Rabu 01 Juli 2020, 15:35 WIB

Kemarau, Berbagai Upaya Dilakukan Petani untuk Selamatkan Padi

Nurul Hidayah | Nusantara
Kemarau, Berbagai Upaya Dilakukan Petani untuk Selamatkan Padi

MI/Kristiadi
ilustrasi sawah.

 

Memasuki musim kemarau, berbagai upaya dilakukan petani di Kabupaten Indramayu untuk menyelamatkan tanaman padi mereka.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang menjelaskan bahwa ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di Kecamatan Kandanghaur. ''Tapi juga di beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Indramayu,'' kata Sutatang, Rabu (1/7).

Daerah tersebut, di antaranya Kecamatan Terisi sekitar 3 desa, Kecamatan Gabuswetan serta Kecamatan Losarang. Umur tanaman padi di tiga kecamatan tersebut berkisar 30 hingga 50 hari. ''Yang terparah memang di Kecamatan
Kandanghaur,'' ujar Sutatang.

Baca Juga: Antisipasi Kemarau, Petani di Jambi Diminta Semai Padi Dipercepat

Umur tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur juga masih muda, yaitu di bawah sebulan karena sebelumnya
pernah kena banjir sehingga harus melakukan tanam ulang. Penyebab kekeringan, menurut Sutatang, karena daerah-daerah tersebut berada di ujung irigasi. ''Jadi selalu paling akhir menerima pasokan air baik itu dari Waduk Jatigede maupun dari Waduk Jatiluhur.''

Bahkan air tak kunjung masuk ke wilayah mereka karena dalam perjalanannya seringkali disedot oleh petani lainnya menggunakan pompa air. ''Debit air yang semakin sedikit ditambah adanya penguapan membuat  areal pertanian di ujung irigasi tidak lagi mendapatkan pasokan air,'' ungkap Sutatang.

Untuk itu, petani melakukan berbagai upaya, seperti membuat sumur pantek. Biayanya bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung kedalaman sumur. ''Ada petani yang patungan untuk menghemat biaya. Namun yang sawahnya luas biasanya membuat sumur pantek sendiri,'' tambah Sutatang.

Baca Juga: Produksi Padi Selama Musim Kemarau Diprediksi Naik

Sekalipun sudah berumur tua, tanaman padi yang usianya di bawah 60 hari menurut Sutatang masih membutuhkan pasokan air yang banyak. ''Sebagai persiapan keluar malay atau padi bunting,'' imbuh Sutatang.

Jika malay sudah keluar, yaitu di usia 60 hari ke atas, barulah padi menjadi kuat sekalipun pasokan airnya sudah minim.

Saat ini, lanjut Sutatang, petani berupaya untuk bertahan dengan  berbagai cara untuk menyelamatkan tanaman padi mereka. Apalagi jika tanaman padi sudah berusia tua dan tinggal menunggu malay. Sutatang juga berharap upaya yang dilakukan petani berhasil sehingga produksi gabah di Kabupaten Indramayu tidak terganggu.

Seperti diberitakan sebelumnya, ketua KTNA Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menjelaskan di wilayahnya ada 1.300 hektare tanaman padi yang terancam mati akibat kekeringan. Areal tersebut tersebar di 4 desa yaitu Desa Karangmulya, Karanganyar, Wiranakan, dan Wirapanjunan. Ancaman puso karena ketiadaan lagi air di saluran irigasi. (UL/OL-10)

Baca Juga

ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Serangan Hama Belalang di Sumba Timur Meluas

👤Palce Amalo 🕔Minggu 12 Juli 2020, 13:07 WIB
Serangan hama belalang telah mencapai 13  titik termasuk Bandar Udara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur....
MI/Denny Susanto

Masyarakat Pesisir Sungai Kalsel Olah Eceng Gondok Jadi Kertas

👤Denny Susanto 🕔Minggu 12 Juli 2020, 12:45 WIB
Program ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan keterampilan masyarakat Desa Wisata Lok Baintan agar menjadi lebih kreatif dan...
Dok pemprov jatim

Koperasi di Jatim Harus Percepat Transformasi Digital

👤RO/Micom 🕔Minggu 12 Juli 2020, 12:39 WIB
Pandemi covid-19 harus dijadikan momentum bagi koperasi untuk masuk ke dalam ekosistem...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya