Senin 29 Juni 2020, 16:45 WIB

Soal Jiwasraya, Jaksa Agung Keluhkan Longgarnya Pengawasan OJK

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Soal Jiwasraya, Jaksa Agung Keluhkan Longgarnya Pengawasan OJK

MI/Susanto
Jaksa Agung ST Burhanuddin

 

JAKSA Agung ST Burhanuddin mengakui pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih lemah. Kasus Jiwasraya tidak akan merugikan keuangan negara puluhan triliun rupiah atau tepatnya Rp16.81 triliun, bila institusi ini menjalankan tugasnya dengan baik.

"Seandainya pengawasan oleh OJK benar-benar maka perkara ini tidak akan sebesar seperti saat ini," katanya di hadapan seluruh anggota komisi III DPR saat menghadiri rapat dengar pendapat, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/7)

Menurut dia, peran OJK sangat penting untuk memastikan aktivitas seluruh perusahaan jasa keuangan tidak menyalahi ketentuan. Bila OJK lengah terlebih terjadi pembiaran, maka dampaknya akan besar seperti terjadi dalam kasus Jiwasraya.

Oleh sebab itu, kata dia, Kejaksaan Agung mencari pihak yang paling bertanggung jawab mengenai pengawasan jasa keuangan. Sejauh ini Korps Adhiyaksa baru menemukan satu orang tersangka dari OJK dalam kasus ini.

"Konsen kami harus ada dan ditemukan siapa termasuk penyebabny mengapa pengawasan melemah. Sehingga kami tetapkan satu orang tersangka dari OJK," pungkasnya.

Diketahui, Kejaksaan Agung menetapkan Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK berinisial FH sebagai tersangka dalam kasus Jiwasraya jilid II. Pada saat kejadian, FH menjabat sebagai Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A periode Februari 2014-2017.

FH dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 56 KUHP.

Kejaksaan Agung (Kejagung) juga telah menetapkan 13 manajemen investasi (MI) sebagai tersangka pada kasus Jiwasraya. Mereka ialah PT DM/PAC, PT OMI, PT PPI, PT MD, PT PAM, PT MAM, PT MNC, PT GC, PT JCAM, PT PAAM, PT CC, PT TVI, dan PT SAM.

Selain 14 tersangka itu, Kejaksaan Agung juga telah membawa enam tersangka lainnya ke persidangan. Mereka adalah Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto.

Kemudoan mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan. (OL-4)

Baca Juga

ADAM DWI/MI.

Pembinaan Indeologi Pancasila Butuh Landasan Hukum Kuat

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 12 Juli 2020, 13:25 WIB
Pengaturan PIP dalam undang undang merupakan langkah maju dalam proses pembumian...
ANTARA

Upacara HUT RI ke-75 akan Dibuat Minimalis, Ini Simulasinya

👤Andhika Prasetyo 🕔Minggu 12 Juli 2020, 13:24 WIB
Jumlah petugas pengibar bendera yang dilibatkan hanya tiga orang. Begitu pun dalam ritual penurunan bendera beberapa jam...
 MI/Susanto

Pemilu Serentak Gagal Capai Tujuan

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Minggu 12 Juli 2020, 12:41 WIB
Banyak hal yang diasumsikan akan terlaksana dengan pemilu serentak ternyata berjalan sebaliknya. Salah satunya soal efek ekor...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya