Minggu 28 Juni 2020, 05:55 WIB

Keluarga Koudjis Belajar dari Perjalanan

(Bus/M-4) | Weekend
Keluarga Koudjis  Belajar dari Perjalanan

MI/SUMARYANTO BRONTO

KELILING dunia mungkin jadi impian bagi sebagian orang. Namun, butuh keberanian tinggi untuk mewujudkannya, apalagi jika ada anggota keluarga yang masih kecil ikut serta. Akan tetapi, tak ada yang mustahil di dunia ini selama kita percaya dan mau bekerja keras mewujudkan impian tersebut. Demikian prinsip yang selalu dipegang pasangan Eelco Koudijs, 53, dan Vryedta Tjandra Ilfi a, 51, terlebih saat memutuskan memulai petualangan keliling dunia yang mereka namai Journey of Wonder Family sejak Juli tahun lalu.

Prinsip yang menjadi pegangan mereka ialah learning is a journey, not a destination, terutama untuk kedua anaknya, Nesya, 11, dan Tyo, 10. Eelco ingin menjadikan perjalanan keluarga yang mereka tempuh ini sebagai sebuah metode pembelajaran. Karenanya, tidak penting seberapa jauh jarak yang mesti ditempuh, tapi berapa banyak yang bisa dipelajari dan diserap dari setiap tempat yang dikunjungi itu yang paling utama.

Mereka ingin mengajarkan pada anak anaknya tentang berproses dalam hidup. "Ini cita-cita yang sudah lama. Kenapa keliling dunia? Karena kami ingin studi banding. Ada apa di luar Indonesia? Bagaimana kehidupannya, alamnya, pendidikan, wisata, dan lain-lainnya. Ini adalah pembelajaran yang luar biasa untuk kami dan anak-anak," jelas Eelco yang saat ini sedang mengurus perpindahan kewarganegaraan dari Belanda ke Indonesia.

"Kami punya mimpi dan komitmen. Anak-anak sudah cukup usianya untuk diajak jalan. Kalau lebih muda, mungkin mereka akan sulit untuk mengingatnya, tapi kalau sudah remaja, mereka akan sulit diajak karena sudah punya lingkungan sendiri," tukas Iyel menyambung sang suami.

Butuh persiapan panjang sebelum keduanya akhirnya mantap untuk memulai petualangannya itu, terutama mengatasi masalah finansial. Untuk mewujudkan impian tersebut, Eelco dan Iyel telah mempersiapkan tabungan khusus sejak empat tahun lalu dari bisnis wisata di kawasan Bali dan Sukabumi yang mereka tekuni.

Mereka telah membuat jadwal perjalanan dari Jakarta-Pontianak-Serawak (Malaysia)-Kuching (Malaysia)-S ingapura - Malaysia - Thailand-Laos-Tiongkok- Kyrgyzstan-Tajikistan - Uzbekistan-Iran-Turki-Eropa (Belanda, Austria, Kroasia, Portugal, Italia, Swis, dan Perancis)-Afrika, dan terakhir Pakistan selama 11 bulan dan kembali ke Indonesia dengan pesawat melalui Pakistan pada Juli tahun lalu.

Kendaraan

Untuk mobilitas perjalanan, Eelco sempat mempertimbangkan menggunakan campervan atau truk ukuran kecil agar seluruh anggota keluarga merasa nyaman. Namun, hal itu dia batalkan karena mobil tersebut akan sulit melewati jalan yang sempit. Akhirnya, pilihan Eelco pun jatuh pada Mitsubishi Pajero Dakar 4--4 dengan pelat B yang ia namai Capuccino.

Membawa mobil pelat B berkeliling dunia tentu bukan hal yang mudah, Eelco harus memiliki 'carnet' (paspor untuk mobil) dan dokumen kendaraan yang lengkap agar mudah jika diperiksa di setiap perbatasan berbagai negara.

Sempat perjalanan keluarga Koudijs ini tertahan di perbatasan Malaysia dan Thailand karena kebijakan pemerintah Thailand untuk memperketat dan memilah mobil dari negara mana saja yang bisa masuk ke negara 'Gajah Putih' tersebut.

"Kami sudah mengetahui regulasi Thailand yang tidak mengizinkan mobil masuk, kecuali dari Malaysia, Singapura, Laos, dan Kamboja. Tapi menurut pengalaman beberapa teman overlanderkami, mereka tetap bisa lewat di perbatasan Thailand dengan aman katanya. Mungkin kami waktu itu mendapat petugas yang ketat saja sehingga kami tertahan di perbatasan dan tidak bisa lewat untuk beberapa waktu," cerita pria kelahiran Belgia itu.

Lepas dari drama perizinan di perbatasan, perjalanan Keluarga Koudijs ternyata juga banyak diwarnai berbagai kisah menarik, salah satunya ialah sambutan yang hangat dari warga lokal yang penasaran dengan asal dari pelat mobil mereka saat sampai di Tajikistan dan Iran karena banyak yang menanyakan asal mereka dari mana. Akhirnya, Eelco pun berinisiatif menempelkan stiker bendera Merah Putih di kap mobilnya.

Ketika berkendara di negara orang, tentu Eelco juga harus menyesuaikan diri dengan kondisi lalu lintas di negara yang ia singgahi dan adaptasi tentu sudah menjadi kewajiban yang harus mereka lakukan lintas negeri. "Seperti di Maroko, kecepatan harus kami turunkan karena ada polisi yang memperingatkan bahwa kami telah melebih batas kecepatan di sana," jelas Eelco. (Bus/M-4)

Baca Juga

Fox/Mike Yarish

Selamat Jalan, Santana

👤Irana 🕔Selasa 14 Juli 2020, 09:21 WIB
Jenazahnya ditemukan selang 2 hari dari peringatan 7 tahun wafatnya Cory Monteith, kolega Rivera di serial...
Unsplash/ Engin Akyurt

Stres Pengaruhi Persepsi Orang Terhadap Waktu Selama Pandemi

👤Bagus Pradana 🕔Selasa 14 Juli 2020, 07:15 WIB
Hampir 80 % responden merasakan seolah-olah waktu mengalami pelambatan maupun percepatan dari biasanya. Tergantung pada faktor-faktor...
AFP/VALERIE MACON

Jenazah Bintang Glee Naya Rivera Ditemukan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 14 Juli 2020, 05:32 WIB
Jenazah Rivera dievakuasi dan pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada bukti pembunuhan atau bunuh...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya