Selasa 07 Juli 2020, 10:30 WIB

Arah Medan Magnet Bumi Diperkirakan Berubah 10 Kali Lebih Cepat

Galih Agus Pradana | Weekend
Arah Medan Magnet Bumi Diperkirakan Berubah 10 Kali Lebih Cepat

Unsplash/ Elena Mozhvilo
Bumi

SEJUMLAH  ilmuwan dari Inggris baru-baru ini mencoba menyimulasikan sejarah aliran besi cair (liquid iron) di Bumi dalam kurun waktu 100.000 tahun terakhir. Aliran itu berada di bawah permukaan tanah atau lebih tepatnya di kedalaman 1.740 mil (2.800,25856 km).

Dalam amatannya, mereka mencoba menjelaskan adanya perubahan yang begitu cepat terkait arah medan magnet bumi, yang juga berimbas pada kekuatan daya tariknya. Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa perubahan itu dapat terjadi 10 kali lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

"Perubahan yang cepat ini diwakili oleh perilaku inti cairan secara ekstrim. Mereka dapat memberikan informasi penting kepada kita tentang perilaku bumi bagian dalam," tutur salah satu peneliti dari School of Earth and Environment, University of Leeds, Chris Davies sebagaimana dilansir Dailymail.

Chris selanjutnya menjelaskan bahwa saat besi cair mengalir, maka ia terbawa oleh arus medan magnet yang ada di Kutub Utara dan Selatan. Kutub Utara dan Selatan berbeda hakikatnya secara magnetis dan geografis.

Secara geografis mereka berada dalam posisi tetap, diametris, dan saling berhadapan. Sementara secara magnetis mereka bergerak dan seiring waktu menjadi tidak selaras dengan hakikat geografisnya. Pergerakan inilah yang diamati oleh tim peneliti dengan menggabungkan simulasi komputer, data di lapangan, serta rekonstruksi waktu.

Perubahan arah medan magnet yang mereka temukan selanjutnya disebut sebagai 'ekskursi geomagnetik (geomagnetic excursions)'. Fenomena ini terlihat ketika sumbu magnetik di Kutub Utara dan Selatan saling berjauhan.

Contoh paling jelas dari 'ekskursi geomagnetik' ini terlihat pada 39.000 tahun lalu, dimana terjadi perubahan arah sekitar 2,5 derajat. Fenomena ini juga berkaitan dengan melemahnya medan magnet di lepas pantai barat, Amerika Tengah menjelang akhir zaman es.

"Studi lanjut tentang dinamika yang berkembang dalam simulasi ini menawarkan strategi yang berguna untuk mendokumentasikan bagaimana perubahan cepat dapat terjadi dan apakah mereka juga ditemukan selama masa polaritas magnetik yang stabil seperti apa yang kita alami saat ini," imbuh ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego, Catherine Constable yang turut mengamati jalannya penelitian.

Adapun studi ini sendiri kini telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications. Sementara itu, Wolrd Magnetic Model yang dikembangkan US National Geophysical Data Center and the British Geological Survey juga telah melacak adanya 'ekskursi geomagnetik' tahun lalu.

Laporan tim peneliti dari lembaga gabungan tersebut menjelaskan bahwa Kutub Utara (yang lebih magnetis di bumi) bergerak dengan kecepatan 30 mil (48,28032 km) per tahun. Pergerakan ini ialah yang tercepat di bumi sejak pertengahan abad ke-16.

Dampak dari perubahan arah, seturut dengan melemahnya medan magnet di bumi pada dasarnya dapat berimbas di berbagai hal. Dampak paling jelas terlihat pada sistem navigasi yang sangat penting bagi dunia penerbangan, termasuk sistem GPS yang ada di gawai.

Navigasi burung dan kura-kura juga mengandalkan medan magnet. Dampak paling terasa bagi mahluk hidup di bumi ialah meningkatnya radiasi matahari, yang dapat menyebabkan penyakit kanker dan masalah lainnya bagi manusia.

Meski begitu, NASA juga pernah melakukan penelitian yang menjelaskan bahwa medan magnet di bumi tidak akan pernah hilang. Ia memang punya risiko melemah, namun akan terjadi dalam ribuan tahun sehingga manusia akan memiliki cukup waktu untuk mengadaptasinya. (M-4)

Baca Juga

AFP/Noel Celis

A Thousand Cuts, Potret Buram Kebebasan Pers di Filipina

👤Fathurrozak 🕔Senin 10 Agustus 2020, 17:05 WIB
Dokumenter ini menyoroti kehidupan jurnalis Maria Ressa yang acap mengkritisi kebijakan Presiden Rodrigo...
AFP/KENA BETANCUR

Mengapa Karaoke tak Dipatenkan Penciptanya?

👤Abdillah Marzuqi 🕔Senin 10 Agustus 2020, 15:26 WIB
Karena tak dipatenkan, sang penemu kehilangan potensi royalti kurang lebih US$100 juta hanya pada tahun...
Dok. JFW 2021

Busana Adaptasi New Normal di JFW 2021

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 10 Agustus 2020, 14:00 WIB
Label Raegita Zoro mengadaptasikan new normal dengan baju yang lebih panjang dan lengkap dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya