Selasa 07 Juli 2020, 14:13 WIB

DPR: Pergantian Pemimpin OJK dan BI Harus Perhatikan UU

M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi
DPR: Pergantian Pemimpin OJK dan BI Harus Perhatikan UU

Antara/Indrianto Eko
Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK dan Ketua Dewan Komisioner LPS berfoto bersama.

 

PERGANTIAN pemimpin Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus memperhatikan undang-undang (UU) yang berlaku. Mengingat, kedua lembaga tersebut bersifat independen.

"UU OJK dan BI menempatkan kedua lembaga bersifat independen. Jadi, pergantian pimpinan kedua lembaga hanya bisa dilakukan bila terjadi sesuatu," ujar anggota Komisi XI DPR RI, Said Abdullah, saat dihubungi, Selasa (7/7).

Dalam hal ini, apabila pimpinan dua lembaga tersebut mengalami masalah hukum, meninggal dunia, atau mengundurkan diri. Ketentuan itu sudah tertera dalam UU Nomor 21 tahun 2011 tentang OJK dan UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang BI.

Baca juga: Menkeu: Dibandingkan Negara Lain, Ekonomi Indonesia Lebih Baik

"Berbeda dengan masa Orde Baru, di mana kekuasaan BI di bawah Presiden. Karena BI menjadi bagian dari kabinet, maka Gubernur BI setiap saat bisa diganti oleh Presiden. Namun, saat ini hal itu tidak memungkinkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan," pungkas Said.

Di masa pandemi covid-19, BI mempunyai peran sangat signifikan. Misalnya, BI memiliki tanggung jawab untuk membantu penyerapan SBN. Dari sisi makroprudensial, Bank Sentral juga menyiapkan manajemen risiko. Seperti kerja sama repo line dengan dengan beberapa lembaga keuangan, yaitu The Federal Reserve, Bank for International Settlements dan Monetary Authority of Singapore.

Hal itu sebagai strategi untuk memperkuat kebutuhan beberapa mata uang asing, seperti dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura. "Saat ini, pemerintah, BI dan Komisi XI sedang membahas konsep burden sharing terkait beban bunga SBN. Nilainya sangat besar," ungkap Said.

Baca juga: Bank Dunia Naikkan Status RI, Jokowi: Patut Disyukuri

Selain itu, peran OJK dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 lebih mitigatif pada pengawasan lembaga keuangan. Serta, mengantisipasi insovabilitas lembaga keuangan, bank maupun non bank, serta bank sistemik maupun non sistemik.

"Sejauh ini, hasil laporan OJK terhadap pengawasan kinerja lembaga keuangan, baik bank maupun non bank secara umum masih baik. Meski NPL naik, tapi overall masih sehat," tutupnya.(OL-11)

 

Baca Juga

Ilustrasi

Pasar Besar dan Lokasi Strategis Jadi Keunggulan Investasi di RI

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Kamis 24 September 2020, 21:31 WIB
Setidaknya ada 2 keunggulan yang dimiliki Tanah Air dan tidak dimiliki Vietnam yakni pasar yang besar dan lokasi yang...
Ist/Kementan

Hari Tani Nasional, Bupati Purwakarta Apresiasi Program Kementan

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 September 2020, 21:22 WIB
Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika mengungkapkan pertanian merupakan andalan pemerintah Kabupaten Purwakarta pada masa pandemi...
Ist

Kemenkominfo Bangun Infrastruktur TIK di Kawasan Mandalika, NTB

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 September 2020, 21:05 WIB
Menurut Menkominfo, pembangunan infrastruktur TIK terutama di kawasan super prioritas merupakan tindak lanjut arahan Presiden Joko...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya