Jumat 10 Juli 2020, 17:15 WIB

Kompetisi untuk Para Produser Musik Elektronik Kembali Digelar

Fathurrozak | Weekend
Kompetisi untuk Para Produser Musik Elektronik Kembali Digelar

Dok. EMPC 2020
ELECTRONIC Music Producer Competition (EMPC) 2020 menggandeng label asal Belanda, Barong Family.

ELECTRONIC Music Producer Competition (EMPC) kembali digelar.Tahun ini, kompetisi untuk para produser musik elektronik itu menggandeng label asal Belanda Barong Family, label yang juga menaungi duo DJ Yellow Claw. Sementara tahun lalu ajang ini menggandeng label 88Rising.

“Ini sudah menjadi komitmen kami, ingin tetap konsisten suarakan localize movement, yang diartikan untuk mewadahi talent lokal, untuk bisa berkarya secara lebih, baik dari kualitas juga jangkauannya, jadi bisa upgrade,” ungkap Diopsaputra mewakili Iceperience.Id, selaku penyelenggara EMPC 2020 saat konferensi pers virtual pada Kamis, (9/7).

Selain Yellow Claw, Winky Wiryawan, Dipha Barus, dan Eka Gustiwana akan menjadi juri dalam kompetisi ini. Para musisi elektronik bisa mensubmit maksimal tiga karya, dengan masing-masing karya berdurasi maksimal 3,5 menit. 

Dengan tema ‘the greatest legacy,’ peserta bisa mengirim dengan genre musik apapun selagi masih memiliki unsur elektronik, termasuk dengan pendekatan instrumental maupun berlirik. Sementara untuk pernyataan orisinalitas dan hak cipta karya, peserta akan diminta mengisi surat pernyataan yang tertera di formulir pendaftaran yang bisa diakses di situs resmi www.iceperience.id. Pendaftaran dibuka sejak 13 Juli hingga 14 Agustus.

Dipha, yang tahun ini baru bergabung sebagai juri, menyebutkan dengan kehadiran kompetisi ini setidaknya bisa ikut meruntuhkan stigma skena musik elektronik yang berada di ujung tanduk. Ia menganggap kompetisi juga bisa menjadi bagian ekosistem musik elektronik dan menjadi salah satu faktor keberlanjutan para pelaku dan yang baru memulai.

Winky, yang pada debutan EMPC juga sudah duduk di kursi juri, sedikit membocorkan rahasianya ketika memilih Doci sebagai pemenang. Menurutnya, Doci ketika itu hadir dengan komposisi musik yang melawan arus tren saat itu.

“Yang ingin kami dengar itu orisinalitas karya. Saat banyak yang mengeluarkan karya mereka yang bagus, Doci datang dengan karya yang genrenya berbeda sendiri dan terbilang nekat. Dia membuat karya house music era akhir 90-an awal 2000-an, tetapi dikemas modern. Itu contoh yang pengen kita dengar. Jadi diri sendiri aja, kasih produksi terbaik kalian.”

Di samping itu, Dipha mengaku ekosistem musik elektronik Indonesia saat ini sudah memiliki sumber daya yang cukup mumpuni. “Dari hulu ke hilir udah proper atau belum, menurut gue secara SDM-nya sdm udah proper. Tinggal memaksimalkan yang ada.”

Sementara, Winky menanggapi pertanyaan yang Media Indonesia ajukan terkait kesamaan karakter karya musik elektronik yang ada saat ini. Menurutnya, saat ini berbeda situasinya dengan masa sebelumnya. Kini para produser bisa dengan mudah mendapatkan sound bank yang dijual para komposer luar negeri, dan legal untuk menggunakannya. 

“Gue rasa itu udah jadi hal biasa, ketika kita mendengarkan musik elektronik yang efeknya punya kesamaan, misal nuansa sound atau kick-nya. Yang menarik menurut gue bagaimana para produser musik elektronik berani menunjukkan orisinalitas mereka. Seperti yang dilakukan Dipha dengan memasukkan sampling bebunyian musik daerah. Atau ketika dia membuat aransemen musik yang easy listening dan sangat bisa diputar di radio.”

Tahun lalu, Donny Richie (Doci), produser musik elektronik keluar sebagai jawara, menyingkirkan lebih dari 500 partisipan. Sebagai pemenang, Doci memproduksi musik bersama salah satu penyanyi di bawah naungan label 88Rising, Devinta dengan karya berjudul Say La Vie. (M-1)

Baca Juga

Unsplash/ Abigail Keenan

Dua Gaya Selebrasi Bola Ini Bakal Dihapus

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 10 Agustus 2020, 18:45 WIB
Selebrasi yang bergaya menyuruh diam dan gaya jari "OK: bakal tidak ada lagi di gim Fifa...
AFP/Noel Celis

A Thousand Cuts, Potret Buram Kebebasan Pers di Filipina

👤Fathurrozak 🕔Senin 10 Agustus 2020, 17:05 WIB
Dokumenter ini menyoroti kehidupan jurnalis Maria Ressa yang acap mengkritisi kebijakan Presiden Rodrigo...
AFP/KENA BETANCUR

Mengapa Karaoke tak Dipatenkan Penciptanya?

👤Abdillah Marzuqi 🕔Senin 10 Agustus 2020, 15:26 WIB
Karena tak dipatenkan, sang penemu kehilangan potensi royalti kurang lebih US$100 juta hanya pada tahun...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya