Sabtu 27 Juni 2020, 09:35 WIB

Waspadai Penyebaran Radikalisme di Dunia Maya

Antara | Humaniora
Waspadai Penyebaran Radikalisme di Dunia Maya

Dok. Istimewa
Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun Lc,lbMA

 

WAKIL Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun Lc,lbMA mengatakan untuk mewaspadai adanya kelas-kelas online radikalisme yang tumbuh di masa teknologi informasi dan komunikasi kini.

“Untuk mencegah penyebaran paham radikal terorisme, saya kira Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu untuk mengawasi pergerakan kelompok radikal di media online. Karena sekarang dengan adanya aplikasi seperti Zoom, mereka bisa saja membuat kelas-kelas online untuk menyebarkan pemahaman mereka dan saya kira itu perlu diwaspadai juga oleh BNPT,” katanya dalam keterangan tertulis Jumat (26/6).

Hal ini mengingat pesatnya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan dalam melakukan komunikasi dan penyebaran informasi.

Menurut alumnus Universitas Al-Azhar Kairo itu bahwa dulu mereka atau kelompok-kelompok radikal belajar lewat internet masih sendiri melalui Google maka kini sudah dapat menggunakan guru melalui kelas online.

“Kalau pertama kan mereka masih baca sendiri, di doktrin melalui tulisan, nah kalau sekarang didoktrin melalui pengajaran dan itu jarak jauh, itu tentunya selangkah lebih maju. Jadi perlu kita waspadai munculnya generasi kelompok radikal yang hasil dari didikan doktrinasi jarak jauh melalui kelas online itu,” ujarnya.

Sementara itu, pria yang meraih gelar Master dari Universitas Ulum Islamiyah Wal Arabiyah Damaskus, Suriah ini pun menyampaikan bahwa perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda agama atau berbeda paham dengan kita.

“Dengan berpikir moderat, kita akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda dengan kita. Kalau mereka yang radikal itu dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia. Sehingga siapa pun yang berbeda dengan dia dianggap sesat,” katanya.

 


Baca juga:  PPM School of Management Beri Kekeringan Biaya Program Sarjana

 


Oleh karena itu, Direktur Rahmi (Rahmatan Lil Alamin) Center tersebut mendorong kepada pemerintah untuk terus mengerahkan upaya lebih dalam mencegah penyebaran paham radikal terorisme di tengah kemajuan teknologi.

Selain itu, lanjut pria yang pernah menjadi Rais Syuriah NU di Jepang pada 2004-2006 ini, ketika seseorang bisa memahami agamanya dengan baik, maka secara otomatis orang tersebut akan bisa menerima Pancasila itu dengan benar. Hal ini mengingat nilai-nilai Pancasila selaras dengan ajaran Islam.

“Yang terjadi sekarang kan dalam memahami ajaran agama saja mereka banyak memiliki permasalahan dalam memahaminya, sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada miss, ada sesuatu yang hilang dari pemahaman mereka. Inilah kemudian yang memunculkan bibit intoleransi, radikalisme seperti yang terjadi sekarang ini,” ujarnya.

Itulah kenapa, kata Khairi, agama dan Pancasila ini selalu dibenturkan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman keagamaan. Untuk itu perlu bagi para tokoh agama atau para ulama-ulama moderat untuk memberikan pemahaman yang benar. (OL-15)

Baca Juga

Antara/Indrianto Eko Suwarso

Mensos Audit Ketat Vendor Penyedia Komoditas Bansos Sembako

👤Ihfa Firdausya 🕔Selasa 14 Juli 2020, 11:20 WIB
Mensos Juliari P. Batubara memastikan adanya monitoring ketat terhadap vendor penyedia komoditas sembako, termasuk dengan menerapkan...
Antara/Adeng Bustomi

MUI: Daging Kurban Boleh Didistribusikan dalam Bentuk Olahan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 14 Juli 2020, 10:50 WIB
Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh mengatakan daging kurban bisa dikelola dengan cara diolah dan diawetkan dalam bentuk...
ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA

KPAI: 106 Siswa di DKI Jakarta Belum Dapat Sekolah

👤Ihfa Firdausya 🕔Selasa 14 Juli 2020, 09:25 WIB
KPAI menyerahkan nama 106 calon siswa yang belum dapat sekolah ke Dinas Pendidikan DKI...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya