokol yang akan diberlakukan untuk pertunjukan musik langsung, situasi konser daring yang sempat ramai kini mulai mereda. 

Pasalnya, tidak ada kebaruan yang terjadi. Menurut Armand, saat ini perlu inovasi agar konser daring tetap menarik untuk ditonton dan dinikmati.

“Sekarang konser virtual itu sudah ada semua ‘rasanya’. Tinggal pilih yang mana, mau asin, manis, sudah tersedia. Yang perlu dilakukan adalah ide-ide baru dan dengan gimmick yang menarik.” 

Meski konser daring tampak menemukan titik jemunya, hal itu juga mendorong munculnya peluang baru bagi para pelaku musik. Seperti semakin meleknya para musikus untuk memanfaatkan kanal digital sebagai salah satu aktivasi mereka. Sayangnya, ini tidak ditangkap pemerintah sejak jauh hari. Itu pula yang disayangkan Armand dan Ucup ketika justru pihak swasta yang mengoptimalkan terlebih dahulu.

“Lebih bagus lagi kalau pemerintah sediakan platform digital gratis. Jadi kasih saja panggung gratis ke pelaku musik. Harusnya mereka bisa sediakan platform ini.”

“Sebenarnya musik akan lebih bisa hidup kalau di awal pandemi kemarin pemerintah punya inisiatif. Harapannya kan pemerintah bisa sediakan wadah. Bikin platform, jangan mengharap ke swasta. Yang terjadi saat ini ketika juga banyak konser daring, kekurangannya adalah bagaimana mereka band atau musisi yang digital present-nya enggak bisa lakukan sesuatu. Kalau dari awal Maret pemerintah bikin platform baru untuk industri kreatif, setidaknya kita punya solusi,” jelas Ucup yang mengamini permintaan Armand ke pemerintah.

Saat ini, dengan ramainya konser daring membuat semakin meleknya musisi pada berbagai kanal penyaluran karya mereka. Armand menganggap, kini orang jadi semakin lazim untuk mengeluarkan uang mereka untuk konser daring. Selain itu, menurut Ucup, ke depannya juga akan mendorong industri musik ke halhal yang belum dilakukan sebelumnya dan semakin mumpuni dari yang pernah dilaksanakan. (M-2)

 

Baca Juga

Instagram @jettonefilms

Blossoms Shanghai, Serial Televisi Perdana Wong Kar-wai

👤Fathurrozak 🕔Senin 03 Agustus 2020, 15:50 WIB
Sutradara Wong Kar-wai akhirnya mengkonfirmasi Blossoms Shanghai akan menjadi penyelaman pertamanya dalam produksi serial...
123RF

Pandemi jadikan Bumi lebih Hening

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 03 Agustus 2020, 12:13 WIB
Gelombang seismik akibat aktivitas manusia diperkirakan menurun rata-rata 50% pada periode Maret-Mei...
MI/Ramdani

5 Hotel Baru di Bali ini Siap Sambut Wisman Mulai September

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 03 Agustus 2020, 08:05 WIB
Terletak hanya beberapa menit dari Tanah Lot, salah satu tempat suci Hindu paling dihormati di Bali, resor ini dikelilingi hutan dan sawah...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya