Sabtu 04 Juli 2020, 06:05 WIB

Orangtua Cerdas dan Pendidikan New Normal

IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini
Orangtua Cerdas dan Pendidikan New Normal

MI/PIUS ERLANGGA

MENJADI orangtua pada masa pandemi ini tentu saja tak mudah. Selain harusmemenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, beban tambahan yang mungkin saja bisa lebih berat ialah soal pendidikan anak sebab sesuai protokol pembatasan jarak sosial, anak-anak harus belajar di rumah.

Terkait pendidikan, tingkat keterkejutan atau kepanikan orangtua mungkin tak akan terlalu tinggi jika tak ada soal yang lebih mendasar, yakni sudut pandang dan wawasan pendidikan.

Pendidikan kita dan pendidikan di hampir seluruh negara di dunia telah sekitar 200 tahun bergerak dalam paradigma sistemis yang disebut sebagai persekolahan (schooling). Pertanyaan paling mendasarnya ialah, "Kenapa pendidikan telah cenderung diserahkan ke sekolah?" Kita juga bisa terus bertanya, "Apakah orang yang berhasil dalam hidupnya rerata karena sekolah formal ataukah faktor-faktor lain?"

Selanjutnya, ketika kini orangtua harus kembali menjadi 'guru utama' bagi anak-anak mereka, apakah bisa diklaim bahwa tingkat keberhasilan akan berkurang, terutama karena mereka tak bersekolah guru atau belajar psikologi?

Anne Frank

Mari kita mulai dengan kisah sederhana, tapi pokok. 'Saya mulai menyadari kebenaran pendapat ayah', tulis Anne Frank (1929-1945). Dalam buku diari yang terkenal, 'bahwa setiap anak harus membesarkan dirinya sendiri. Orangtua hanya dapat menasihati anak-anak mereka atau mengarahkan mereka ke arah yang benar. Pada akhirnya, setiap orang membentuk karakter mereka sendiri'.

Anne Frank sendiri menjadi korban Holocaust pada usia 15 tahun. Dia hanya sempat menjadi anak dan tak sempat menjadi orangtua. Namun, dalam diari yang ditulisnya pada sepanjang masa persembunyian (1942-1944), kita belajar banyak tentang bagaimana seorang anak secara polos memandang orangtua dan upaya pendidikan yang mereka lakukan.

Salah satu kecenderungan orangtua meskipun tak semua ialah keinginan membentuk anak menjadi apa yang mereka hendaki. Kalau tidak, mereka ingin membentuk anak-anak menjadi seperti yang diingin kan dalam ukuran-ukuran sosial di lingkungan mereka. Anakanak diceramahi berbagai macam hal, dihukum jika melawan, dan dikirim ke sekolah yang belum tentu pilihan si anak sendiri.

Namun, pada akhirnya, seperti ditulis Anne Frank dan demikian pula sebenarnya yang terjadi pada sebagian besar orang, 'menjadi apa atau siapa' ialah soal perjalanan hidup dan pilihan yang diambil. Kalau terjadi pemaksaan oleh orangtua, guru, sekolah atau komunitas, terjadi konflik psikologis yang tak jarang menyebabkan trauma atau bahkan kegagalan dalam hidup.

Dilema persekolahan

Seiring soal bentuk-membentuk ini, dalam sistem pendidikan modern yang berbasis persekolahan, salah satu yang sering tak disadari ialah sekolah telah menjadi semacam mesin pembentuk anak-anak. Dimulai secara massal sejak masa revolusi industri, sekolah menjadi produsen pekerja pabrik dan pegawai. Anak-anak harus menjadi manusia mesin yang 'patuh, tepat waktu, dan taat aturan'.

Sebagai dampaknya, keberhasilan pendidikan, dalam kacamata umum, dikuantifi kasi dengan angka-angka nilai dan prestasi baik ketika sedang menempuh pendidikan maupun setelah lulus. Pascapendidikan, bukan wacana yang umum kalau keberhasilan diukur dengan keberhasilan dalam merintis usaha employer) apalagi jika merangkak dari bawah atau dalam sektor-sektor yang tak populer.

Dalam kerangka ini, pendidikan mengalami industrialisasi yang membentuk kesadaran bahwa bersekolah formal itu wajib karena ia menentukan keberlanjutan hidup anak anak.

Industrialisasi ini menciptakan ketergantungan dengan iming-iming kediterimaan di dunia kerja dan status sosial. Di sisi lain, terutama karena ekses dari masifikasi, konten dan proses pendidikan dalam logika persekolahan seperti berjalan sendiri dan amat tipis bersinggungan dengan dunia nyata.

Salah satu bukti riil ialah pembelajaran yang terpasung buku teks dan re levansi angka-angka dalam rapor dan ijazah dengan dunia yang mana anak-anak hidup dan masa depan mereka.

Orangtua cerdas

Pada masa pandemi ini, ketika anak-anak terpaksa belajar di rumah, tak sedikit orangtua yang pada akhirnya kelabakan. Selain karena mereka dipaksa berinteraksi dan mengurus anak-anak dalam akumulasi waktu yang lebih banyak dan intensitas yang lebih tinggi, juga karena mereka memaksakan diri menjadi 'guru sekolah an' atau perpanjangan tangan para guru.

Namun, ini akan berbeda bagi orangtua yang berpandangan jauh. Bahkan, dalam pandangan dan pengalaman hidup saya, orangtua dengan wawasan yang cerdas justru akan melihat pemberlakuan sistem belajar di rumah sebagai kesempatan yang tak kalah baik nya bagi pendidikan anak.

Pertama, orangtua harus berhenti memandang sekolah sebagai segalagalanya. Sekolah hanya satu fasilitas saja bagi perkembangan anak-anak. Demikian pula orangtua jangan berpikir menjadi 'guru sekolahan' dan berpretensi mengajar seperti mereka.

Dalam posisi sebagai 'orangtua', sebagai contoh, ketika belajar di sekolah pada umumnya berkutat pada buku teks dan konsep yang kering, orangtua bisa secara cerdas mengajak anak-anak belajar dalam konteks dunia yang lebih nyata.

Secara konseptual, mereka memanfaatkan bahan-bahan tekstual, tapi untuk pemahaman, pendalaman, dan keterampilan mereka memfasilitasi anak-anak untuk masuk ke praktik-praktik kehidupan dalam bidang ekonomi, pertanian sederhana, dstnya.

Kedua, jika berpegang pada makna pendidikan seperti yang disadari Anne Frank, orangtua tak perlu pusing karena salah kaprah. Menjadi guru bukanlah menjadi Tuhan yang kuasa membentuk anak-anak seperti membentuk tanah lempung.

Fungsi keguruan ialah sekadar memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak ketika soal menjadi apa dan siapa ialah jalan hidup dan pilihan anak-anak itu sendiri.

Dalam praktiknya, tentu saja ada kendala. Berdasar bincang-bincang saya dengan beberapa kawan yang mengurus anak atau cucu mereka, salah satu tantangan terbesar ialah praktik mekanis-administratif guru dan sekolah.

Dalam praktik ini, pendidikan menjadi sekadar kejar tayang konten, keterpenuhan administrasi, dan kesesuaian dengan kebijakan lokal dan nasional. Berdasar pada penyeragaman dan mekanisasi, ia menggerus daya lentur, ketajaman, dan manfaat riil pendidikan.

Namun, saya sendiri optimistis bahwa badai pandemi ini membawa hikmah bagi pendidikan. Kalaupun tak mencapai tujuan seperti dinyatakan Anne Frank bahwa anak-anak harus dimampukan untuk bertumbuh dan mengembangkan dirinya sendiri setidaknya pandemi ini telah membuka mata kita bahwa anak anak bermula dari keluarga dan di sanalah pendidikan yang sebenarnya dimungkinkan.

Baca Juga

Dok. Metro TV

Timur Tengah Pascaledakan Beirut

👤Hasibullah Satrawi Pengamat Politik Timur Tengah dan dunia Islam 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 04:10 WIB
LEDAKAN superdahsyat yang terjadi di Beirut, Libanon (4/08/2020) masih menjadi pembahasan masyarakat...
Antara/Katriana

Kota Sehat dan Kesehatan Kota

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 04:00 WIB
Urbanisme dan kesehatan memegang peranan penting terhadap bentuk perkotaan, desain perkotaan, dan...
Dok.pribadi

Pilkada, Korupsi dan Klientelisme

👤Damianus Febrianto Edo, Peminat Isu Sosial dan Media 🕔Senin 10 Agustus 2020, 23:55 WIB
Siklus korupsi seperti ini sangat rentan dibasmi karena melibatkan orang-orang...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya