Jumat 10 Juli 2020, 17:01 WIB

Transmisi Udara Covid-19, Dokter Reisa: Itu Kurang Tepat

Henri Siagian | Humaniora
Transmisi Udara Covid-19, Dokter Reisa: Itu Kurang Tepat

Antara
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covod-19 Reisa Broto Asmoro

 

BADAN Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan virus korona atau covid-19 dapat menular melalui udara. Akan tetapi, hal itu dibantah oleh Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covod-19 Reisa Broto Asmoro.

"Setelah penelusuran, informasi itu kurang tepat. WHO menyatakan virus korona ditularkan melalui droplet yang dihasilkan oleh seorang terinfeksi korona saat batuk bersin, atau bicara," tutur Reisa dalam sebuah rekaman video.

Baca juga: Dokter Reisa : Tetap Aman Covid-19 dan Produktif

Menurut dia, virus korona dapat menular melalui droplet orang terinfeksi yang jatuh ke benda sekitarnya dan orang lain terkena benda tersebut dan menyentuh mata, hidung, dan mulut.

"Karena itu, penting sekali untuk menjaga jarak paling tidak 1,5 meter dari orang sakit," ujar dia.

Baca juga: Dokter Reisa Tegaskan Dexamethasone Bukan Vaksin Covid-19

Dia juga memastikan juru bicara nasional untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto tidak pernah menyatakan klaim WHO mengungkapkan virus korona dapat melalui udara.

"Yang benar, Pak Yurianto meminta masyarakat menggunakan masker per awal April 2020 setelah berdiskusi dengan banyak pakar kesehatan," katanya.

Reisa juga mengingatkan dalam rangka adaptasi kebiasan baru, pengelola kantor, gedung pertemuan, dan pusat perbelanjaan harus memastikan ventilasi atau saluran udara yang baik, yakni memiliki cross ventilation yang memiliki dua bukaan yang terletak berseberangan. .

"Sehingga meminimalisasi udara stagnan di satu ruangan. Ventilasi silang juga dapat meningkatkan kualitas udara di ruangan serta mendukung gaya hidup produktif dan sehat," kata dia.

Di samping itu, dia menganjurkan agar membiarkan sinar matahari masuk dalam rumah karena dapat meningkatkan kesehatan. "Ruangan terpapar ultra violet dapat menurukan risiko penyakit pernapasan dan tubuh dapat mendapatkan vitamin yang baik untuk tulang dan jantung."

Baca juga: Reisa Broto Asmoro Tugas Edukasi Publik

Dalam Scientific Brief yang dikeluarkan WHO pada 9 Juli berjudul Transmission of SARS-CoV-2: implications for infenction prevention precautions, WHO mengungkapan beberapa dugaan cara transmisi virus tersebut yakni droplet, udara, fomite, tinja-oral, ditularkan melalui darah, dari ibu-ke-anak, dan penularan dari hewan ke manusia.

Transmisi kontak dan droplet

Penularan SARS-CoV-2 dapat terjadi melalui kontak langsung, tidak langsung, atau dekat dengan orang yang terinfeksi melalui sekresi yang terinfeksi seperti air liur dan sekresi pernapasan atau tetesan pernapasan yang dikeluarkan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi.

Transmisi droplet pernapasan dapat terjadi ketika seseorang berada dalam kontak dekat (dalam 1 meter) dengan orang yang terinfeksi yang memiliki gejala pernapasan (misalnya batuk atau bersin) atau yang sedang berbicara atau bernyanyi.

Dalam keadaan ini, tetesan pernapasan yang termasuk virus dapat mencapai mulut, hidung atau mata orang yang rentan dan dapat mengakibatkan infeksi.

Transmisi udara

Penularan melalui udara didefinisikan sebagai penyebaran agen penular yang disebabkan penyebaran nukleus tetesan (aerosol) yang tetap menular ketika melayang di udara dalam jarak dan waktu yang lama.

Penularan melalui udara SARS-CoV-2 dapat terjadi selama prosedur medis yang menghasilkan aerosol.

WHO, bersama-sama dengan komunitas ilmiah, telah secara aktif mendiskusikan dan mengevaluasi apakah SARS-CoV-2 juga dapat menyebar melalui aerosol tanpa adanya prosedur penghasil aerosol terutama di dalam ruangan pengaturan dengan ventilasi buruk.

Fisik dari udara yang dikeluarkan dan fisik aliran telah menghasilkan hipotesis tentang kemungkinan mekanisme transmisi SARS-CoV-2 melalui aerosol. Teori-teori ini menunjukkan sejumlah tetesan pernapasan menghasilkan aerosol mikroskopis oleh penguapan dan pernapasan normal dan bicara menghasilkan aerosol yang dihembuskan.

Dengan demikian, orang yang rentan dapat menghirup aerosol dan dapat terinfeksi jika aerosol mengandung virus dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan infeksi di dalam penerima.

Namun, proporsi nukleus droplet dihembuskan atau tetesan pernapasan yang menguap untuk menghasilkan aerosol, dan dosis infeksi SARS-CoV-2 menyebabkan infeksi pada orang lain tidak diketahui.

Transmisi fomite

Droplet yang dikeluarkan oleh individu yang terinfeksi dapat mencemari permukaan dan benda, menciptakan fomites (permukaan yang terkontaminasi).

Virus SARS-CoV-2 dan/atau RNA yang terdeteksi oleh RT-PCR dapat ditemukan di permukaan tersebut untuk jangka waktu mulai dari jam hingga hari, tergantung pada lingkungan sekitar (termasuk suhu dan kelembaban) dan jenis permukaan, khususnya pada konsentrasi tinggi seperti fasilitas perawatan kesehatan pasien covid-19.

Oleh karena itu, penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui menyentuh permukaan di lingkungan terdekat atau benda yang terkontaminasi oleh virus dari orang yang terinfeksi (semisal stetoskop atau termometer), diikuti dengan menyentuh mulut, hidung, atau mata.

Meskipun, tidak ditemukan laporan spesifik yang menunjukkan transmisi fomite.

Transmisi lainnya

SARS-CoV-2 RNA juga telah terdeteksi dalam sampel biologis lain, termasuk urine dan feses beberapa pasien. Satu studi menemukan SARS-CoV-2 dalam urine satu pasien. Tiga studi memiliki kultur SARS-CoV-2 dari spesimen feses. Namun, belum ada laporan yang diterbitkan tentang transmisi SARS-CoV-2 melalui feses atau urin.

Beberapa penelitian telah melaporkan deteksi RNA SARS-CoV-2, baik dalam plasma atau serum, dan virus dapat bereplikasi dalam sel darah. Namun, peran penularan melalui darah tetap tidak pasti; dan titer virus yang rendah dalam plasma dan serum menunjukkan risiko penularan melalui rute ini mungkin rendah.

Saat ini, tidak ada bukti untuk transmisi dari wanita hamil yang terinfeksi ke janin mereka. WHO baru-baru ini menerbitkan ringkasan ilmiah tentang menyusui dan covid-19. Laporan singkat ini menjelaskan fragmen RNA virus telah ditemukan dalam beberapa sampel air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi SARS-CoV-2.

Tetapi, penelitian yang menyelidiki apakah virus dapat diisolasi, tidak menemukan virus yang layak.

Penularan SARS-CoV-2 dari ibu ke anak membutuhkan virus replikasi dan infeksi dalam ASI untuk dapat mencapai lokasi target pada bayi dan juga untuk mengatasi sistem pertahanan bayi. WHO merekomendasikan agar ibu dengan dugaan atau konfirmasi covid-19 untuk melanjutkan menyusui.

SARS-CoV-2 paling dekat hubungan dengan betacoronavirus yang dikenal pada kelelawar. Bukti terkini menunjukkan manusia yang terinfeksi SARS-CoV-2 dapat menginfeksi mamalia lain, termasuk anjing dan kucing. Namun, belum jelas apakah mamalia yang terinfeksi ini memiliki risiko signifikan untuk menularkan ke manusia. (X-15)

Berikut adalah Scientific Brief yang dikeluarkan WHO.

 

Baca Juga

ANTARA/Arif Firmansyah

Masyarakat Kurang Pengetahuan Soal Obat Tradisional

👤Kautsar Bobi 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:48 WIB
Tulus khawatir obat-obat itu mengandung senyawa kimia yang membahayakan kesehatan...
ANTARA/M Agung Rajasa

1.020 Orang Terdaftar Jadi Relawan Vaksin Covid-19

👤Nur Azizah 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:31 WIB
Pendaftaran relawan vaksin covid-19 akan dibuka hingga akhir Agustus...
DOK MI

Pengusaha Dukung Insentif Pegawai Bergaji Kurang dari Rp5 Juta

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:25 WIB
Bantuan gaji tambahan bagi pekerja tersebut diharapkan bisa mendorong konsumsi masyarakat. Dengan demikian, kata Anta, perekonomian bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya