Minggu 05 Juli 2020, 00:55 WIB

Bakar Tongkang demi Tanah Harapan

Fatmawati Adnan | Weekend
Bakar Tongkang demi Tanah Harapan

Dok Dinas Pariwisata Riau
Tradisi bakar Tongkang

KIM cua, kertas berwarna merah emas yang digunakan untuk sembahyang, mengalasi dan mengitari tongkang. Replika kapal yang dihiasi bendera, orangorangan, dan gambar berwarna-warni itu tampak mencolok di tengah-tengah arena pembakaran.

Lalu api pun menyala, menyambar ganas. Melahap layar, anjungan, geladak, dan lambung tongkang. Kekuatan api itu semakin terasa  dengan iringan tambur, tong-tong, dan ceng-ceng. Puncak acara bakar tongkang menghadirkan suasana yang luar biasa. Panas, meriah, dan heboh.

Momen yang paling ditunggu oleh warga Tionghoa yang mengikuti upacara bakar tongkang ialah jatuhnya tiang penyangga layar. Mereka percaya arah jatuhnya tiang memberi tahu asal rezeki mereka pada tahun berikutnya. Jika arah tiang jatuh ke laut, rezeki akan lebih banyak didapat dari laut. Jika arah jatuhnya ke darat, rezeki akan lebih banyak dari darat.

Sebelumnya, replika tongkang yang berukuran 8,5 meter, lebar 1,7 meter, dan berat sekitar 400 kg itu diarak keliling Kota Bagan Siapi-api, Riau. Satu malam sebelum diarak, replika tongkang disimpan di kuil untuk diberkati. Kesakralan tongkang diperkuat dengan adanya gambar kepala naga di bagian depan kapal itu yang awalnya ditutup dengan kain merah.

Kepala naga merupakan simbol dewa yang memiliki kedudukan tertinggi. Puluhan lelaki dewasa mengarak tongkang di jalan raya yang dipenuhi ribuan manusia. Tongkang itu seperti mengarungi lautan manusia sebab replika kapal itu bergoyang-goyang bak di lautan, di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang mengikuti upacara.

Arakan tongkang diawali dengan beragam atraksi ketangkasan dan pawai jalan kaki yang dilakukan warga Tionghoa. Peserta pawai dan pengunjung yang menyambut di sepanjang jalan memegang hio yang sudah dibakar. Suasana oriental semakin menguat karena adanya barongsai dan musik pengiring yang menghadirkan suasana penuh semangat.

Pawai dan arakan replika tongkang menyusuri jalan di Kota Bagan Siapi-api, bermula dari kuil menuju tempat pembakaran. Menempuh jarak sekitar 2 km dengan jarak tempuh 1 jam. Orang-orang berdesakan di sepanjang jalan yang dilalui arakan tongkang.

Kota kecil di pesisir timur Pulau Sumatra itu pun telah berhias menyambut helat terbesar di daerah mereka. Puluhan payung cantik beragam warna dan corak mengatapi jalan. Di sisi lain, umbul-umbul dan bendera memagari jalan. Kemeriahan kota semakin terasa dengan munculnya ornamen-ornamen khas Tionghoa untuk kelengkapan acara. Patung-patung kertas berwujud naga, kuda, ikan, dan nanas dipajang di atas meja-meja panjang.

Lilin-lilin aneka warna dan ukuran dengan hiasan gambar turut mempercantik suasana kota. Warna dominan untuk semua ornamen itu ialah kuning emas dan merah. Pesona upacara bakar tongkang mampu mengundang puluhan ribu orang untuk datang ke Kota Bagan Siapi-api. Kota yang dijuluki ‘Hong Kong van Andalas’ itu pun menjadi penuh sesak setiap kali upacara bakar tongkang diselenggarakan.

“Setiap tahun pengunjung yang ingin menyaksikan upacara bakar tongkang membeludak,” ujar Syahrial, seorang ASN
Pemkab Rokan Hilir. “Tahun 2018 jumlah pengunjung mencapai 69 ribu orang, selanjutnya di 2019 jumlah pengunjung mencapai 75 ribu orang,” lanjutnya dengan menyebutkan jumlah pengunjung upacara bakar tongkang pada dua tahun terakhir.

Pada 2020 ini, upacara digelar pada Juni. Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan Pemerintah Provinsi Riau menggadang-gadang upacara ini sebagai kegiatan tahunan untuk destinasi wisata favorit.


Asal mula

Tiga tongkang (kapal) kayu berlayar dari Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok. Perjalanan mengarungi samudra ditempuh selama berbulan-bulan. Ada keinginan kuat mencari tempat baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Mereka sempat mendarat di Songkhla, Thailand, pada 1825. Akan tetapi, mereka segera meninggalkan tempat itu karena
ada wabah yang melanda. Perjalanan ke selatan dilanjutkan. Sayang sekali, dua kapal tenggelam dihantam badai. Satu kapal terapung-apung kehilangan arah. Kapal yang terapung-apung itu berpenumpang 18 orang (lelaki dan perempuan), semuanya bermarga Ang. Mereka dipimpin oleh Ang Nie Kie.

Dalam kebimbangan di tengah lautan mereka berdoa memohon bantuan kepada Dewa Kie Ong Ya agar diberi petunjuk menuju daratan. Tak lama kemudian, mereka melihat cahaya api dalam kegelap an malam. Kegembiraan menyelimuti hati mereka sebab di mana ada api di situ ada daratan.

Hari itu tepat tanggal 16 bulan 5 penanggalan Imlek pada tahun 1826 Masehi, mereka berlabuh di Kuala Sungai Rokan. Ribuan kunang-kunang beterbangan berputar-putar di atas bagan (tempat penampungan ikan) sambil memancarkan cahaya.

Mereka memutuskan untuk menetap di tempat itu. Tanah yang subur untuk bertanam dan ikan yang melimpah di lautan diyakini akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Mereka juga memutuskan untuk membakar tongkang agar tidak pernah kembali ke Fujian. Itulah asal mula kedatangan orang Tionghoa di Kota Bagan Siapi-api dan awal adanya ritual pembakaran tongkang.

Sejak 1826, upacara bakar tongkang diadakan setiap tanggal 16 bulan ke-5 sebagai ucapan terima kasih kepada Dewa Kie Ong Ya. Dalam bahasa Hokkien bakar tongkang disebut go gek cap lak. 


Potensi wisata

Dari tahun ke tahun upacara bakar tongkang terus diadakan sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah membuka kehidupan baru di tanah yang baru. Namun, pada masa Orde Baru, upacara bakar tongkang ditiadakan. Pada masa pemerintahan Gus Dur, upacara bakar tongkang kembali diadakan oleh warga Tionghoa Bagan Siapi-api.

Penyelenggaraan upacara bakar tongkang selanjutnya semakin meriah. Pengun jung tidak hanya dari Dumai atau Pekanbaru, tetapi juga berdatangan dari luar negeri. Upacara bakar tongkang semakin menarik karena dibumbui dengan atraksi dan pertunjukan lain yang luar biasa. Tak hanya menampilkan seni budaya Tionghoa, tetapi juga memunculkan warna Melayu. Tidak hanya menampilkan ritual, tetapi juga hiburan berkelas internasional (tahun lalu mendatangkan artis dari Taiwan).

Sepertinya harapan pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, tidak berlebihan, sebab secara konsisten jumlah pengunjung yang datang ke Kota Bagan Siapi-api untuk menghadiri upacara bakar tongkang meningkat. Jumlah pengunjung pada 2017 sebanyak 52 ribu orang, 2018 sebanyak 69 ribu, dan di 2019 sebanyak 75 ribu orang. 

Dari jumlah itu, 40% pengunjung merupakan wisatawan asing yang berasal dari berbagai negara di dunia, terutama dari Hong Kong, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Jumlah itu membuat Kementerian Pariwisata tidak ragu untuk memasukkan upacara bakar tongkang ke dalam 100 Wonderful Events in Indonesia. (M-4)

Baca Juga

Dok Nona

Brand Lokal Nona Berkonsep Loose Wear, Lahir dari Engineer

👤Retno Hemawati 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 23:55 WIB
Untuk setiap detail cutting design koleksi pakaiannya sangat diperhatikan karena berasal dari tangan wanita seorang mantan...
AFP

Netflix Buka Lebar Produksi Konten Lokal

👤Antara 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 21:27 WIB
Netflix selalu menerima segala masukan mengenai tayangan yang ingin dilihat masyarakat Indonesia, termasuk tayangan original bermuatan...
Dok Netflix

Bioskop Diyakini Tetap Tak Tergantikan

👤Fathurrozak 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 19:55 WIB
Setelah pandemi, keberadaan bioskop akan berdampingan dengan VoD...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya