Rabu 08 Juli 2020, 06:05 WIB

Rentetan Lindu Jadi Tanda Tanya, BMKG: Gempa Penuh Ketidakpastian

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Rentetan Lindu Jadi Tanda Tanya, BMKG: Gempa Penuh Ketidakpastian

BMKG
Gempa magnitudo 6,1 di utara Jepara, Jawa Tengah, dengan kedalaman 578 kilometer (km) menjadi gempa pertama yang terjadi pada Selasa (7/7).

 

SELASA, 7 Juli 2020 rentetan gempa bumi (lindu) terjadi di Indonesia. Ada empat aktivitas kegempaan dengan magnitudo 5,0 ke atas yang menjadi catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Gempa pertama di utara Jepara, Jawa Tengah, berkekuatan M6.1 yang terjadi pagi pukul 05.54.44 WIB dengan kedalaman 578 kilometer (km) di lepas pantai. Selang beberapa jam kemudian, muncul gempa di Selatan Banten M5.1 pukul 11.44.14 WIB dengan kedalaman gempa 82 km.

Hanya terpaut 30 menit, BMKG mencatat pergerakan gempa ketiga di Selatan Garut M 5.0 pukul 12.17.51 WIB pada 234 km Barat Daya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dengan kedalaman gempa 10 km.

Gempa keempat terjadi di Selatan Selat Sunda M 5.2 pada 13.16.22 WIB yang lokasinya terpantau berada di 250 km Tenggara Enggano, Bengkulu dengan kedalaman gempa 10 km.

Lantas, apakah rentetan gempa bumi ini sebagai pertanda akan terjadi gempa besar? Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, hal itu sulit diprediksi.

"Tetapi dengan adanya rentetan aktivitas gempa ini tentu patut kita waspadai," ucapnya saat dimintai keterangan, Selasa (7/7).

Dilihat dari sumber kejadian, menurut Daryono, gempa Banten dan Garut terjadi di zona berbeda. Gempa di Banten selatan terjadi akibat adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Benioff, sementara gempa Selatan Garut dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di zona Megathrust.

Dalam ilmu gempa atau seismologi, jelasnya, setiap gempa besar hampir dipastikan didahului dengan rentetan aktivitas gempa pembuka. Akan tetapi, rentetan gempa yang terjadi di suatu wilayah juga belum tentu berakhir dengan munculnya gempa besar.

"Inilah karakteristik ilmu gempa yang memiliki ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi yang penting juga untuk kita pahami," tegas Wakil Presiden Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) itu. 

Dalam teori gempa, kata Daryono, disebutkan juga bahwa dampak gempa tidak saja akibat magnitudo gempa dan jaraknya dari sumber gempa, tetapi kondisi geologi setempat sangat menentukan dampak gempa. (H-2)

 

Baca Juga

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Merokok Meningkatkan Potensi Terjangkit Covid-19

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 06:48 WIB
Banyak studi yang telah dilakukan, potensi perokok terjangkit Covid-19 bisa dua sampai tiga kali lebih tinggi dari yang bukan perokok. Asap...
DOK DENPASAR 12

Pandemi Ancam Kesehatan Jiwa Masyarakat

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 06:30 WIB
Orang muda berpotensi lebih besar mengalami gangguan cemas menyeluruh (GCM). Orang yang menghabiskan banyak waktu membahas pandemi juga...
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Sekolah Diimbau Berani Buka Tutup

👤Bay/H-1 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 06:20 WIB
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengimbau agar unit pendidikan ke depannya harus terbiasa dengan sistem buka...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya