Rabu 01 Juli 2020, 11:35 WIB

Kepadatan Lalu Lintas Capai 96%, Dishub Tak Mau Buru-buru Terapka

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Kepadatan Lalu Lintas Capai 96%, Dishub Tak Mau Buru-buru Terapka

MI/Saskia Anindya Putri
Kebijakan ganjil genap di Jakarta

 

Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat kepadatan lalu lintas di jalan-jalan protokol, yaitu Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin saat ini selama PSBB Transisi sudah mencapai 96% dari kondisi sebelum adanya wabah covid-19.

Kondisi tersebut, kata Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub DKI Susilo Dewanto, disebabkan oleh mulai normalnya kembali sektor-sektor perekonomian yang membuat sebagian besar pekerja sudah beraktivitas normal kembali.

"Kepadatan lalu lintas sudah mencapai 96% dari sebelum ada wabah. Jadi, ini sudah mendekati normal," kata Susilo, Selasa (30/6).

Kepadatan lalu lintas itu di antaranya didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua yang mencapai 72,8%. Persentase ini diketahui lebih banyak 1% dibandingkan persentasi roda dua di saat normal, yakni 71,5%.

Sementara jumlah kendaraan roda empat selama PSBB Transisi sebesar 26,5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan persentase kendaraan di waktu normal, yakni 27,5%.

Lalu untuk persentase jumlah angkutan umum yang beredar selama PSBB Transisi ini baru 0,7%. Jumlah ini menurun dibandingkan angka saat pada masa normal atau sebelum adanya pandemi covid-19 yang mencapai 1,5%.

Baca juga: DPRD Bongkar Konsep Reklamasi Ancol yang Diizinkan Anies

Susilo mengatakan tingginya porsi kendaraan roda dua ini disebabkan kondisi angkutan umum yang masih dibatasi kapasitasnya, hanya 50%. Jumlah penumpang angkutan umum di koridor utama saat ini masih jauh di bawah normal.

"Jumlah penumpang di koridor utama bus rapid transit (BRT) TransJakarta selama normal mencapai 484.483 penumpang per hari. Turun menjadi 132.354 penumpang per hari di masa PSBB Transisi, tukas Susilo.

Namun demikian, Susilo menegaskan pihaknya masih belum akan menerapkan pembatasan lalu lintas ganjil genap melihat data-data ini. "Sebab pembatasan ganjil genap harus diiringi dengan penambahan kapasitas angkutan umum," paparnya.

Sementara untuk penambahan armada, menurutnya, juga tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru karena kondisi anggaran subsidi Transjakarta yang juga berkurang akibat pandemi covid-19.

"Untuk penambahan armada sendiri, saya sampaikan kepada Transjakarta bahwa silakan mengupayakan armada secara optimal. Optimal itu apa, yakni jangan sampai jor-joran saat ini, tapi nanti November-Desember sudah tidak bisa beroperasi. Karena kan kita memperkirakan di November-Desember itu penumpang pastinya akan lebih banyak lagi dari saat ini," jelas Susilo.

Transjakarta, menurutnya, harus menerapkan pola manajeman pengelolaan armada sesuai dengan kemampuan anggaran yang ada. (OL-14)

 

Baca Juga

ANTARA/Risky Andrianto

Transportasi Publik di Soekarno-Hatta Wajib Disemprot Disinfektan

👤Antara 🕔Selasa 14 Juli 2020, 05:59 WIB
"Standar prosedur yang ditetapkan perseroan harus dipenuhi operator transportasi publik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat...
MI/AGUNG WIBOWO

Kegiatan Belajar-Mengajar di DKI akan Dibuka Bertahap

👤Antara 🕔Selasa 14 Juli 2020, 05:44 WIB
Hal itu karena Indonesia menempati urutan ke-26 dunia untuk kasus covid-19 dan Jakarta menduduki posisi kedua di Indonesia dalam jumlah...
MI/Bary Fatahillah

Di luar Jam Sibuk, Waktu Tunggu Angkutan Umum akan Lebih Lama

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 13 Juli 2020, 22:21 WIB
Syafrin berharap dengan hal seperti ini ia diharapkan akan menurunkan minat masyarakat untuk bermobilitas tanpa ada sebab yang urgen...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya