Senin 29 Juni 2020, 04:50 WIB

Mengisi Kantong yang (Hampir) Kosong

Raja Suhud Wartawan Media Indonesia | Ekonomi
Mengisi Kantong yang (Hampir) Kosong

MI/Seno
Raja Suhud Wartawan Media Indonesia

 

ESKALASI krisis akibat pandemi covid-19 terus meningkat. Bila sebelumnya krisis ini diperkirakan akan memangkas ekonomi global sebanyak 3%, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proyeksi terbarunya menyatakan ekonomi dunia akan terpuruk  hingga minus 4,9% pada tahun ini.

Hal itu sebagai dampak terkait disrupsi yang terjadi dalam kegiatan ekonomi di tiap-tiap negara akibat pembatasan kegiatan atau lockdown guna menekan angka penyebaran covid-19.

Indonesia pun sudah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi kondisi terburuk. Proyeksi pertumbuhan triwulan II tahun ini telah masuk ke skenario paling buruk, yakni mencapai minus 3,8 %. Karena itu, pertumbuhan pada akhir tahun hanya bisa mencapai 1% dari sebelumnya 2,3%.

Pertumbuhan ekonomi merupakan potret di level makro. Di level mikro, situasi suram juga terus terjadi. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus terjadi. Bahkan, fintech papan atas seperti Gojek pun tidak mampu menahan lebih lama lagi guna melakukan PHK. Perusahaan penyandang status decacron itu pun harus memberhentikan 430 orang atau 9% dari total pegawainya.

Survei ketahanan keluarga di tengah pandemi covid-19 yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) memotret rentannya masyarakat kelas menengah kita. Dalam survei yang dilakukan pada Maret dan April 2020 dengan melibatkan 1.337 responden, ditemukan bahwa mayoritas (53%) hanya memiliki simpanan kurang dari 2 bulan guna memenuhi kebutuhan mereka.

Kondisi lebih parah tentunya dialami kalangan buruh. Kelompok menengah bawah ini mungkin sudah terlebih dulu terjerambap dalam kelompok miskin baru.

Dari dunia usaha, jeritan akan kebutuhan cash juga terdengar. Kas yang mereka miliki hanya bisa bertahan hingga pertengahan tahun ini. Kelanjutan operasional perusahaan amat bergantung dari suntikan dana yang masuk.

Dari masyarakat miskin hingga kelas menengah, pelaku usaha kecil dan besar, semua berharap pada uang dari kantong pemerintah. Wajar, sebab di tengah krisis hanya pemerintahlah yang memiliki infrastruktur guna mengelola sumber daya yang ada demi memenuhi kebutuhan yang ada.

Rencana pemerintah menempatkan dana Rp30 triliun di empat bank BUMN menjadi sinyal percepatan pemulihan ekonomi. Dengan leverage tiga kali, dana Rp30 triliun dapat menciptakan aliran dana sebesar Rp90 triliun ke masyarakat.

Dengan suntikan kredit modal kerja, kantong pengusaha terisi lagi, proses produksi berjalan, dan pekerja mendapat upah. Upah ini akan dipergunakan membiayai konsumsi yang pada akhirnya akan menarik kembali permintaan barang-barang produksi lainnya. Karena itu, setiap kantong yang berada dalam rantai ekonomi akan terisi kembali.

Yang menjadi soal ialah dana yang tersedia terbatas. Oleh karena itu, di tengah keterbatasan, ketepatan penyaluran dana menjadi hal yang perlu dijaga. Jangan sampai dana itu menetes ke kantong yang salah sehingga menyebabkan dana itu terhenti dan tidak memberi dampak
lanjutan. (E-3)

Baca Juga

MI/Bary Fathahillah

Ombudsman Ungkap Rangkap Jabatan, Analis Pertanyakan Netralitas

👤Usman Kansong 🕔Senin 13 Juli 2020, 22:44 WIB
Abi Rekso mengapresiasi pelaporan masyarakat kepada Ombudsman terkait isu rangkap jabatan karena itu memang menjadi tanggung jawab...
Ant/Iggoy el Fitra (Str)

Ini Pentingnya Big Data dalam Penyaluran Subsidi Rumah

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 13 Juli 2020, 21:40 WIB
Big data hunian saat ini diaplikasikan melalui Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (Sikasep) dan Sistem Informasi Kumpulan Pengembang...
Ilustrasi

Sosialisasi Insentif Pajak UMKM Perlu Diperluas

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Senin 13 Juli 2020, 21:37 WIB
Dia menambahkan, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian keuangan sebagai aktor utama dalam pemberian insentif pajak tidak bisa bergerak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya