Selasa 07 Juli 2020, 17:15 WIB

Ahli Sebut Peretas Asal Jogja Ecek-ecek

Tri Subarkah | Megapolitan
Ahli Sebut Peretas Asal Jogja Ecek-ecek

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono (kanan) didampingi Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Pol Slamet Uliandi (kiri).

 

AHLI digital forensik Ruby Zukri Alamsyah menyebut peretasan yang dilakukan oleh pria asal Sleman, Yogyakarta bernama Agus Dwi Cahyo, 24, adalah hal ecek-ecek. Pasalnya, Agus hanya melakukan peretasan karena keisengan dan dengan tujuan yang negatif.

Meskipun ada ribuan situs yang telah diretas Agus, Ruby menilai situs-situs tersebut tidak memiliki kompleksitas yang rumit. Ruby mengakui banyak situs milik pemerintah baik berskala daerah maupun nasional yang mudah diretas.

"Yang dialakukan pelaku bukan peretasan extraordinary. Kalau pun dia bisa meretas jumlah besar, bukan berarti dia jago. Karena memang banyak situs-situs baik instansi pemerintah yang berskala nasional maupun daerah sangat mudah diretas," katanya kepada mediaindonesia.com, Selasa (7/7).

Menurut Ruby, kelemahan tersebut disebabkan karena banyak situs yang menggunakan menggunakan instalasi dan sistem default. Lebih lanjut, sistem kemanan yang digunakan situs tersebut juga tidak diperbarui.

"Artinya instalasinya dan sistemnya default, akhirnya pelaku tau dari dokumentasi yang umum. Kedua, celah keamanan yang biasa, menggunakan web aplikasi yang umum, tapi nggak diupdate," terang Ruby.

Agus diketahui telah meretas 1.309 situs sejak tahun 2014. Beberapa situs yang telah diretasnya antara lain Badilum Mahkamah Agung, AMIK Indramayu, Pengadilan Negeri Sleman, Universitas Airlangga, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta Lapas 1 Muara Enin.

Baca juga: Peretas Asal Jogja Raup Untung Miliaran Rupiah

Menanggapi banyaknya situs lembaga negara yang diretas oleh pelaku, Ruby menyinggung kinerja Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). 

Menurut Ruby, kedua insititusi tersebut memiliki petunjuk bagi lembaga negara yang mau menggunakan sistem informasi dan teknologi dengan aman.

BSSN, sebut Ruby, memiliki divisi yang menerima jasa pen test (penetration test) untuk mencari celah kelemahan keamanan dari situs milik pemerintah. Hal itu dilakukan dengan tujuan memperbaiki sistem keamanan.

Alih-alih peretasan yang dilakukan oleh Agus, Ruby menyebut ada cara yang lebih elegan untuk mendapatkan keuntungan dalam dunia peretasan. Selain dengan pen test, ia juga menyebut profesi bug hunter. Keduanya, sambung Ruby, meskipun cara kerjanya sama dengan hacker lain, namun berkontribusi untuk perusahaan tertentu menemukan kelemahan sistem keamanan.

"Perusahaan-perusahaan besar, kalau situs mereka bisa dibobol atau diretas oleh pelaku-pelaku beneran, itu mereka dapat memberikan bonus puluhan ribu dollar bahkan ratusan ribu dollar. Baik Google, Facebook, Whatsapp," tandas Ruby.

Sebelumnya, Agus ditangkap di kediamannya yang terletak di Sleman, Yogyakarta pada Kamis (2/7) atas dasar tiga laporan polisi. Kepala Divisi Humas Polri Ijen Argo Yuwono menjelaskan modus yang dilakukan Agus adalah dengan mengirim virus ransomeware kepada pemilik situs sehingga tidak dapat mengaksesnya.

Agus memeras para korbannya dengan harga antara Rp2-5 juta. Kepada polisi, ia mengaku uang yang didapatkan dari hasil peretasan tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi seperti foya-foya dan mabuk-mabukan. (A-2)

Baca Juga

Ist

Tes Ulang di Dua Lab, 10 Karyawan RS Azra Negatif Covid-19

👤Dede Susianti 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 21:09 WIB
Manajemen Rumah Sakit Azra, salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Kota Bogor, melakukan pemeriksaan intensif terhadap 10...
Antara

Rekor Kesembuhan, Sehari 558 Warga DKI Sembuh Covid-19

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 20:10 WIB
Hingga 9 Agustus 2020, total pasien sembuh nasional sudah menembus 80.952...
Antara

Pemprov DKI Ancam Tutup Perusahaan Pelanggar Protokol Kesehatan

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 18:37 WIB
Penambahan masa penutupan itu dilakukan, jika terbukti laporan dari karyawan di tempat kerjanya itu melanggar protokol atau menutupi kasus...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya