Senin 06 Juli 2020, 07:51 WIB

Pelibatan Ormas Islam dalam Sertifikasi Halal Untungkan UMKM

Cahya Mulyana | Humaniora
Pelibatan Ormas Islam dalam Sertifikasi Halal Untungkan UMKM

MI/SUMARYANTO
Logo halal pada kemasan produk susu

 

PELIBATAN organisasi masyarakat (Ormas) Islam berbadan hukum dalam sertifikasi halal sebagaimana diatur dalam Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja dinilai akan menguntungkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani mengatakan pelibatan Ormas Islam dalam sertifikasi produk halal adalah sebuah terobosan baru dari pemerintah dalam pendistribusian wewenang. Hal ini dilakukan dalam rangka memudahkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam memperoleh sertifikat halal.

Bila selama ini sertifikasi halal hanya diberikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), dengan pendelegasian kewenangan kepada ormas-ormas Islam berbadan hukum diharapkan proses sertifikasi halal bisa lebih efisien baik dari segi waktu maupun biaya.

Baca juga: Warga Bandel, Akademisi Diminta Edukasi Protokol Kesehatan

"Produk-produk kecil skala rumahan kan banyak sekali jumlahnya. Yang penting mereka bisa terayomi, kepentingannya untuk memperoleh sertifikat halal itu bisa terakomodasi dengan mudah dan sederhana. Semangatnya itu," kata Arsul dalam keterangan resmi, Senin (5/7).

Arsul mengakui, terobosan baru yang dilakukan pemerintah di bidang sertifikasi halal ini sempat menuai polemik. Baginya, perbedaan pendapat yang tengah terjadi di antara ormas dapat diselesaikan dengan musyawarah.

"Perbedaan pendapat itu rahmat. Mari kita duduk bersama untuk selesaikan perbedaan ini," ucap Asrul.

Pelibatan ormas Islam berbadan hukum dalam sertifikasi produk halal tertuang dalam draf RUU Cipta Kerja Pasal 33 Ayat 1. Ayat 2 mengatur tata cara sertifikasi halal yang dilakukan dalam sidang fatwa halal. Ayat 3 menyebutkan, sidang fatwa halal paling lambat diputus tiga hari kerja sejak MUI atau ormas Islam yang berbadan hukum menerima hasil pemeriksaan dan/atau pengujian produk dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Sementara Ayat 4 mengatur penetapan kehalalan produk disampaikan kepada BPJPH sebagai dasar penerbitan sertifikat halal.

Ketentuan dalam RUU Cipta Kerja ini selanjutnya merevisi Undang Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). (OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Merokok Meningkatkan Potensi Terjangkit Covid-19

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 06:48 WIB
Banyak studi yang telah dilakukan, potensi perokok terjangkit Covid-19 bisa dua sampai tiga kali lebih tinggi dari yang bukan perokok. Asap...
DOK DENPASAR 12

Pandemi Ancam Kesehatan Jiwa Masyarakat

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 06:30 WIB
Orang muda berpotensi lebih besar mengalami gangguan cemas menyeluruh (GCM). Orang yang menghabiskan banyak waktu membahas pandemi juga...
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Sekolah Diimbau Berani Buka Tutup

👤Bay/H-1 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 06:20 WIB
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengimbau agar unit pendidikan ke depannya harus terbiasa dengan sistem buka...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya