Selasa 30 Juni 2020, 09:00 WIB

Efek Penggunaan Dexamethasone dan Hydroxychloroquine untuk Covid

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
 Efek Penggunaan Dexamethasone dan Hydroxychloroquine untuk Covid

AFP
Mengenai hydroxychloroquine, Dokter Agus mengatakan bahwa penggunaan obat ini masih cukup aman pada populasi di Indonesia.

 

BERBAGAI upaya pendekatan medis diterapkan untuk penanganan pasien Coronavirus disease 2019 atau Covid-19. Salah satunya yang menjadi perbincangan pada dunia medis, yakni penggunaan dexamethasone dan hydroxychloroquine.

Dexamethasone adalah obat yang digunakan untuk mengatasi reaksi alergi, peradangan, serta penyakit autoimun. Sementara hydroxychloroquine, obat ini digunakan untuk menangani dan mencegah penyakit malaria juga digunakan untuk menangani penyakit yang menyerang autoimun atau sistem kekebalan tubuh.

Berdasarkan panduan Badan PBB untuk Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), dexamethasone adalah obat dalam kategori kortikosteroid, yang awalnya tidak direkomendasikan penggunaannya untuk pasien Cobid-19

"Ternyata keluarlah hasil riset yang terbaru dari Eropa yaitu Recovery (Randomised Evaluation of COVID-19 Therapy) trial menyebutkan, dexamethasone ini memberikan dampak yang positif pada pasien-pasien dalam menurunkan mortalitas, terutama pada pasien yang menggunakan ventilator dan pasien-pasien yang menggunakan terapi oksigen (pasien berat)," kata Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Ketua Umum PDPI Agus Dwi Susanto pada dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Senin (29/6).

Meskipun memberikan dampak positif terhadap pasien berat yang menggunakan alat bantu mesin, dexamethasone tidak memberikan dampak yang sama terhadap pasien yang tidak menggunakan alat bantu.

“Hasil riset tersebut menunjukkan penggunaan dexamethasone hanya direkomendasikan pada pasien berat yang menggunakan terapi oksigen dan menggunakan ventilator atau alat bantu napas,” ujarnya.

Pasien yang tidak berada dalam kategori sebagai pasien berat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi dexamethasone karena tidak akan berdampak kepada pasien dan hanya akan menimbulkan efek samping.

Walaupun belum dimuat dalam buku panduan dari WHO, beberapa dokter sudah menggunakan dexamethasone untuk menangani pasien kategori berat. Penggunaan obat ini dilandasi atas hasil riset Recovery.

“Beberapa yang menggunakannya (dexamethasone) melaporkan ada progres yang baik kalau pasien itu di awal-awal masuk derajat berat diberikan, tapi kalo sudah late atau terlambat terlihat tidak begitu bagus,” tambah dr. Agus.

Ia juga mengatakan bahwa ini adalah kesimpulan dari beberapa orang sehingga kita masih harus melihat bagaimana perkembangan dari penggunaan dexamethasone ini.

Baca juga: Ada Syarat Khusus Pemakaian Hydroxychloroquine Untuk Covid-19

Hal ini dilihat dari data-data awal yang menunjukkan bahwa hydroxychloroquine hanya memberikan efek samping yang ringan dan tidak meningkatkan risiko kematian. Selain itu, data awal juga menunjukkan bahwa penggunaan hydroxychloroquine menurunkan lama waktu rawat.

“Tapi kita tentu menunggu hasil akhir dari riset yang sedang dilakukan, kalo hasil akhirnya ternyata memang tidak efektif, tentu kami akan merekomendasikan hal yang berbeda dan akan dihentikan,” jelas dr. Agus mengenai kelanjutan penggunaan hydroxychloroquine pada pasien Covid-19.

Di sisi lain, Direktur Registrasi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) L. Rizka Andalucia menyampaikan bahwa pihaknya memberikan ijin obat hydroxycloroquine hanya untuk penggunaan kondisi darurat atau dikenal dengan emergency use authorization.

Ia mengatakan bahwa hydroxycloroquine, chloroquine, dan dexamethasone merupakan obat yang sudah lama diberikan izin edar oleh BPOM untuk indikasi non-covid dan ketiga obat tersebut adalah obat keras.

Dokter Agus mengatakan bahwa terdapat beberapa persyaratan penggunaan hydroxychloroquine bagi pasien Covid-19, yaitu: diberikan kepada pasien dewasa dengan usia di bawah 50 tahun; tidak memiliki masalah pada jantung; pada anak, hanya diberikan pada kasus berat dan krisis dengan pemantauan yang ketat; hanya dilakukan pada pasien rawat inap, karena ada efek samping yang harus dipantau; apabila muncul efek samping, harus langsung dihentikan.

“Pasien ringan, sedang, berat bisa diberikan (hydroxychloroquine), yang tidak boleh yang tanpa gejala,” tambah dr. Agus.

Pada kesempatan itu Dokter Agus mengimbau masyarakat untuk tidak secara sembarangan menggunakan kedua obat ini.

“Masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan secara sembarangan. Penggunaan obat ini hanya atas rekomendasi dokter,” pungkas dr. Agus. (A-2)

Baca Juga

MI

Senam Kegel Bisa Atasi Inkontinensia Urine

👤Syarief Oebaidillah 🕔Rabu 15 Juli 2020, 10:50 WIB
INKONTINENSIA urine atau ketidakmampuan sistem kandung kemih untuk menahan buang air kecil (BAK) bukanlah penyakit, melainkan suatu gejala....
BNPB

Rendah, Tes Covid-19 Indonesia Baru 0,2% dari Total Penduduk

👤Zubaedah Hanum 🕔Rabu 15 Juli 2020, 10:05 WIB
Jjumlah PCR Test yang dilakukan pemerintah Indonesia baru mencakup 642.164 orang dengan lebih dari 1 juta...
MI/RAMDANI

Bertambah 70 Orang, Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Jadi 1.220

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 15 Juli 2020, 09:59 WIB
Dari jumlah pasien yang dirawat, 1.140 orang dinyatakan positif covid-19 dari hasil pemeriksaan swab test. Sedangkan, dari hasil rapid...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya