Selasa 30 Juni 2020, 13:34 WIB

Peraih Adinegoro 2020 Ungkap Tips Kunci Menjadi Jurnalis

Henri Siagian | Humaniora
Peraih Adinegoro 2020 Ungkap Tips Kunci Menjadi Jurnalis

Instagram @mediaindonesia
Journalist on Duty

 

RASA ingin tahu dan taat logika dalam mengungkap segala sesuatu bagi publik menjadi kunci bagi jurnalis.

"Kalau banyak wartawan ternyata membuat berita mirip-mirip dari sumber yang sama, jangan-jangan enggak ada rasa penasaran lagi. Ya ngapain juga jadi wartawan," tegas jurnalis Metro TV Rahdhini Ikaningrum saat berbincang bersama Jurnalis Senior Media Indonesia Sabam Sinaga dalam program Journalist on Duty Media Indonesia melalui siaran langsung Instagram Media Indonesia, Senin (29/6) malam.

Taat logika, jelas peraih penghargaan tertinggi bagi insan pers Adinegoro 2020 itu, adalah untuk mampu menjelaskan fenomena atau persoalan secara runut. Jika tidak, imbuh dia, bisa terjadi kesalahan kesimpulan. "Sebelum liputan harus mapping persoalan. Kalau tidak taat logika, bisa jumping conclusion," kata dia.

Berangkat dari mapping persoalan, sambung dia, jurnalis akan mampu melihat permasalahan lain. Dan rasa ingin tahu, lanjut dia, akan selalu menggelitik jurnalis untuk memberi jawaban bagi publik.

"Kalau mau profesi jurnalis bertahan, ya harus punya rasa penasaran. Jika tidak, hanya akan menjadi robot. Berangkat dari rumah, di kantor mengerjakan yang ditugaskan, selesai kembali ke rumah. Tidak ada rasa penasaran," katanya.

Dia mencontohkan karya program Insight di Metro TV yang berjudul Berebut Oksigen di Tambora yang meraih penghargaan Adinegoro 2020.

Baca juga: Mengatasi Krisis di Dunia Pers dengan Mempertahankan Kualitas

Liputan itu berangkat dari beragam referensi ataupun peliputan yang sudah ada di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Sehingga, kata Dini, tim Metro TV sudah mengetahui persoalan kepadatan penduduk di daerah itu yang dicap sebagai daerah terpadat se-Asia Tenggara.

Kalau dirata-rata, lanjut dia, tiap satu meter persegi di kawasan itu ditempati oleh empat orang. Sehingga, sambungnya, satu rumah berukuran 5x5 meter persegi yang dibangun bertingkat alakadarnya di Tambora bisa dihuni oleh lebih dari 20 orang.

"Kami kemudian membayangkan, apa sebenarnya yang paling esensian dibutuhkan dari kondisi itu. Dan kami mendapati ya yang paling esensial adalah oksigen. Sehingga, kami pun menampilkan visual beserta narasi yang menggambarkan kondisi itu," kata dia.

Baca juga: Simak, Kiat Iim Fahima Dampingi Anak Belajar di Rumah

Dan di saat pandemi virus korona atau covid-19, sambung Dini, timnya kembali terkejut saat melihat data resmi kalau penyebaran virus mematikan di daerah itu cukup rendah.

Baca juga: Kepala BNN Tegas Tolak Legalisasi Ganja. Ini Alasannya

Berangkat dari data itu, kata dia, tim kemudian kembali menelusuri ke Tambora. "Ternyata di sana, di tiap belokan ada tempat cuci tangan dan sabun. Mereka juga rajin menyemprot disinfektan. Warga juga akan dikenai sanksi push up bula kedapatan aparat kelurahan tidak mengenakan masker. Artinya, ada sistem kontrol. Karena memang lurahnya sangat khawatir menjaga sekitar 30 ribu warga di daerah yang hanya 1/3 kilometer persegi," ungkapnya. (X-15)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Media Indonesia (@mediaindonesia) on

 

Baca Juga

ANTARA/ARIF FIRMANSYAH

JPPI: Hari Pertama Sekolah Banyak Keluhan Siswa

👤Syarief Oebaidillah 🕔Selasa 14 Juli 2020, 07:55 WIB
 JPPI mengusulkan perlu adanya reformulasi kurikulum untuk diterapkan di saat new...
MI/ANDRI WIDIYANTO

ASN Kini Bisa Dinas ke Luar Kota Dengan Surat Tugas

👤Indriyani Astuti 🕔Selasa 14 Juli 2020, 07:51 WIB
ASN yang akan melakukan perjalanan dinas harus memperhatikan status penuebaran covid-19 di daerah...
MI/Heri Susetyo

Batasan Biaya Tertinggi Rapid Test Berlaku untuk Pasien Mandiri

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 14 Juli 2020, 06:21 WIB
Regulasi mengenai penetapan harga rapid test juga merupakan upaya pemerintah untuk menghindari adanya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya