Senin 29 Juni 2020, 06:10 WIB

Membangun Budaya Belajar Virtual

Susan Sovia, Direktur Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh | Opini
Membangun Budaya Belajar Virtual

MI/DUTA
Ilustrasi

DI tengah tantangan situasi pandemi covid-19, sekolah-sekolah di Indonesia melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebuah upaya penegasan bahwa belajar sejatinya ialah kebutuhan--bagi baik murid maupun guru--yang tak boleh terhenti karena keadaan yang tak menguntungkan. Jika sebelumnya kegiatan bersama guru (Forum Guru Belajar Bersama/FGBB) untuk membahas berbagai persoalan seperti mengatasi siswa bermasalah, pengembangan kapasitas (belajar bahasa Inggris, dll), pengelolaan kelas, sistem evaluasi, sampai dengan diskusi tentang teori-teori pembelajaran dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, kali ini berbagai kegiatan tersebut harus lebih banyak dilakukan secara virtual.

Dalam situasi seperti itulah guru dituntut, selain aktif mengajar secara virtual, harus tetap produktif belajar, salah satunya dengan mengikuti forum diskusi melalui media virtual yang dilaksanakan manajemen sekolah. Kegiatan tersebut, selain bertujuan membangun learning culture, membiasakan guru menghadapi masa kenormalan baru (new normal). Bisa jadi, pascapandemi covid-19, diskusi virtual menjadi kebiasaan ba­ru yang harus dilakukan.

Salah satu diskusi virtual yang pernah dilakukan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh, misalnya mengevaluasi kendala PJJ yang telah berjalan selama tiga bulan. Merujuk hasil survei UNICEF terhadap 4.018 responden yang tersebar di seluruh Indonesia tentang tantangan selama belajar di rumah; 38% responden menya­takan kurang bimbingan dari guru, 35% akses internet tidak lancar, 7% tidak punya gawai yang memadai, 4% tidak bisa mengakses aplikasi daring, 3% kurang dampingan orangtua, dan sisanya sebanyak 13% dengan jawaban beragam atau lain-lain (Media Indonesia, 16/6).

Hasil survei tersebut tidak jauh berbeda dengan survei yang dilakukan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe terhadap 410 siswa mereka. Hasil sur­vei menunjukkan sebagian besar kesulitan yang dialami siswa selama belajar dari rumah (BDR) terkait dengan akses internet dan pendampingan gu­ru. Itu sebuah fenomena yang terjadi hampir di setiap sekolah di Indonesia.

Membangun budaya belajar guru

Kesulitan yang terjadi selama PJJ, terutama terkait dengan infrastruktur dan kapasitas guru, mendo­rong berbagai pihak mendesak pemerintah untuk meningkatkan kualitas belajar dari rumah. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI) merekomendasikan agar pemerintah memperbaiki kapasitas digital guru, menyusun kurikulum adaptif masa pandemi, serta memastikan semua model pembelajaran--baik daring, semidaring, maupun luring--memiliki kualitas yang sama. Tentunya kita tidak hanya diam menunggu kebijakan pemerintah dikeluarkan. Banyak cara yang bisa dilakukan guru dan manajemen sekolah. Dengan diawali dari membangun budaya belajar/learning culture dan motivasi belajar para guru, sekolah dapat memetakan kesulitan yang dihadapi dan mencari solusi bersama.

Bennet (1976) menerangkan bahwa mencari solusi berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya bergantung pada bagaimana kemampuan budaya belajar individu atau kelompok itu sendiri. Membangun budaya belajar dimulai dari individu, tim, atau organisasi yang mempunyai keyakinan atau sikap yang mendorong indivi­du lainnya untuk mengembangkan pengetahuan secara berkelanjutan. Kekuatan inti dari sebuah organisasi terdapat pada diri anggota itu sendiri. Organisasi yang maju ialah organisasi yang berhasil mengelola anggota mereka dengan menjadikan belajar sebagai nilai utama/core values (Peter Senge: 1990).

Sebagai sebuah organisasi, sebaiknya sekolah mendorong para guru untuk melakukan eva­luasi dan menemukan cara bagaimana mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Beberapa kesulitan siswa selama PJJ ialah kurangnya bimbingan dari guru selama belajar daring, kesulit­an memahami instruksi karena tidak bisa bertemu langsung de­ngan gurunya, atau banyaknya tugas yang diberikan guru maka forum guru belajar secara virtual sangat dibutuhkan.

Guru dapat saling bagi informasi tentang bagaimana model, media, dan strategi pembelajaran yang bisa dija­lankan selama PJJ. Sekolah juga dapat mengundang pakar pendidikan dalam forum belajar guru untuk memberikan pemahaman guru tentang pembelajaran berbasis daring (online learning). Hal ini menjadi penting karena masih banyak ditemukan guru yang kurang memahami prinsip, metode, dan strategi pembelajaran berbasis daring.

Peran guru

Melalui FGBB virtual, hendaknya manajemen sekolah memberikan penguatan kepada guru tentang peran guru dalam proses PJJ daring. Berbeda dengan pembelajaran konvensional, pembelajaran daring menekankan siswa dan guru untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi sehingga dapat berkomunikasi secara interaktif. Dengan belajar secara daring, seharusnya guru dapat memberikan materi yang lebih bervariasi melalui berbagai aplikasi yang tersedia dan sis­wa dapat belajar kapan dan di mana saja tanpa dibatasi jarak ruang dan waktu. Di sinilah, dituntut kemauan guru untuk belajar berbagai macam aplikasi yang tersedia sehingga pembelajaran terasa bermakna dan lebih menyenangkan.

Sebenarnya banyak sekali manfaat yang didapat siswa ketika melaksanakan pembelajaran daring. Salah satunya siswa dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya. Selama proses pembelajaran daring, siswa akan belajar secara mandiri dan merasakan pengalaman belajarnya sendiri. Means et al (2009) menjelaskan pengalaman belajar ditentukan bagaimana siswa mendapatkan suatu pengetahuan, sedangkan komunikasi ialah hal yang penting untuk dilakukan untuk menyelaraskan pemahaman siswa dan guru. Oleh sebab itu, kehadiran dan interaksi guru-siswa menjadi penting. Secanggih apa pun teknologi yang digunakan, peran guru menjadi kunci kesuksesan pembelajaran.

Sekolah dan guru harus realistis menghadapi kondisi yang tidak biasa. Beradaptasi dengan perubahan dan situasi yang baru ialah keniscayaan. Pandemi covid-19 datang tanpa pemberitahuan dan bergerak sangat cepat, mengubah banyak sistem kehidupan, termasuk perubahan pola pembelajaran. Kesadaran untuk bergerak memperbaiki keadaan mutlak diperlukan. Di tengah menghadapi kenormalan baru ini, pemerintah, sekolah, guru, orangtua, siswa, dan masyarakat sejatinya memiliki kapasitas dan kemampu­an untuk belajar. Namun, ke­sediaan dan keinginan untuk terus belajar ialah sebuah pi­lihan. Wallahu a’lam.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Sikap Aisyiyah–Muhammadiyah terhadap RUU P-KS

👤Yulianti Muthmainnah Ketua Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan (PSIPP) Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta, anggota Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Aisyiyah 🕔Selasa 14 Juli 2020, 04:20 WIB
Dukungan moril ‘Aisyiyah ini sama dengan ratusan organisasi perempuan lainnya yang...
Dok. Pribadi

Akselerasi Vaksin Nasional Covid-19

👤Yordan Khaedir Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Doktor Imunologi dari Chiba University Jepang, Dokter Relawan Covid-19 RSKD Duren Sawit Jakarta Timur 🕔Selasa 14 Juli 2020, 04:15 WIB
Saat ini obat antivirus yang tepat dan efektif untuk SARSCoV-2 maupun vaksin Covid- 19 belum juga...
Dok.pribadi

Beretika Dalam Komunikasi Sebuah Keniscayaan

👤Sherly Julianti Pranata, Humas Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Anggota Bidang Diseminasi dan Informasi Iprahumas Indonesia 🕔Senin 13 Juli 2020, 22:05 WIB
Komunikasi yang etis mencakup kejujuran dalam komunikasi, menjaga kerahasiaan informasi, dan tidak membahas hal yang bersifat pribadi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya