Jumat 03 Juli 2020, 18:15 WIB

Penggemar Film Apokaliptik Lebih Resilien Hadapi Krisis Pandemi

Fathurrozak | Weekend
Penggemar Film Apokaliptik Lebih Resilien Hadapi Krisis Pandemi

Dok 2012 movie
Para peneliti ungkap penonton film bertema bencana hari akhir cenderung lebih resilien dan lebih siap dalam menghadapi pandemi covid-19.

PARA psikolog menemukan bukti bahwa para penggemar film-film apokaliptik, mungkin lebih resilien dan lebih siap menghadapi pandemi coronavirus daripada kita semua.

Skenario suram yang ditawarkan di genre ini seperti dalam film Contagion, mulai dari panic buying dan mengisolasi diri terhadap orang lain, dan klaim palsu pengobatan mujarab, muncul untuk membantu penonton menghadapi suatu wabah dengan langkah mereka dan mencari cara terbaik untuk menangani krisis.

"Jika ini film yang bagus, itu akan menarik Anda, dan Anda mengambil perspektif karakter, sehingga Anda tidak sengaja berlatih skenario. Kami pikir orang belajar sebagai pengganti,” kata Coltan Scrivner, psikolog yang melakukan studi ini, dan memiliki spesialisasi dalam bidang  morbid curiosity di University of Chicago, dikutip dari The Guardian.

Dalam studi ini, para peneliti menanyai 310 sukarelawan mengenai preferensi film mereka dan melihat sejarah sebelum bertanya kepada mereka, seberapa siap mereka merasa akan menghadapi pandemi dan tingkat kecemasan, depresi, lekas marah dan sulit tidur yang telah mereka alami.

Penggemar film horor tampak kurang tertekan oleh krisis, bila dibandingkan dengan kebanyakan orang, tetapi mereka yang lebih menyukai ‘film prepper’ atau apokaliptik - film yang memiliki cerita runtuhnya tatanan masyarakat- dinilai lebih tangguh dan lebih siap, baik secara mental maupun praktis.

Temuan itu diadakan ketika para psikolog mengontrol usia, jenis kelamin, betapa orang menyukai film secara umum, dan ciri-ciri kepribadian seperti neuroticism dan conscientiousness.

Scrivner percaya, salah satu alasan orang tertarik pada film-film apokaliptik adalah bahwa mereka memberi penonton cara yang aman dalam menghadapi kekacauan dan keruntuhan sosial. 

Mathias Clasen, psikolog di Universitas Aarhus dan rekan penulis studi tersebut, yang kini studinya tengah ditinjau di jurnal Ilmu Psikologi Sosial dan Ilmu Kepribadian, mengatakan film dapat membantu orang mempersiapkan situasi menakutkan dengan cara yang sama dengan imajinasi kita yang memungkinkan kita untuk berlatih kembali. 

“Kemampuan kita untuk secara imajinatif menghuni dunia virtual - dunia buatan kita sendiri, serta yang disampaikan oleh film dan buku - adalah hadiah dari seleksi alam; sedikit mesin biologis yang berkembang karena memberi nenek moyang kita keunggulan dalam perjuangan untuk bertahan hidup,” kata Clasen. Menurut Clasen, banyak menonton film apokaliptik akan membantu penontonnya berada di situasi simulasi akhir dari dunia. Sehingga, ketika krisis benar-benar melanda, penonton film apokaliptik dianggap lebih siap dan lebih baik dalam menghadapinya. (M-1)

Baca Juga

AFP/Noel Celis

A Thousand Cuts, Potret Buram Kebebasan Pers di Filipina

👤Fathurrozak 🕔Senin 10 Agustus 2020, 17:05 WIB
Dokumenter ini menyoroti kehidupan jurnalis Maria Ressa yang acap mengkritisi kebijakan Presiden Rodrigo...
AFP/KENA BETANCUR

Mengapa Karaoke tak Dipatenkan Penciptanya?

👤Abdillah Marzuqi 🕔Senin 10 Agustus 2020, 15:26 WIB
Karena tak dipatenkan, sang penemu kehilangan potensi royalti kurang lebih US$100 juta hanya pada tahun...
Dok. JFW 2021

Busana Adaptasi New Normal di JFW 2021

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 10 Agustus 2020, 14:00 WIB
Label Raegita Zoro mengadaptasikan new normal dengan baju yang lebih panjang dan lengkap dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya