Selasa 07 Juli 2020, 05:00 WIB

Peran dan Pendidikan Mahasiswa Kedokteran di Masa Pandemi

Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga | Opini
Peran dan Pendidikan Mahasiswa Kedokteran di Masa Pandemi

Dok. Unair

PANDEMI covid-19 telah berdampak pada hampir seluruh sektor kehidupan. Sektor pendidikan pun mau tak mau harus menyesuaikan diri. Jadwal tahun ajaran dan penerimaan siswa baru menjadi bergeser. Proses penerimaan mahasiswa baru jadi terganggu. Perkuliahan tatap muka untuk sementara diubah menjadi perkuliahan daring, sembari menunggu redanya pandemi.

Demikian juga yang dialami oleh mahasiswa kedokteran. Saat merebaknya pandemi dan meningkatnya kecemasan, mayoritas perkuliahan diliburkan dan sebagian diubah menjadi kuliah daring. Akan tetapi, seperti halnya perkuliahan di fakultas eksakta lainnya, ada aktivitas perkuliahan yang tidak mungkin diganti menjadi daring seluruhnya, seperti praktikum di laboratorium. Untuk mahasiswa kedokteran, ada bentuk pembelajaran lainnya yang juga sulit diubah menjadi metode daring.

Misalnya proses co as atau internship, ikut dokter senior dalam mengobservasi pasien, menyusun diagnosis, berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya, membuat laporan medis, dan sejumlah tindakan medis lainnya.

Mahasiswa kedokteran akan dididik untuk melewati dua proses utama yang saling mendukung, yaitu pembekalan untuk menjadi sarjana kedokteran dan sekaligus proses magang untuk menjadi dokter profesional. Inilah yang sudah terjadi selama ini bahwa mahasiswa kedokteran dan co as (calon dokter profesional) selalu dilibatkan dalam penanganan pasien dan tindakan medis lainnya di rumah sakit.

Namun, gara-gara pandemi covid-19 ini, di negara maju seperti Amerika Serikat pun muncul pro-kontra dalam menangani mahasiswa kedokteran. Perdebatannya ialah, dalam situasi pandemi yang ganas ini, apakah mahasiswa kedokteran di AS boleh dilibatkan dalam penanganan pasien dan tindakan medis di RS seperti selama ini.


Risiko tertular

Banyak juga yang tidak setuju dengan pelibatan mahasiswa kedokteran untuk ikut langsung merawat pasien covid-19 di RS. Kalangan sekolah kedokteran di Italia, misalnya, menolak model kebijakan itu. Alasannya, tugas utama mahasiswa ialah belajar dalam kondisi yang aman.

Serangan pandemi covid-19 ini luar biasa ganas, menjadikan rumah sakit seolah seperti medan perang yang sangat berbahaya.

Dokter, perawat, dan tenaga medis profesional saja banyak yang terinfeksi dalam tugas hingga gugur. Apalagi mahasiswa yang masih dalam proses belajar, akan sangat riskan jika dipaksakan ikut melayani dan berinteraksi langsung dengan pasien covid-19 di RS. Risiko tertular di rumah sakit sangat besar.

Sebagai gambaran, di Italia lebih dari 16.000 petugas kesehatan yang dites terbukti positif covid-19, dan sudah lebih dari 110 dokter meninggal setelah tertular, meski sudah mengenakan APD lengkap. Italia menempati rangking tertinggi di Eropa untuk jumlah kasus positif dan korban meninggal.

Dokter yang statusnya penyembuh saja tertular, apalagi mahasiswa. Maka, untuk pencegahan risiko penularan ini, yang paling aman ialah perkuliahan diliburkan saja. Jangan mengajak mahasiswa ke garis depan medan perang melawan covid-19. Apalagi situasi sekarang juga berbeda dengan pandemi fl u Spanyol 1918, yang saat itu benar-benar darurat krisis dokter dan tenaga medis.

Dengan begitu, mahasiswa bisa difungsikan sebagai tenaga medis cadangan. Sekarang jumlah dokter dan tenaga medis sudah jauh meningkat. Begitulah argumen yang menolak pelibatan mahasiswa dalam penanganan langsung pasien covid-19 di RS.

Belum lagi muncul pertanyaan, apakah etis menyuruh mahasiswa untuk berhadapan langsung dengan jenis penyakit baru yang sangat ganas dan belum kita ketahui karakter dan efeknya secara utuh? Risiko ini dipandang sangat membahayakan bagi karier dan masa depan calon dokter di masa depan.

Sebagian besar fakultas kedokteran di Italia tidak mengizinkan mahasiswa kedokteran untuk bekerja di bangsal RS meskipun situasinya kekurangan dokter dan tenaga medis ketika pasien covid-19 sedang membanjir.


Dua target sekaligus

Pihak yang pro berpendapat bahwa mahasiswa kedokteran bisa dilibatkan. Kondisi di AS sekarang sangat darurat, angka kasus positif terinfeksi dan kematian akibat covid-19 menempati rangking tertinggi di seluruh dunia. Jajaran rumah sakit kewalahan, kekurang an dokter dan tenaga medis.

Dokter dan tenaga medis adalah benteng terakhir yang berhadapan langsung dengan pasien terinfeksi. Jangan heran jika banyak dokter dan tenaga medis yang akhirnya terinfeksi dan meninggal. Situasinya menjadi lebih sulit karena kekurangan tenaga dokter dan tenaga medis.

Dalam situasi ini, maka melibatkan mahasiswa kedokteran dalam penanganan wabah dipandang sebagai solusi darurat, dengan dua target sekaligus, yaitu membantu kekurangan dokter dan tenaga medis sekaligus sebagai proses magang/internship bagi para calon dokter untuk mengasah kemampuan teknis medisnya.

Mahasiswa kedokteran diberi peran dan tanggung jawab untuk ikut melayani pasien. Dengan cara ini, maka libur panjang ataupun penundaan kuliah karena pandemi bisa dihindari. Mahasiswa bisa mendapatkan kompetensinya karena proses co as tidak diliburkan sehingga pada akhirnya bisa lulus lebih cepat ketimbang jika misalnya harus diliburkan selama pandemi belum berakhir.

Kompetensi didapat, sekaligus berperan membantu menghadapi covid-19. Pandemi ini bisa saja dianggap sebagai momentum besar untuk menangani krisis berat kesehatan. Dengan demikian, para mahasiswa kedokteran dapat menimba pengalaman berharga.

American Association of Medical Colleges (AAMC) memang menginstruksikan agar fakultas-fakultas kedokteran menangguhkan program co as di rumah sakit. Akan tetapi, AAMC sekaligus juga mereko mendasikan bahwa mahasiswa kedokteran bisa menjalani program co as di rumah sakit lokal yang mengalami krisis tenaga medis, asal secara sukarela.

Dalam panduannya, AAMC menekankan bahwa mahasiswa kedokteran adalah pelajar, bukan karyawan, dan belum menjadi dokter umum. Itu benar, tapi faktanya, mahasiswa kedokteran bukan sekadar pelajar, tetapi juga memiliki peran sebagai ‘dokter dalam pelatihan’. Karena itu, selain menimba ilmu kedokteran, mahasiswa kedokteran juga di-setting dengan peran sebagai (calon) dokter yang menangani dan merawat pasien.

Targetnya, agar selain memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam, calon dokter ini juga menguasai keterampilan teknis dalam menangani pasien. Misalnya keterampilan mewawancarai pasien, merespons situasi, berkomunikasi dengan keluarga pasien, menulis catatan, membantu prosedur, dan membantu koordinasi perawatan pasien hingga perencanaan pemulangan.

Wawancara dengan pasien adalah pintu masuk ke arah diagnosis. Dengan wawancara yang komunikatif dan nyaman, bisa digali apa keluhan pasien dan riwayat sakitnya secara akurat, juga membantu penyusunan diagnosis dan tindakan medisnya.

Hal-hal semacam inilah yang wajib dilatih oleh para calon dokter. Dalam situasi pandemi ini, jika mahasiswa diliburkan, akan memperpanjang masa perkuliahan dan menunda kelulusan. Sebaliknya, jika ada mekanisme pelibatan dengan arahan dari otoritas, proses pembekalan keterampilan layanan pasien tetap bisa berjalan. Pedoman AAMC di atas disusun dengan mempertimbangkan kekhawatiran tentang risiko terinfeksinya mahasiswa dari pasien wabah. Meski demikian, risiko ini dapat diminimalisasi dengan menerapkan rambu dan prosedur yang ketat.

Cara ini akan memberi peluang mahasiswa untuk melakukan tugas klinis dengan tetap di bawah pengawasan dan arahan dokter seniornya.


Jalan tengah

Ada pengalaman historis memerankan mahasiswa kedokteran dalam pagebluk. Saat dunia dilanda pandemi wabah fl u Spanyol pada 1918, terjadi krisis dokter dan tenaga medis, termasuk di AS. Maka beberapa fakultas kedokteran di AS menerjunkan mahasiswanya sebagai bantuan tenaga medis. Misalnya University of Pennsylvania yang melibatkan mahasiswa kedokterannya untuk merawat pasien dalam kapasitas dokter.

Juga saat terjadi epidemi polio pada 1952 di Denmark, kelompok mahasiswa kedokteran ditugaskan untuk memberikan ventilasi secara manual kepada pasien.

Pola inilah yang kemudian ditiru saat menghadapi pandemi covid-19, antara lain oleh banyak fakultas kedokteran di AS. Daripada meliburkan atau menunda perkuliahan, lebih baik mempercepat kelulusan mahasiswanya. Akan tetapi, dengan syarat ikut melayani dan merawat pasien di RS, berperan sebagai ‘dokter cadangan’ di banteng pertahanan medis.

Di Indonesia juga ada contoh yang menyejarah. Menurut temuan Martina Safitry, dosen IAIN Surakarta yang meneliti peran dokter dan mantri pribumi saat pagebluk pes di Malang pada 1910-1919, ada 14 dokter Jawa yang bertugas di sana, termasuk dr Cipto Mangunkusumo.

Jelas jumlah itu sangat kurang jika dibandingkan dengan luasnya wabah yang saat itu menelan jutaan penduduk Hindia Belanda. Maka, mahasiswa semester akhir STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), sekolah dokter pribumi, diminta melanjutkan kuliah dengan praktik langsung di tengah wabah. Imbalannya, mereka tidak perlu mengerjakan tugas akhir untuk syarat kelulusan (Tempo, 16 Mei 2020).

Memang, meliburkan perkuliahan dan tidak melibatkan mahasiswa sama sekali menimbulkan kerugian. Mahasiswa terpaksa lebih lama kuliahnya, proses magang atau co as terhenti, dan pemanfaatan dokter baru jadi tertunda.

Barangkali karena itu, pemerintah Italia yang sempat melarang pelibatan mahasiswa kedokteran, kemudian mengeluarkan kebijakan yang lebih toleran, yakni mengizinkan pelibatan mahasiswa dalam penanganan pandemi covid-19, tapi tidak bersentuhan langsung dengan pasien di RS untuk mencegah risiko penularan.

Pelibatan tapi tidak bersentuhan langsung ini mungkin semisal membantu pendaftaran secara daring, mendokumentasikan diagnosis atau laporan medis, berkomunikasi dengan keluarga pasien, dan bentuk aktivitas lainnya yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien.

Itu adalah cara untuk melibatkan mahasiswa, tetapi mencegah potensi penularannya. Jika sampai tertular oleh pasien di RS, mahasiswa harus menjalani karantina. Jika tidak dikarantina, justru akan menjadi vektor yang menularkan pada keluarganya di rumah, mungkin menularkan ke orangtuanya yang rentan, atau pada lingkungan di sekitar rumahnya, yang akhirnya malah merepotkan.

Dengan demikian, pelibatan mahasiswa kedokteran dalam penanganan pandemi, tapi tidak bersentuhan langsung dengan pasien, bisa dianggap sebagai jalan tengah agar proses mencetak dokter profesional tidak terhambat, sekaligus juga menghindari potensi tertular.

Di Indonesia sejauh ini tidak ada pro-kontra tentang pelibatan mahasiwa kedokteran dalam penangan pasien covid-19. Mungkin karena jumlah kasus di sini tidak sebesar di AS atau Italia sehingga masih bisa ditangani oleh para dokter dan tenaga medis, termasuk dokter PPDS (peserta program dokter spesialis).

Sejauh ini, yang diatur ialah perkuliahan yang menyesuaikan dengan situasi. Universitas Airlangga, misalnya, melalui kebijakan Rektor Profesor Mohammad Nasih mema sifkan perkuliahan daring, menunda kuliah lapangan dalam jumlah besar, meniadakan kewajiban hadir kuliah, dan tidak memberlakukan syarat kehadiran 75% untuk ujian. Semoga wabah ini makin mereda sehingga mahasiswa kita bisa kembali ke perkuliahan dengan kenormalan baru.

Baca Juga

Dok. unair

Pandemi, Momentum Mendayagunakan Inovasi

👤Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga 🕔Kamis 06 Agustus 2020, 03:00 WIB
PANDEMI panjang covid-19 telah memuramkan semua sektor...
Dok.pribadi

Covid-19 Dan Kebijakan Berbasis Ilmu

👤Riant Nugroho, Dosen Pascasarjana FISIP Universitas Jenderal Achmad Yani 🕔Rabu 05 Agustus 2020, 14:10 WIB
Kegagalan merespons pandemi covid-19 yang membuat kita sekarang terancam resesi adalah karena kebijakan yang ada cenderung berbasis kemauan...
Medcom.id

Kaderisasi Perempuan Politik

👤Dwi Septiawati Djapar Ketua Umum DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Rabu 05 Agustus 2020, 04:32 WIB
Artinya, keterwakilan perempuan bukan sekadar afirmasi dan angka, melainkan bagaimana meletakkan perempuan sebagai subjek pembangunan dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya