Jumat 03 Juli 2020, 05:09 WIB

Kegagalan Medsos Kans Media Konvensional

Che/P-2 | Politik dan Hukum
Kegagalan Medsos Kans Media Konvensional

Medcom.id/Mohammad Rizal.
Ilustrasi

 

KEGAGALAN media sosial (medsos) mengontrol mesin-mesinnya untuk tidak menyebarkan pesan yang mengandung ujaran kebencian, semangat permusuhan, terorisme, dan rasialisme, memunculkan harapan baru. Hal itu membuka peluang kebangkitan media arus utama yang bertahan pada pola konvensional.

Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo mengemukakan itu dalam diskusi daring bertajuk New Equilibrium: Fajar Baru untuk Media Jurnalistik, Rabu (1/7).

Agus mencontohkan keputusan sejumlah perusahaan besar internasional, seperti Unilever dan Starbucks, yang menghentikan kerja sama penayangan iklan di Facebook dan Youtube.

Fenomena pencabutan iklan tersebut mengoreksi apriori banyak pihak yang mengatakan media arus utama akan ketinggalan dari media sosial. Kenyataannya, tambah Agus, publik dan pengiklan membutuhkan media konvensional sebagai suatu hal yang tidak bisa dilayani media sosial, terutama dalam hal verifikasi sumber berita.

“Para pengiklan mulai khawatir dengan berbagai aktivitas media sosial, seperti Facebook dan Youtube. Karena itu, mereka mulai kembali beralih ke media konvensional,” jelasnya.

Meski begitu, bukan berarti medsos bakal ditinggalkan. Justru ada kecenderungan untuk adanya keseimbangan baru.

Editor senior The Jakarta Post Endi Bayuni menyebutkan sejumlah platform media sosial, seperti Facebook dan Google sudah memulai kerja sama dengan media arus utama untuk cek fakta. Hal ini dilakukan agar para penguasa media sosial itu tidak ditinggal para pelanggannya. “Kita melihatnya ada upaya dari Facebook dan Google untuk menge-share revenue mereka dengan media mainstream,” ungkapnya.

Bagi Endi, kedua platform tersebut melihat Indonesia merupakan pasar yang cukup besar bagi produk mereka. “Karena itu, mereka tentu akan perhatikan lingkungan di Indonesia,” jelasnya.

Di kesempatan berbeda, anggota Komisi I DPR Willy Aditya berharap media massa konvensional tetap konsisten menyebarkan informasi yang valid. Walaupun tertekan keberadaan media sosial, media konvensional diharapkan tidak mengabaikan aspek literasi dan pendidikan bagi publiknya. “Media massa jangan ikut terjebak dengan pola yang dilakukan media sosial demi lamannya banyak dikunjungi atau dibaca. Jangan ikut-ikutan menonjolkan aspek bombastis media sosial,” kata Willy ketika dihubungi, kemarin.

Willy melihat platform medsos pun ditekan untuk ketat menyeleksi agar bebas dari konten-konten negatif yang merusak. (Che/P-2)

Baca Juga

MI/Fransisco Carollio

Polisi Panggil 5 Saksi Baru Terkait Dugaan Suap Joko Tjandra

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Senin 10 Agustus 2020, 17:28 WIB
Polri membuat surat panggilan untuk pemeriksaan tambahan 5 orang saksi dan membuat administrasi penyidikan dalam kasus surat jalan palsu...
Dok MI

Kawal Suara, PDI-P Kerahkan 120 Saksi Pilkada 2020

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 10 Agustus 2020, 17:23 WIB
Para saksi ini, selain dibekali skill mumpuni terkait kepemiluan, Arif mengatakan mereka juga bagian dari strategi semakin membesarkan...
Antara

Polri Siapkan Tim Khusus Ladeni Anita Kolopaking di Pengadilan

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Senin 10 Agustus 2020, 16:57 WIB
“Sah-saja karena memang diatur dalam KUHP dalam rangka untuk menguji sah atau tidaknya penangkapan dan penahanan seseorang,”...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya