Kamis 09 Juli 2020, 13:49 WIB

Ada Lo Hubungan Polusi Cahaya dengan Risiko Bipolar

Galih Agus Saputra | Weekend
Ada Lo Hubungan Polusi Cahaya dengan Risiko Bipolar

123RF
Tingkat polusi cahaya punya korelasi dengan risiko gangguan mental.

Sebuah tim dari National Institute for Health, Amerika Serikat baru-baru ini mempublikasikan hasil penelitian terkait pola tidur dan kesehatan mental. Riset dilakukan atas lebih dari 10.000 remaja yang tinggal di Amerika Serikat sejak 2001 hingga 2004.

Hasil penelitian itu menjelaskan bahwa remaja yang tinggal di kota, dengan tingkat polusi cahaya tinggi lebih mungkin terserang gangguan bipolar atau kesehatan mental.

Penulis makalah penelitian ini, Diana Paksarian, mengatakan tubuh manusia pada dasarnya mengenal ritme sirkadian, yang berhubungan dengan siklus bangun-tidur. Siklus tersebut sangatlah penting karena menjadi faktor pendukung kesehatan fisik dan mental seseorang.

"Terlalu banyak cahaya buatan pada malam hari mengganggu ritme ini dan menyebabkan gangguan pada proses biologis seperti kadar hormon, suhu tubuh, dan pola tidur," tuturnya seperti dilansir Dailymail.

Rekan kerja Diana, Kathleen Merikangas menambahkan bahwa paparan cahaya buatan pada malam hari mungkin hanyalah salah satu faktor, yang menganggu siklus tidur dan perilaku. Namun, faktor itu sangatlah penting untuk diintervensi sebagai upaya pencegahan gangguan kesehatan fisik dan mental remaja.

Remaja yang diuji dalam penelitian ini berusia 13 hingga 18 tahun. Selama jalannya penelitian mereka diminta menjawab pertanyaan seperti, pada pukul berapa dan berapa lama mereka tidur di hari kerja maupun akhir pekan. Mereka juga ditanya, apakah pernah mengalami gangguan mental.

Intensitas cahaya di sekitar hunian remaja yang menjadi subjek penelitian turut diamati dan dihitung menggunakan citra satelit. Hasilnya sangat variatif, sejurus dengan tingkat ekonomi masing-masing remaja.

Remaja yang memiliki latar belakang ekonomi rendah, cenderung lebih banyak ditemukan di daerah yang polusi cahayanya cukup tinggi. Hasil amatan perilaku juga menunjukan bahwa remaja yang tinggal di kawasan penuh lampu atau cahaya buatan manusia, biasanya tidur setengah jam lebih larut dalam seminggu dan kurang tidur di akhir pekan. Sementara di kawasan polusi cahaya ringan, seorang remaja biasanya tidur setengah jam lebih awal dan kurang tidur selama sepuluh menit di akhir pekan.

Dalam kesimpulannya, para peneliti kemudian mengatakan bahwa kurangnya jam tidur tersebut turut meningkatkan fobia, rasa cemas, terutama gangguan bipolar.  "Temuan ini menggambarkan betapa pentingnya pertimbangan bersama terkait paparan cahaya tingkat tinggi di suatu lingkungan maupun individu," imbuh Kathleen. (DailyMail/M-2) 

 

Baca Juga

MI/Galih Agus Saputra

Muram dan Rintik Hujan Jadi Tema Jakarta Fashion Week 2020

👤Galih Agus Saputra 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 22:02 WIB
Inspirasinya ialah rintik hujan yang ia harapkan dapat mengingatkan masyarakat untuk tetap sabar dan bersyukur meski dalam keadaan...
Tokyo Int

Tokyo International Film Festival Digelar Akhir Oktober

👤Fathurrozak 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 21:49 WIB
Program seperti simposium dan gelar wicara yang mendatangkan undangan internasional selama festival ini, akan dilangsungkan...
Unsplash/Ke-Vin

Ini Bahayanya Banyak Mengonsumsi Nasi

👤Bagus Pradana 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 16:10 WIB
Peneliti menyarankan beralih ke beras organik untuk menghindari timbunan arsenik di...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya