Senin 29 Juni 2020, 05:15 WIB

Mewujudkan Asah, Asih, dan Asuh

Dero Iqbal Mahendra | Humaniora
Mewujudkan Asah, Asih, dan Asuh

Dok. 123RF
Keluarga Asah, Asih, dan Asuh.

 

KONDISI pandemi covid-19 membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah. Hal ini membuat banyak keluarga khususnya di wilayah Jabodetabek yang umumnya sibuk di luar rumah memiliki waktu lebih untuk berkumpul bersama keluarga mereka.

Hal itu menjadi momentum bagi keluarga Indonesia untuk menjalankan delapan fungsi keluarga yang terintegrasi dengan konsep Asah, Asih, dan Asuh untuk mewujudkan ketahanan dalam keluarga.

Kedelapan fungsi dimaksud, yakni fungsi agama, fungsi kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi sosial dan budaya, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan.

“Keluarga harus Asah, yakni mengasah seperti pisau agar tajam. Hal yang perlu diasah tersebut, yakni agamanya, ilmu, teknologi, kemampuan sosialisasi, serta peka terhadap lingkungan,” terang Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam sambutannya pada Hari Keluarga Nasional ke-27, di Kantor Pusat BKKBN, Jakarta, Jumat (26/6).

Dengan konsep Asah itu, menurut Hasto, sudah mencakup setidaknya lima fungsi keluarga. *Adapun konsep Asih yang dimaksud adalah mengasihi maupun cinta kasih yang di dalamnya termasuk proses reproduksi.

Sementara itu, konsep Asuh dimaksud adalah kemampuan untuk memberikan asupan makanan dengan baik. *Dengan kata lain, harus memiliki kekuatan ekonomi yang baik, termasuk memberikan perlindungan, membelikan baju, menyediakan rumah, mengimunisasi, memeriksa kesehatan dan melindungi.

“Jadi delapan fungsi keluarga semuanya habis masuk di dalam Asah, Asih, dan Asuh tersebut,” tambahnya.

Sayangnya, kata Hasto, hasil survei menunjukkan sebagian besar keluarga mengaku tidak pernah mendengar tentang fungsi keluarga (88%). Besar kemungkinan istilah delapan fungsi keluarga tidak dikenal masyarakat, walaupun tanpa disadari mereka telah melaksanakan fungsi tersebut.

Untuk itu, Hasto amat berharap melalui rebranding yang dilakukan BKKBN, yakni logo, jingle, dan tagline tidak hanya sebagai simbol, tetapi juga bisa diamalkan keluarga di Indonesia, terutama dalam menerapkan delapan fungsi keluarga tersebut.


Pendidik utama

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK DKI Jakarta sekaligus Parent Educator Fery Farhati menyampaikan pentingnya peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi tiap-tiap anggota keluarganya pada masa pandemi covid-19.

“Pandemi ini telah mengarahkan kita untuk kembali lagi kiprahnya di keluarga. Kembali arahnya kepada lingkup paling kecil.

Setiap usaha-usaha dilakukan di lingkup keluarga. Bahkan, banyak sekali istilah-istilah yang selama ini hanya menjadi slogan itu menjadi kenyataan. Kebersihan adalah sebagian dari iman sekarang kita jalankan bukan hanya slogan. Kemudian orangtua adalah pendidik pertama dan utama, sekarang itu kita hadapi,” terang Fery.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi menyatakan di masa pandemi covid-19 saat ini, kasih sayang merupakan kunci dan prinsip yang harus dikembangkan di keluarga terutama orangtua untuk pembangunan karakter anak.

“Jadi nomor satu kasih sayang. Berikanlah keteladanan, contoh-contoh, lalu gali komunikasi yang efektif,” kata dia seperti dikutip dari Antara, pekan lalu.

Minimnya keteladanan dalam keluarga karena orangtua yang terkadang sibuk dengan pekerjaan di rumah bisa mendorong anak-anak mencari media dan aktivitas lain yang bisa melepaskan ketegangan yang mereka hadapi.

“Jadi berikanlah contoh keteladanan yang baik. Anak-anak kita arahkan bersikap sopan dan santun, tidak mudah putus asa, rendah hati, penuh hormat, jujur, kreatif, disiplin, dan sebagainya,” katanya.

Sementara itu, psikolog keluarga Ratih Ibrahim menambahkan, untuk meningkatkan ketahanan keluarga di masa pandemi covid-19, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan perspektif positif dari berbagai aspek, seperti memiliki waktu lebih dengan keluarga serta bisa bersama-sama dengan pasangan mencari alternatif yang kreatif untuk mengurusi rumah tangga secara bersama.

“Hal yang terpenting adalah mengedepankan empati dan mengesampingkan ego, khususnya saat berkomunikasi dengan keluarga,” ucap Ratih. (S-3)

Baca Juga

ANTARA

Flu Babi G4 belum Ditemukan di Indonesia

👤MI 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 01:15 WIB
PEMERINTAH Indonesia menyatakan flu babi G4 EA H1N1 yang memicu wabah baru di Tiongkok belum ditemukan di...
Sumber: Departemen Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro/LIPI/Riset MI-NRC

Menghitung Rupiah dari Kerusakan Terumbu Karang

👤MI 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 00:35 WIB
ISU kerusakan ekosistem pesisir dan laut semakin marak belakangan...
healthline.com

Tunda Kehamilan saat Pandemi

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 00:10 WIB
BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyarankan pasangan muda dan pasangan berusia...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya