Jumat 10 Juli 2020, 00:35 WIB

Penduduk Melbourne Dikarantina 6 Minggu

Penduduk Melbourne Dikarantina 6 Minggu

AFP
Penduduk Melbourne Dikarantina 6 Minggu

 

SEKITAR 5 juta warga Melbourne, kota terbesar kedua di Australia, kemarin mulai menjalani karantina atau penutupan wilayah (lockdown) untuk enam minggu ke depan.

Itu disebabkan melonjaknya kembali kasus positif covid-19 di wilayah tersebut setelah lockdown sebelumnya sempat dicabut beberapa pekan lalu. Negara Bagian Victoria, tempat Melbourne berada, mencatat tambahan 165 kasus baru. Victoria kini dikarantina agar wilayah Australia lainnya tidak mengalami kasus lebih parah.

Namun, upaya itu dikhawatirkan sia-sia seiring dengan berbondong-bondongnya orang keluar dari Victoria menuju Negara Bagian New South Wales sebelum lockdown dimulai. Polisi memperkirakan tidak kurang dari 30 ribu mobil melintasi perbatasan dalam waktu kurang dari 36 jam.

Warga Melbourne mengkhawatirkan dampak lockdown kedua itu bagi perekonomian daerah dan kesehatan jiwa mereka. Pejabat setempat memperkirakan karantina itu akan merugikan perekonomian sampai A$6 miliar.

Restoran dan kafe tidak boleh menyediakan layanan makan di tempat. Pusat kebugaran, salon, dan bioskop harus tutup kembali. Warga diminta tinggal di rumah kecuali jika mau bekerja, berolahraga, pergi ke dokter, atau membeli kebutuhan penting.

Warga Melbourne kemudian memborong berbagai barang sebelum karantina dimulai. Jaringan toko serbaada terbesar di Australia lalu menyatakan telah membatasi pembelian barang tertentu, termasuk sayuran, gula, dan pasta.

Meski aturan sangat ketat, banyak warga mendukung karantina wilayah itu. “Saya pikir ini hal sangat baik. Semua orang harus tahu hak dan kewajiban di saat kritis seperti sekarang,” ujar seorang warga, Don Sherman.


Masalah Prancis

Pemerintah Prancis sedang bersiap menghadapi gelombang kedua kasus covid-19. Namun, pemerintah berusaha untuk mengesam pingkan opsi karantina seperti yang pernah diterapkan Maret lalu.

“Tujuan saya ialah mempersiapkan Prancis akan kemungkinan gelombang kedua sambil menjaga kehidupan seharihari kita, kehidupan ekonomi dan sosial kita,” kata Perdana Menteri Jean Castex.

“Namun, kita tidak akan memaksakan lockdown seperti yang kita lakukan Maret lalu karena kita telah belajar bahwa konsekuensi ekonomi dan masyarakat dari karantina total ialah bencana,” sambungnya.

Sebagai gantinya, Castex mengatakan penutupan bisnis atau permintaan untuk tetap di rumah akan ditargetkan pada area tertentu. Sebelumnya, Castex ditunjuk pekan lalu untuk mengatur pemulihan negara dari krisis kesehatan dan ekonomi. (AFP/Van/X-11)

Baca Juga

AFP/Sam Yeh

Tiongkok Ingin Ubah Nasib Taiwan Seperti Hong Kong

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Rabu 12 Agustus 2020, 18:30 WIB
Kekhawatiran itu diungkapkan Menlu Taiwan, Joseph Wu, saat bertemu dengan pejabat senior AS di Taipei. Tiongkok disebut kerap melempar...
AFP

Pangeran Harry dan Meghan Markle Beli Rumah di Santa Barbara

👤Astri Novaria 🕔Rabu 12 Agustus 2020, 17:37 WIB
Pasangan Harry - Meghan berharap untuk membesarkan anak lelakinya, Archie, di Santa Barbara untuk menjalani kehidupan senormal...
AFP/DAVID ROWLAND

Auckland Lockdown, Status Bebas Virus Selandia Baru Tercederai

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Rabu 12 Agustus 2020, 16:47 WIB
 Selandia Baru terhuyung-huyung dalam wabah virus covid-19 pertamanya setelah lebih dari tiga bulan bebas dari covid-19. Auckland...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya