Minggu 28 Juni 2020, 04:11 WIB

Polusi Pengaruhi Risiko Kematian Pasien Korona

Put/J-3 | Humaniora
Polusi Pengaruhi Risiko Kematian Pasien Korona

Pexels.com/Medcom.id
Ilustrasi

 

DAERAH dengan polusi udara tinggi memiliki angka kematian yang lebih besar jika dibanding dengan daerah dengan tingkat polusi rendah. Pun berbagai penyakit kronis akibat polusi itu juga bisa memengaruhi risiko kematian penderita covid-19.

Demikian dikatakan Guru Besar Ilmu Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Budi Haryanto di sela-sela diskusi daring yang digelar oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), kemarin.

Dalam diskusi bertajuk Dampak Sosial Ekonomi Polusi Udara di Jakarta, Budi mengambil contoh Italia sebagai negara yang tingkat polusinya rendah dengan angka kematian sebesar 4%. “Namun, di daerah yang memiliki polusi tinggi, angka kematiannya lebih dari itu, bahkan menyentuh angka 12%,” kata Budi.

Selain Italia, terang dia, ditemukan pula 83% kematian kasus covid-19 juga terjadi di wilayah dengan tingkat pencemaran NO2 (nitrogen dioksida) tinggi, seperti Prancis, Spanyol, dan Jerman. “Pengendalian kualitas udara pun harus menjadi salah satu pertimbangan bagi negara untuk membuat program pengendalian covid-19.”

Pada kesempatan itu Budi juga menunjukkan data yang diperoleh dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Jakarta. Data menyebut 57,8% penyakit yang menimpa warga berkaitan dengan polusi udara, seperti asma, bronchopneumonia, ISPA, pneumonia, paru obstruktif kronis, dan penyakit saluran korona arteri.

“Polusi udara ialah kontributor terbesar dari segala penyakit yang ada. Jika Jakarta mau menyelesaikan penyakit 57% warga, salah satu caranya paling tidak membereskan persoalan polusi udara,” kata Budi.

Budi merekomendasikan empat langkah terkait persoalan kualitas udara, yaitu mengendalikan jumlah kendaraan bermotor yang beredar di jalan, memperbaiki kualitas bahan bakar dengan yang berstandarisasi terbaru seperti Euro 5, memperbaiki teknologi kendara an bermotor dan manajemen transportasi terintegrasi, serta memonitor terus kualitas udara.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Syafrin Liputo yang hadir dalam diskusi menegaskan pihaknya telah mengupayakan berbagai kebijakan demi mengatasi polusi udara yang kian tinggi sebelum korona melanda.

Contohnya, pengendalian lalu lintas kendaraan pribadi melalui sistem ganjil genap, mewajibkan uji emisi bagi kendaraan pribadi dan angkutan umum, serta mendorong warga menggunakan kendaraan ramah lingkungan seperti kendaraan listrik dan sepeda. (Put/J-3)

Baca Juga

AFP/Lizabeth Menzies

Hasil Studi : Pasien Sembuh Covid-19 bisa Kehilangan Imunitas

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 13 Juli 2020, 20:04 WIB
Dari hasil studi, 60 persen menunjukkan virus masih kuat dalam beberapa minggu pertama setelah...
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Ridwan Kamil Putuskan Denda Rp150 Ribu Bagi yang Tak Pakai Masker

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 13 Juli 2020, 19:10 WIB
Ada beberapa kegiatan yang dikecualikan alias warga boleh melepaskan masker, seperti ketika berpidato, lalu sedang makan minum, warga...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Ini Cara Cegah Penularan Korona Lewat Udara di Gedung ber-AC

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 13 Juli 2020, 18:48 WIB
"Tindakan pemindaian temperatur tubuh yang biasa dilakukan sebenarnya hanyalah langkah awal dalam meminimalisasi terjadinya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya