Sabtu 11 Juli 2020, 02:50 WIB

Adaptasi di Panggung Fesyen

Fetry Wuryasti | Teknologi
Adaptasi di Panggung Fesyen

AFP
Pengambilan gambar seorang model dengan busana rancangan desainer Stephane Rolland sebagai bagian dari pagelaran adibusana virtual di Paris

TAHUN 2020 menjadi sejarah krisisnya pameran busana musim semi di berbagai kiblat mode dunia.

Penerapan karantina mandiri di rumah demi menekan penularan infeksi telah mengubah kalender pekan mode dan menimbulkan keharusan untuk berinovasi. Salah satu yang mulai dijajaki ialah peragaan busana secara virtual.

Meskipun alternatif virtual dinilai belum mampu bersaing pagelaran fesyen di dunia nyata, transisi catwalk ini tetap dicoba. Chandralika Hazarika dan Shivang Desain, pendiri Bigthinx, yang menawarkan teknologi kecerdasan buatan, baru-baru ini menghelat catwalk virtual langsung perdana di dunia, untuk Fashinnovation, sebuah platform bisnis yang menghubungkan desainer dengan inovator teknologi dalam industri.

Hazarika menjelaskan, inovasi itu diawali permintaan klien untuk pemotretan virtual pakaian mereka di avatar seorang supermodel terkenal, agar dapat ditunjukkan kepada pembeli mereka dan distributor di seluruh dunia. Ide itu diajukan karena pembatalan sejumlah pekan mode dan pemberlakuan larangan perjalanan di banyak negara.

“Ketika Jordana Guimarães dari Fashinnovation melihat video itu dan teknologi kami, dia lalu meminta kami membuat peragaan busana virtual. Teknologi AI kami secara otomatis membuat avatar virtual dan pakaian digital seperti kehidupan nyata,” kata Hazarika, dilansir dari Vogue, Kamis (9/7).

Busana-busana para desainer disematkan di avatar virtual, yang kemudian dianimasikan untuk berjalan di runway virtual dalam pengaturan 3D untuk menciptakan kembali suasana pertunjukan catwalk.

Perusahaan mengambil beberapa gambar dari wajah dan tubuh model runway, lalu menggunakannya untuk membuat klon 3D terkomputerisasi yang sangat realistis. Klon ini mengenakan busana realistis yang juga direplikasi dari foto.

“Ini memberi desainer kemungkinan tanpa batas untuk menciptakan pertunjukan yang mengesankan dan unik. Masing-masing hadir dengan tantangan unik pada biaya, pengaturan, kualitas, koordinasi, dan memiliki peran sendiri dalam transformasi digital peragaan busana
virtual,” kata Hazarika.

Namun, banyak hal yang harus diperhatikan dalam pagelaran virtual. Di antaranya, kebutuhan untuk mengedukasi para desainer dan model tentang cara menginput gambar selama karantina. Dalam peragaan busana konvensional, desainer bekerja sampai detik terakhir jelang sang model berjalan ke runway. 

Namun, untuk pertunjukan virtual, gambar dan detail pakaian perlu disediakan disiapkan dulu guna mengalihkannya ke bentuk digital. Hal itu barangkali merupakan sesuatu yang tidak biasa dilakukan desainer.

“Untuk membuat model yang terkomputerisasi, kami meminta satu gambar wajah model yang menghadap ke depan dan merata dari berbagai sisi. Namun, karena pemotretan acap dilakukan di rumah, kami umumnya menerima gambar yang diambil dari sudut yang berbeda untuk menyoroti fitur terbaik mereka,” tutur Hazarika.

Mengingat pandemi virus yang sedang berlangsung, pertunjukan virtual bisa jadi kesempatan bagi desainer untuk memanfaatkan platform yang bisa menjangkau pasar lebih luas. “Berbagai format sedang dieksplorasi, seperti model mengenakan busana rancangan desainer dan merekam diri di kamera di rumah mereka sendiri, dan berjalan di depan layar hijau,” kata Hazarika.

Salah satu desainer yang mencoba pertunjukan mode virtual untuk koleksi terbarunya ialah Anifa Mvuemba. Dia terinspirasi oleh pakaian perempuan di negara asalnya, Kongo. Berbeda dengan Brigthinx, peragaannya berupa hologram tanpa kepala di atas catwalk dan pertunjukan fashion show-nya viral di Instagram Live. Acara animasi 3D tersebut ditonton puluhan ribu orang.

Mvuemba, yang berbasis di AS, sebelumnya tengah bersiap memulai debut lini fesyennya, Hanifa, di New York Fashion Week tahun ini. Ketika acara itu batal karena pandemi covid-19, Mvuemba menjadi kreatif. Desainer berusia 29 tahun itu menggelar pertunjukan virtual pada 22 Mei lalu untuk koleksi terbarunya, yang disebut Pink Label Congo, dalam bentuk animasi 3D.

Mvuemba mengatakan telah menggunakan animasi 3D berbulan-bulan sebelum pandemi untuk merancang karya-karyanya dan pemotretan jarak jauh. Akan tetapi, diakuinya, pertunjukan virtual membutuhkan lebih banyak upaya, termasuk mengubah setiap pakaian menjadi gambar 3D dan menggunakan tubuh avatar untuk menyesuaikan item dengan pengukuran yang tepat. 

“Kami memiliki saat-saat sulit ketika harus memastikan gaun menjuntai secara alami mengikuti lekuk tubuh wanita,” urai Mvuemba.


VR dan AR

Di Indonesia, teknologi juga mengambil peluang pasarnya. Bulan lalu, fotografer profesional Rio Prasetia, membuat pertunjukan fesyen virtual melalui akun IGTV Instagram miliknya, @_riop_, dengan tajuk ADAPT.

Dalam video berdurasi 8 menit 55 detik itu, setiap model tampil berjalan di runaway di dalam rumah masing-masing. Pemandangan latar belakang ruang makan, kamar tidur, dapur, hingga teras dan trotoar pun menjadi tidak asing.

Merujuk pada keterangan di video, ADAPT adalah kata yang muncul ketika Rio mendapat ide untuk project ini di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). “Saya ingin mengatakan bahwa semua kekurangan kita tidak harus jadi hambatan untuk berkarya. Kita harus mengandalkan kreativitas dan beradaptasi dengan seadanya yang kita miliki. We have to (be able to) adapt,” kata Rio di akun Instagram-nya.

Di luar pagelaran, teknologi realitas virtual (virtual reality/VR) dan AR (augmented reality) kini pun berangsur jamak di industri mode. Banyak merek ternama mulai menyediakan pengalaman digital tersebut.

Dior Try-On, Burberry ‘ARKit’, Puma ‘LQD Cell Origin Air‘, hingga ASOS ‘Virtual Catwalk’, ialah beberapa di antaranya. Sejumlah merek kosmetik juga berpartisipasi seperti Sephora, L’oreal, Charlotte Tilbury, dan Rimmel. Mereka memakai aplikasi AR seperti ModiFace yang memungkinkan Anda menguji lipstik dan produk lain menggunakan video dan foto di ponsel.

Ada pula opsi menyimak peragaan busana lewat VR di gerai fisik yang antara lain dihadirkan merek Tommy Hilfiger, Coach, dan Gap. (M-2)
 

Baca Juga

AFP/BERNADETTE SIMPAO

Paket Langganan Apple One Bakal Dirilis Awal Oktober

👤Antara 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 23:31 WIB
Paket langganan yang dinamai "Apple One" tersebut direncanakan meluncur pada awal Oktober bersama dengan rilis iPhone...
Ist/Kemenkominfo

Presiden Ingin Platform Teknologi Dukung Kemajuan Bangsa

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 21:58 WIB
Platform teknologi digital yang berkembang dan beroperasi di Indonesia turut memberikan kontribusi dalam kemajuan bangsa dan...
Dok. GudangAda

Pedagang Tradisional Butuh Pendampingan Masuk Digitalisasi

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 00:52 WIB
Di era digital, kegiatan transaksi online menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Cepat atau lambat, menurut Heri, digitalisasi bisnis...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya